Membaca Arah Kebijakan Ekonomi Prabowo: Di Balik Narasi ‘Rakyat Desa Tak Pakai Dolar’ dan Ketangguhan Fundamental RI

Akbar Silohon | WartaLog
18 Mei 2026, 17:17 WIB
Membaca Arah Kebijakan Ekonomi Prabowo: Di Balik Narasi 'Rakyat Desa Tak Pakai Dolar' dan Ketangguhan Fundamental RI

WartaLog — Di tengah gempuran ketidakpastian ekonomi global yang memicu fluktuasi nilai tukar mata uang, sebuah pernyataan dari Presiden RI Prabowo Subianto mendadak menjadi sorotan publik. Dalam sebuah kesempatan formal, Presiden melontarkan kalimat yang cukup provokatif sekaligus menenangkan: bahwa rakyat di pedesaan sebenarnya tidak terlalu terbebani oleh hiruk-pikuk penguatan dolar Amerika Serikat (AS). Pernyataan ini muncul di saat nilai tukar rupiah melemah hingga menyentuh angka Rp 17.500 per dolar AS, sebuah angka yang bagi sebagian pengamat ekonomi dianggap sebagai sinyal waspada.

Namun, di mata Kamrussamad, Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi Gerindra, ucapan Presiden tersebut bukanlah sekadar gurauan atau upaya menghibur rakyat semata. Sebaliknya, ia memandangnya sebagai sebuah penegasan filosofis mengenai kondisi riil fundamental ekonomi Indonesia yang tetap kokoh meski dihantam badai eksternal. Menurut Kamrussamad, pesan yang ingin disampaikan Presiden adalah bahwa kemandirian ekonomi domestik Indonesia telah memiliki bantalan yang cukup kuat untuk meredam dampak volatilitas mata uang asing.

Read Also

Inovasi Ketahanan Pangan di Balik Jeruji: Sekjen Kemenimipas Puji Kemandirian Lapas Garut sebagai Role Model Nasional

Inovasi Ketahanan Pangan di Balik Jeruji: Sekjen Kemenimipas Puji Kemandirian Lapas Garut sebagai Role Model Nasional

Filosofi ‘Dolar di Desa’ dan Resiliensi Ekonomi Lokal

Dalam keterangannya pada Senin (18/5/2026), Kamrussamad menekankan bahwa pidato Presiden Prabowo tersebut sangat tepat waktu. Saat dolar AS menunjukkan dominasinya terhadap hampir seluruh mata uang dunia, Indonesia justru menunjukkan ketenangan yang didasari oleh fakta-fakta di lapangan. Ia menjelaskan bahwa struktur ekonomi masyarakat pedesaan Indonesia lebih banyak bertumpu pada perputaran komoditas lokal dan transaksi sektor riil yang tidak bersentuhan langsung dengan kebutuhan devisa.

“Presiden ingin menegaskan bahwa penguatan dolar AS tidak akan memberikan dampak yang melumpuhkan bagi perekonomian rakyat kecil, terutama di daerah-daerah. Mengapa? Karena Indonesia saat ini memiliki fundamental ekonomi yang jauh lebih kuat dibandingkan periode-periode krisis sebelumnya,” ungkap Kamrussamad. Ia menambahkan bahwa fokus pemerintah saat ini adalah memastikan daya beli masyarakat tetap terjaga melalui stabilitas harga pangan dan ketersediaan energi di tingkat lokal.

Read Also

Beasiswa ke China untuk Josepha: Akhir Manis dari Kontroversi LCC Empat Pilar MPR

Beasiswa ke China untuk Josepha: Akhir Manis dari Kontroversi LCC Empat Pilar MPR

Konteks pernyataan Prabowo ini berawal saat peresmian 1.062 Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih. Sambil berseloroh, Presiden menyebut bahwa selama Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa masih bisa tersenyum, maka kondisi ekonomi masih dalam kendali penuh. Narasi ini seolah ingin memutus rantai kepanikan pasar (panic buying) yang seringkali terjadi saat nilai tukar rupiah mengalami tekanan hebat.

Memperkuat Neraca Perdagangan Melalui Diplomasi Global

Lebih lanjut, Kamrussamad memaparkan bahwa kekuatan ekonomi Indonesia saat ini tidak datang begitu saja. Ada strategi besar di balik layar yang dijalankan oleh pemerintahan Prabowo selama 18 bulan terakhir. Salah satu pilar utamanya adalah penguatan neraca perdagangan melalui pengendalian impor yang ketat dan dorongan ekspor yang agresif.

