Napas Baru di Jantung Kuningan: Kembalinya Car Free Day Rasuna Said sebagai Ikon Rekreasi Jakarta
WartaLog — Suasana Minggu pagi di kawasan Rasuna Said, Jakarta Selatan, kini tak lagi didominasi oleh deru mesin kendaraan dan kepulan asap knalpot yang biasanya menyesakkan. Setelah sempat ditiadakan selama dua pekan untuk menjalani serangkaian evaluasi mendalam, program Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) atau yang lebih populer disebut Car Free Day (CFD) akhirnya kembali menyapa warga Jakarta dengan wajah yang lebih segar dan penuh energi pada Minggu (7/6/2026).
Kembalinya aktivitas publik ini disambut dengan ledakan antusiasme dari masyarakat. Sejak fajar menyingsing pukul 05.30 WIB, lintasan sepanjang 4,4 kilometer tersebut mulai dipadati oleh ribuan orang yang haus akan ruang terbuka hijau di tengah hutan beton Kuningan. Pelaksanaan kali ini terasa jauh lebih semarak, mengingat momentum ini sekaligus menjadi rangkaian menuju peresmian besar yang dijadwalkan bertepatan dengan Hari Ulang Tahun (HUT) Jakarta pada 22 Juni mendatang.
Tragedi Berdarah di Jantung Blok M: Kronologi Lengkap Penganiayaan MHF oleh Selebgram Brunei Woodyrman yang Berujung Maut
Oase di Tengah Hutan Beton Jakarta
Bagi warga Jakarta, kawasan Rasuna Said adalah simbol kesibukan bisnis yang kaku. Namun, setiap hari Minggu pagi, narasi itu berubah total. WartaLog memantau langsung di lokasi, di mana ruas jalan dari arah Menteng menuju Mampang Prapatan maupun sebaliknya tertutup rapat bagi kendaraan bermotor. Sebagai gantinya, jalanan aspal yang luas tersebut bertransformasi menjadi panggung raksasa bagi para pelari, pesepeda, hingga keluarga yang sekadar ingin berjalan santai menghirup udara pagi.
Tidak hanya olahraga modern, nuansa tradisional pun kental terasa. Di salah satu sudut dekat Plaza Festival, suara musik ondel-ondel bersahutan dengan gelak tawa anak-anak yang mencoba permainan lawas. Beberapa warga terlihat sangat lihai menyeimbangkan tubuh di atas egrang, sementara yang lain asyik mengadu gasing di atas aspal. Kehadiran permainan tradisional ini seolah membawa memori masa lalu ke tengah kemajuan infrastruktur Jakarta Selatan.
Momen Hangat di Solo: Rayakan Milad, Jokowi Berbagi Kebahagiaan Bersama Ratusan Tukang Becak
Cerita Warga: Antara Kesehatan dan Hiburan Murah Meriah
Hendri, seorang warga Karet Kuningan, tak mampu menyembunyikan kegembiraannya. Sembari mengusap keringat setelah mencoba egrang, ia mengaku sangat merindukan kehadiran CFD di depan teras rumahnya tersebut. Bagi Hendri, memiliki ruang terbuka tepat di depan mata adalah sebuah kemewahan yang sulit digantikan.
“Senang banget, soalnya ini kan kebetulan rumah dekat sini. Alangkah baiknya setiap seminggu sekali diadakan, soalnya biar sekalian ada hiburan dan olahraga. Mantap nggak tuh?” ujar Hendri dengan nada penuh semangat kepada tim WartaLog. Ia juga menambahkan bahwa CFD Rasuna Said merupakan alternatif cerdas bagi mereka yang sudah merasa jenuh dengan kepadatan di Bundaran HI atau Sudirman.
Manuver Politik Jokowi di Balik Layar: Dorong Prabowo-Gibran Dua Periode, Bagaimana Sikap NasDem?
Senada dengan Hendri, Udin yang juga penduduk lokal merasa bahwa CFD di Kuningan memberikan opsi rekreasi yang lebih variatif. Selama ini, menurutnya, mencari ruang untuk berolahraga yang layak di kawasan perkantoran sangatlah sulit. “Momen-momen kayak gini di Kuningan senang banget karena ada hiburan, olahraga juga kan biasanya susah aksesnya kalau hari kerja,” tuturnya.
Fasilitas Publik Menjadi Catatan Penting
Meskipun sambutan masyarakat luar biasa positif, ada beberapa catatan kritis yang dilontarkan oleh para pengunjung. Ryan, seorang pelari rutin yang biasanya menghabiskan waktu di Gelora Bung Karno (GBK), memilih untuk menjajal rute Rasuna Said demi mencari suasana baru. Ia memuji rute dari Kedutaan Besar Malaysia hingga Setiabudi yang menantang namun tetap nyaman.
Namun, Ryan menitikberatkan pada pentingnya penyediaan fasilitas umum yang memadai, terutama toilet. “Sebenarnya toilet sih yang paling krusial. Susah nemunya kalau lagi kebelet. Kalau harus masuk ke stasiun LRT, kita harus melakukan tap-in kartu dulu, itu kan ribet. Jadi, pemerintah harus benar-benar menyediakan toilet portabel di sepanjang jalur CFD ini,” harap Ryan.
Pramono Anung: Rasuna Said Akan Menjadi Landmark Baru
Di tengah kerumunan massa, tampak hadir Gubernur Jakarta, Pramono Anung, yang turun langsung memantau jalannya kegiatan. Tak sendirian, ia terlihat didampingi oleh Wali Kota Jakarta Selatan Munjirin, selebritas Cinta Laura, serta Ketua KOI Raja Sapta Oktohari. Kehadiran para tokoh ini menambah daya tarik tersendiri bagi warga yang berebut untuk berswafoto.
Pramono Anung menyatakan keyakinannya bahwa CFD Rasuna Said memiliki potensi besar untuk menjadi landmark baru bagi pariwisata dan gaya hidup sehat di Jakarta. Salah satu keunggulan utamanya adalah aksesibilitas yang jauh lebih baik dibandingkan lokasi lainnya. Dengan adanya integrasi moda transportasi seperti TransJakarta dan LRT Jakarta, warga dari Bekasi maupun Cibubur bisa dengan sangat mudah menjangkau lokasi ini.
“Di tempat ini saya meyakini karena aksesnya lebih gampang. LRT dari Bekasi maupun Cibubur bisa langsung sampai di sini, sehingga akses dari luar Jakarta sangat gampang. View-nya bagus, udaranya segar, dan aksesnya juara. Ini pasti akan menjadi ikon baru untuk Car Free Day di Jakarta,” jelas Pramono Anung di sela-sela kegiatannya menyapa warga.
Komitmen Pemerintah Berdasarkan Suara Rakyat
Berdasarkan hasil interaksi langsung dan survei singkat di lapangan, Gubernur mengungkapkan bahwa mayoritas warga atau sekitar 95 persen menginginkan agar agenda CFD Rasuna Said dijadikan kegiatan rutin mingguan. Dukungan masif ini menjadi modal kuat bagi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk terus menyempurnakan penyelenggaraannya.
Adapun 5 persen sisanya yang memberikan keluhan, lebih menyoroti masalah teknis pembangunan yang belum sepenuhnya rampung. Pramono mengakui bahwa di sisi timur jalan, proses penataan pedestrian dan penanaman pohon pelindung memang masih berjalan. Targetnya, seluruh pengerjaan fisik akan selesai sebelum peresmian resmi pada 22 Juni nanti.
Selain infrastruktur, masalah kebersihan dan penataan pedagang kaki lima (PKL) juga menjadi perhatian serius. Pramono telah menginstruksikan jajarannya, termasuk Kepala Dinas Perhubungan Syafrin Liputo, untuk menjaga agar jalur utama CFD tetap bersih dari aktivitas dagang yang mengganggu kenyamanan pelari. “Kami ingin pendekatannya lebih soft. Tidak boleh ada yang berdagang di jalur utama, tapi penataannya harus dilakukan dengan cara yang manusiawi tanpa menimbulkan polemik di ruang publik,” tutupnya.
Dengan antusiasme yang terus membumbung, CFD Rasuna Said bukan sekadar program penutupan jalan, melainkan simbol kebangkitan ruang publik yang inklusif di Jakarta. Warga kini menanti akankah kawasan ini benar-benar mampu konsisten menjadi oase sehat di tengah kepungan gedung pencakar langit.