Strategi Himbara Perkuat Rupiah: Ajukan Syarat Likuiditas Yuan ke Bank Indonesia demi Sukseskan Local Currency Trade
WartaLog — Di tengah fluktuasi pasar global yang kian dinamis, stabilitas nilai tukar Rupiah kembali menjadi sorotan tajam. Langkah-langkah strategis mulai dirancang oleh para pemangku kebijakan dan institusi keuangan negara guna membentengi mata uang Garuda dari tekanan eksternal yang masif. Salah satu upaya paling krusial yang kini tengah digodok adalah optimalisasi skema Local Currency Trade (LCT) atau perdagangan menggunakan mata uang lokal, khususnya antara Indonesia dan China.
Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) menyatakan kesiapannya untuk berada di garda terdepan dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Namun, kesiapan ini bukan tanpa syarat. Perbankan pelat merah ini menekankan perlunya dukungan penuh atau ‘back-up’ seratus persen dari bank sentral dalam hal penyediaan likuiditas mata uang asing selain dolar AS, dalam hal ini adalah Yuan (CNY).
KRISTAInterFOOD 2026: Strategi Besar UMKM Kuliner Indonesia Menembus Pasar Global Melalui Panggung Internasional
Tekanan Dolar dan Urgensi Skema LCT
Situasi pasar keuangan saat ini memang sedang tidak biasa. Berdasarkan data perdagangan pada Selasa, 2 Juni 2026, posisi kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan angka yang cukup mengkhawatirkan, yakni ditutup di level Rp 17.839. Angka ini mencerminkan betapa besarnya ketergantungan pasar domestik terhadap greenback, yang pada gilirannya menciptakan kerentanan ekonomi saat kebijakan moneter AS mengetat.
Menyikapi hal tersebut, Putrama Wahju Setyawan, yang bertindak sebagai perwakilan Himbara sekaligus Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI), membawa aspirasi perbankan negara ke hadapan legislatif. Dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) terkait P2SK bersama Komisi XI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, ia memaparkan visi Himbara untuk mengalihkan ketergantungan transaksi internasional ke mata uang lokal.
Strategi Ketahanan Energi: Indonesia Resmi Boyong 150 Juta Barel Minyak Rusia demi Amankan Stok Nasional
Menurut Putrama, mekanisme local currency trade menjadi solusi logis mengingat besarnya volume perdagangan antara Indonesia dan China. Dengan menggunakan mata uang masing-masing negara, tekanan terhadap permintaan dolar AS di pasar domestik dapat diredam secara signifikan, yang secara otomatis akan membantu stabilisasi rupiah.
Syarat Mutlak: Likuiditas Yuan yang Terjamin
Meski skema LCT terlihat menjanjikan di atas kertas, implementasinya di lapangan memerlukan dukungan infrastruktur moneter yang kokoh. Putrama mengungkapkan bahwa dirinya telah menyampaikan permohonan khusus kepada Deputi Gubernur Bank Indonesia, Thomas Djiwandono. Inti dari permohonan tersebut adalah jaminan ketersediaan likuiditas.
“Ada sebuah syarat yang saya sampaikan kepada Pak Thomas Djiwandono, yaitu bahwa bank di dalam negeri nanti yang akan terlibat dalam LCT ini, membutuhkan 100% dukungan likuiditas CNY atau Yuan dari Bank Indonesia,” tegas Putrama. Pernyataan ini menegaskan bahwa tanpa pasokan likuiditas yang memadai dari bank sentral, bank pelaksana akan menghadapi risiko operasional yang tinggi saat melayani transaksi perdagangan internasional berskala besar.
Waspada Penipuan Lowongan Kerja IKN, Otorita Ingatkan Masyarakat Tidak Terjebak Hoaks
Dukungan likuiditas ini menjadi krusial karena bank harus memastikan bahwa setiap permintaan Yuan dari pelaku usaha untuk keperluan impor atau investasi dapat dipenuhi secara instan tanpa harus mencari di pasar global yang mungkin lebih mahal atau tidak stabil. Dengan jaminan dari BI, Himbara dapat lebih percaya diri dalam mempromosikan penggunaan Yuan kepada nasabah korporasi mereka.
Sinergi Tiga Otoritas Moneter Regional
Pengembangan skema LCT antara Indonesia dan China bukanlah proyek sederhana yang dijalankan satu arah. Putrama menjelaskan bahwa inisiatif ini akan melibatkan kolaborasi erat antara tiga otoritas moneter besar di kawasan Asia. Selain Bank Indonesia, kerja sama ini juga menggandeng People’s Bank of China (Bank Sentral China) dan Hong Kong Monetary Authority (Bank Sentral Hong Kong).
Keterlibatan Hong Kong dianggap strategis karena wilayah tersebut merupakan salah satu pusat keuangan global dengan likuiditas Yuan (offshore) terbesar di dunia. Dengan menyatukan kekuatan dari tiga otoritas ini, diharapkan tercipta sebuah ekosistem transaksi yang efisien, aman, dan kompetitif.
“Kita memahami bahwa transaksi kita dengan China sangat besar. Oleh karena itu, pengembangan LCT ini tidak hanya melibatkan BI dan Sentral Bank China, tetapi juga Sentral Bank Hong Kong agar proses kliring dan penyediaan likuiditas bisa berjalan lebih lancar,” tambah Putrama dalam paparannya di hadapan anggota dewan.
Tren Positif dan Masa Depan Dedolarisasi
Langkah Himbara ini sejalan dengan tren yang telah dipetakan oleh Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo. Dalam berbagai kesempatan, Perry menyebutkan bahwa penggunaan mata uang lokal dalam investasi bilateral dan perdagangan terus menunjukkan tren yang sangat positif. Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa pelaku usaha mulai melihat keuntungan dari diversifikasi mata uang.
Data mencatat bahwa nilai transaksi LCT antara Indonesia dan China pada tahun lalu telah menembus angka lebih dari US$ 25 miliar. Tren ini tidak melambat, bahkan pada tahun berjalan, rata-rata transaksi bulanan telah mencapai kisaran US$ 3,7 miliar. Angka-angka ini menunjukkan potensi besar yang masih bisa digarap jika hambatan likuiditas dapat diatasi sepenuhnya.
Bank Indonesia sendiri telah bekerja keras memfasilitasi kebutuhan ini dengan bekerja sama dengan sejumlah bank Appointed Cross Currency Dealer (ACCD). Saat ini, masyarakat dan pelaku dunia usaha sudah memiliki akses untuk melakukan berbagai jenis transaksi menggunakan Yuan di dalam negeri, mulai dari transaksi spot, swap, hingga forward.
Dampak bagi Pelaku Ekonomi Nasional
Implementasi LCT yang didukung penuh oleh likuiditas bank sentral akan memberikan dampak domino yang positif bagi perekonomian nasional. Bagi para importir yang mendatangkan bahan baku dari China, penggunaan Yuan akan memangkas biaya konversi ganda (dari Rupiah ke Dolar, lalu ke Yuan). Hal ini secara langsung dapat meningkatkan efisiensi biaya produksi.
Di sisi lain, bagi eksportir, kepastian nilai tukar dalam skema LCT memberikan perlindungan lebih baik terhadap volatilitas dolar AS. Dengan stabilitas biaya yang lebih terjaga, daya saing produk Indonesia di pasar internasional, khususnya di Negeri Tirai Bambu, akan semakin meningkat.
Upaya Himbara dan Bank Indonesia ini merupakan langkah nyata menuju kedaulatan moneter. Dengan mengurangi ketergantungan pada satu mata uang dominan, ekonomi Indonesia diharapkan menjadi lebih resilien dalam menghadapi guncangan ekonomi global yang sering kali bersumber dari kebijakan moneter negara-negara Barat.
Melalui pengajuan syarat likuiditas 100% ini, Himbara mengirimkan pesan jelas bahwa sinergi antara otoritas moneter dan sektor perbankan adalah kunci utama untuk menjaga marwah Rupiah di kancah perdagangan internasional. Kini, bola berada di tangan Bank Indonesia untuk merespons permintaan tersebut demi masa depan ekonomi yang lebih stabil.