Read Also

Panduan Lengkap Cek Lokasi Bank Sampah Jakarta Online: Cara Cerdas Kelola Limbah Jadi Berkah

Panduan Lengkap Cek Lokasi Bank Sampah Jakarta Online: Cara Cerdas Kelola Limbah Jadi Berkah

Selama masa jabatan Presiden Prabowo, neraca perdagangan Indonesia secara konsisten mencatatkan angka positif. Strategi ini dilakukan dengan cara:

  • Meningkatkan daya saing produk manufaktur dan komoditas unggulan di pasar internasional.
  • Memastikan nilai ekspor selalu lebih besar dibandingkan nilai impor, guna menjaga cadangan devisa tetap stabil.
  • Melakukan restrukturisasi industri dalam negeri agar tidak terlalu bergantung pada bahan baku impor yang harganya dipengaruhi dolar.

Untuk memperluas jangkauan pasar, Presiden Prabowo secara aktif terjun langsung dalam negosiasi perdagangan internasional. Kamrussamad mencatat bahwa dalam kurun waktu satu setengah tahun, Indonesia telah berhasil menandatangani serangkaian perjanjian dagang strategis yang menguntungkan para eksportir nasional. Perjanjian tersebut meliputi kerja sama dengan Uni Eropa (EU CEPA), Peru, Amerika Serikat, Kanada, hingga kawasan Eurasia. Langkah ini dianggap sebagai manuver brilian untuk mengurangi ketergantungan pada satu pasar tunggal dan mendiversifikasi sumber pendapatan negara.

Akselerasi Swasembada: Pangan dan Energi Sebagai Perisai

Salah satu poin krusial yang membuat fundamental ekonomi Indonesia sulit digoyahkan adalah pencapaian di sektor swasembada. Di bawah kepemimpinan Prabowo, Indonesia tidak hanya bermimpi, tetapi telah mewujudkan kemandirian di berbagai sektor pangan strategis. Kamrussamad memaparkan daftar panjang keberhasilan pemerintah dalam menjamin kedaulatan pangan nasional.

“Di era Presiden Prabowo, kita menyaksikan sejarah baru. Indonesia berhasil mencapai swasembada pangan yang komprehensif, mulai dari beras, jagung, gula konsumsi, hingga komoditas bumbu-bumbuan seperti cabai dan bawang merah. Bahkan untuk protein hewani, kita sudah mandiri di sektor daging dan telur ayam,” imbuhnya dengan nada optimistis. Dengan ketersediaan pangan yang melimpah dari dalam negeri, tekanan inflasi yang biasanya dipicu oleh pangan impor dapat ditekan seminimal mungkin.

Tak hanya berhenti di sektor perut, sektor energi pun menjadi fokus utama. Pemerintah tengah memacu program swasembada Bahan Bakar Minyak (BBM). Melalui program ambisius B50 (campuran biodiesel 50%), Indonesia berupaya memangkas impor solar secara drastis. Selain itu, pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan target 100 GW menjadi bukti komitmen pemerintah terhadap energi bersih sekaligus kemandirian energi.

Proyeksi Masa Depan dan Kemandirian Gas Nasional

Ke depan, pemerintah juga telah merancang peta jalan untuk swasembada gas melalui program Dimethyl Ether (DME) dan optimalisasi Compressed Natural Gas (CNG). Langkah-langkah ini diambil untuk menggantikan peran Elpiji impor yang selama ini membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akibat fluktuasi harga minyak dunia dan nilai tukar dolar.

Dengan semua indikator tersebut, wajar jika legislatif memberikan apresiasi terhadap ketenangan Presiden dalam menghadapi dinamika mata uang. Kebijakan ekonomi yang berorientasi pada penguatan sektor domestik dianggap sebagai kunci utama mengapa Indonesia tetap berdiri tegak di saat negara-negara lain mulai limbung akibat ketergantungan terhadap dolar.

Sebagai penutup, Kamrussamad mengingatkan bahwa tantangan global memang akan selalu ada. Namun, dengan struktur ekonomi yang berakar kuat pada potensi lokal—seperti yang tercermin dalam keberadaan ribuan Kopdes Merah Putih—Indonesia memiliki daya tahan yang unik. Dolar boleh saja meroket di pasar spot New York, namun selama lumbung desa penuh dan roda ekonomi lokal berputar, kedaulatan ekonomi bangsa tetap berada di tangan sendiri.

Narasi ‘orang desa tidak pakai dolar’ pun akhirnya terbaca bukan sebagai pengabaian terhadap realitas pasar, melainkan sebuah pernyataan kedaulatan. Bahwa Indonesia, dengan segala kekayaan alam dan manajemen ekonomi yang tepat, mampu menciptakan ekosistem yang relatif imun terhadap guncangan eksternal. Sebuah optimisme yang diharapkan dapat menular ke seluruh lapisan masyarakat agar tetap fokus pada produktivitas dalam negeri.

Akbar Silohon

Akbar Silohon

Hi, saya senang berbagi berita terupdate.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *