Restorasi Paru-Paru Riau: Revolusi ‘Green Policing’ Kombes Eko Budhi Purwono dalam Melindungi Hutan

Akbar Silohon | WartaLog
29 Apr 2026, 11:17 WIB
Restorasi Paru-Paru Riau: Revolusi 'Green Policing' Kombes Eko Budhi Purwono dalam Melindungi Hutan

WartaLog — Di balik rimbunnya hutan tropis Riau yang menyimpan kekayaan biodiversitas luar biasa, tersimpan sebuah tantangan besar mengenai kelangsungan hidup ekosistemnya. Selama berpuluh-puluh tahun, aktivitas ilegal logging dan perusakan hutan menjadi momok yang sulit diberantas hanya dengan pendekatan hukum represif. Namun, sebuah angin perubahan berhembus dari Markas Polda Riau melalui tangan dingin Direktur Pembinaan Masyarakat (Dirbinmas), Kombes Pol Eko Budhi Purwono.

Kombes Eko tidak hanya datang dengan lencana otoritas, melainkan membawa paradigma baru bertajuk Green Policing. Sebuah konsep yang tidak hanya berfokus pada penangkapan pelaku kejahatan lingkungan, tetapi menyentuh akar masalah yang paling mendasar: pola pikir masyarakat. Upayanya dalam mengedukasi dan memberdayakan warga lokal di kawasan penyangga hutan kini membuahkan hasil nyata, hingga sosoknya diusulkan oleh masyarakat sebagai kandidat penerima Hoegeng Awards 2026.

Read Also

Gus Ipul Bergerak Cepat, Tinjau Fasilitas LAN untuk Transformasi Sekolah Rakyat

Gus Ipul Bergerak Cepat, Tinjau Fasilitas LAN untuk Transformasi Sekolah Rakyat

Transformasi Ekonomi di Jantung Suaka Margasatwa

Dody Rasyid Amin, seorang penggerak lingkungan sekaligus Founder Subayang Festival Riau, menjadi salah satu saksi hidup bagaimana pendekatan Kombes Eko bekerja di lapangan. Dody menceritakan realitas pahit di wilayah Kampar Kiri Hulu, sebuah kawasan suaka margasatwa yang mencakup sepuluh desa terisolasi. Di sana, ketiadaan akses listrik, internet, dan infrastruktur jalan yang memadai membuat pendidikan menjadi barang mewah.

“Kesempatan kerja sangat terbatas bagi pemuda di sini. Akibatnya, banyak dari mereka yang terpaksa terjun ke dalam aktivitas penebangan liar hanya untuk menyambung hidup,” ungkap Dody. Keadaan mulai berubah saat Kombes Eko hadir di tengah masyarakat, bukan untuk menghakimi, melainkan untuk mendengar. Melalui dialog yang hangat, terungkap bahwa masyarakat sebenarnya mencintai hutan mereka, namun tuntutan perut seringkali berbicara lebih keras.

Read Also

Ketegangan Timur Tengah 2026: Dari Penolakan Proposal Trump hingga Keretakan Aliansi Teluk

Ketegangan Timur Tengah 2026: Dari Penolakan Proposal Trump hingga Keretakan Aliansi Teluk

Kombes Eko memahami bahwa untuk menghentikan gergaji mesin, ia harus memberikan alat lain di tangan para pemuda. Melalui inisiatifnya, puluhan pemuda setempat diberikan pelatihan kerja secara profesional. Mereka tidak lagi dibiarkan bergantung pada hasil hutan secara ilegal, melainkan dipersiapkan untuk memasuki dunia kerja formal dengan keterampilan yang mumpuni.

Memutus Tradisi Pembukaan Lahan Lewat Edukasi

Salah satu fakta mengejutkan yang ditemukan di pedalaman Kampar adalah tradisi turun-temurun yang berkaitan dengan pernikahan. Dody mengungkap bahwa setiap pasangan yang baru menikah secara adat biasanya akan membuka lahan hutan seluas dua hektare sebagai modal awal kehidupan. Jika dalam satu tahun terdapat puluhan pasangan yang menikah di sepuluh desa, maka ratusan hektare hutan suaka margasatwa akan lenyap dalam sekejap.

Read Also

Bayar Pajak Kendaraan di Jabar Kini Lebih Praktis, Tak Perlu KTP Pemilik Asli Lagi

Bayar Pajak Kendaraan di Jabar Kini Lebih Praktis, Tak Perlu KTP Pemilik Asli Lagi

“Bayangkan jika ini dibiarkan terus-menerus. Suaka margasatwa seluas 140 ribu hektare itu hanya tinggal menunggu waktu untuk habis,” tegas Dody. Di sinilah Kombes Eko masuk dengan pendekatan Green Policing. Ia memberikan edukasi mendalam mengenai dampak jangka panjang dari deforestasi dan menawarkan solusi alternatif untuk mata pencaharian.

Kombes Eko bahkan memfasilitasi 60 pemuda setempat untuk mengikuti pelatihan satuan pengamanan (Satpam) secara gratis. Langkah ini sangat berarti bagi warga, mengingat biaya pendidikan formal serupa bisa mencapai jutaan rupiah. Dengan menjadi tenaga pengamanan profesional di perusahaan-perusahaan, para pemuda ini kini memiliki penghasilan tetap tanpa harus merusak lingkungan.

Lahirnya Duta Green Policing dan Kader Pelestari

Para pemuda yang telah lulus pelatihan tidak hanya dilepas begitu saja ke dunia kerja. Mereka diberikan tanggung jawab moral sebagai ‘Duta Green Policing’. Tugas mereka adalah menjadi perpanjangan tangan kepolisian dalam mensosialisasikan pentingnya menjaga kelestarian alam kepada komunitas masing-masing. Mereka menjadi bukti nyata bahwa ada jalan keluar ekonomi selain merambah hutan.

Program ini mendapat apresiasi luas, termasuk dari Hengky Primana, Ketua Persatuan Hijau Riau. Menurutnya, dedikasi Kombes Eko selaras dengan visi Kapolda Riau dalam mengimplementasikan kelestarian lingkungan sebagai bagian dari tugas kepolisian. “Pak Eko memiliki kemampuan pendekatan yang luar biasa, terutama kepada generasi muda dan siswa-siswa sekolah melalui program Green School Academy,” jelas Hengky.

Menghidupkan Kembali Kearifan Lokal melalui Dubalang

Di wilayah Kuantan Singingi (Kuansing), tantangan yang dihadapi berbeda lagi, yakni maraknya pertambangan emas tanpa izin (PETI). Penegakan hukum di wilayah ini seringkali berujung pada konflik horizontal antara aparat dan warga. Namun, Kombes Eko memilih jalan yang lebih bijaksana dengan menghidupkan kembali kearifan lokal melalui program Dubalang Batang Kuantan.

Dubalang, yang dalam tradisi Minang dan Melayu berarti penjaga keamanan nagari, dilibatkan secara aktif dalam menjaga ketertiban masyarakat (Kamtibmas). Dengan melibatkan tokoh adat dan pemuda setempat sebagai Dubalang, penertiban tambang ilegal dilakukan dengan cara persuasif. Masyarakat diajak untuk saling menjaga sesama warga agar tidak melakukan aktivitas yang merugikan lingkungan dan hukum.

Inspirasi dari Sejarah dan Kejayaan Masa Lalu

Kombes Eko Budhi Purwono, yang menjabat sebagai Dirbinmas sejak April 2025, mengaku banyak belajar dari keluhan masyarakat secara langsung. Baginya, tugas di bidang Binmas adalah tentang membangun kepercayaan dan kemitraan. Ia seringkali mengutip sejarah kejayaan Kerajaan Siak yang sangat peduli pada kesejahteraan rakyat dan kemerdekaan Indonesia sebagai inspirasi dalam menjalankan tugasnya di Riau.

“Riau memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Namun, keseimbangan alam ini mulai bergeser. Konsep Green Policing yang diinisiasi oleh Bapak Kapolda adalah jawaban atas masalah tersebut. Kami di lapangan bertugas menerjemahkannya agar menyentuh hati masyarakat,” kata Kombes Eko dalam sebuah kesempatan dialog.

Keberhasilan Kombes Eko bukan diukur dari berapa banyak orang yang ia jebloskan ke penjara, melainkan dari berapa banyak hektare hutan yang berhasil diselamatkan dan berapa banyak warga yang kini beralih profesi menjadi penjaga alam. Dengan semangat pelayanan masyarakat yang tulus, ia membuktikan bahwa polisi bisa menjadi sahabat sejati bagi alam dan manusia sekaligus.

Di masa depan, harapan besar disematkan pada program-program berkelanjutan seperti Green School Academy yang melibatkan Ketua OSIS se-Riau. Dengan menanamkan kesadaran lingkungan sejak dini, Kombes Eko sedang menyiapkan generasi masa depan Riau yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki integritas dalam menjaga warisan alam nusantara.

Akbar Silohon

Akbar Silohon

Hi, saya senang berbagi berita terupdate.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *