Potret Kelam Stasiun Mampang: Jejak Sejarah Perkeretaapian Jakarta yang Kini Terlupakan

Citra Lestari | WartaLog
21 Apr 2026, 07:19 WIB
Potret Kelam Stasiun Mampang: Jejak Sejarah Perkeretaapian Jakarta yang Kini Terlupakan

WartaLog — Di tengah pesatnya modernisasi transportasi di Jakarta, sebuah pemandangan kontras tersaji di antara hiruk-pikuk Stasiun Manggarai dan Stasiun Sudirman. Stasiun Mampang, yang dulunya merupakan bagian penting dari rute sejarah perkeretaapian di ibu kota, kini berdiri kesepian sebagai saksi bisu yang terbengkalai dan tak terurus.

Saksi Bisu di Jantung Kota

Terletak tepat di sisi utara Jalan Latuharhary, Menteng, Jakarta Pusat, stasiun ini seolah terhimpit oleh kerasnya perkembangan kota. Akses masuknya yang kini terbuka lebar tanpa pagar pembatas membuat siapa saja bisa melenggang masuk ke area yang seharusnya menjadi kawasan terbatas. Berbatasan langsung dengan aliran Kali Ciliwung, keberadaan Stasiun Mampang kini lebih menyerupai reruntuhan daripada fasilitas publik.

Read Also

Misi Strategis di Tiongkok: Indonesia Gandeng Longi Green Energy Demi Ambisi Surya Nasional

Misi Strategis di Tiongkok: Indonesia Gandeng Longi Green Energy Demi Ambisi Surya Nasional

Pantauan tim di lapangan menunjukkan kondisi yang sangat memprihatinkan. Area yang dulu sibuk dengan hilir mudik penumpang, kini justru dipenuhi tumpukan sampah yang berserakan. Bau tak sedap dan suasana kumuh seakan telah menyatu dengan sisa-sisa bangunan yang masih berdiri.

Reruntuhan Beton dan Vandalisme

Bangunan kecil yang dulunya berfungsi sebagai loket tiket kini hanya menyisakan kerangka beton yang kusam. Tanpa atap dan tanpa jendela, dinding-dindingnya telah menjadi kanvas bagi aksi vandalisme yang tak beraturan. Nama “Mampang” yang masih tertera pada sebuah tiang tua tampak memudar, seolah memberi tahu bahwa tempat ini pernah memiliki arti penting bagi transportasi Jakarta di masa lalu.

Read Also

Catatan Kritis DPR RI atas Mudik 2026: Dari Urusan Buffer Zone hingga Deadline Perbaikan Jalan

Catatan Kritis DPR RI atas Mudik 2026: Dari Urusan Buffer Zone hingga Deadline Perbaikan Jalan

Meski bangunan fisiknya sudah mati, jalur rel di hadapannya masih sangat bernafas. Setiap harinya, rangkaian KRL Commuter Line modern melintas dengan cepat, bahkan sesekali terhenti sejenak di depan peron Stasiun Mampang untuk menunggu sinyal masuk ke stasiun berikutnya. Kontras antara kemajuan teknologi kereta api dan kondisi stasiun ini sungguh terasa nyata.

Kendala Teknis dan Masa Depan yang Suram

Secara teknis, menghidupkan kembali Stasiun Mampang bukanlah perkara mudah. Bangunan yang telah ada sejak era kolonial Belanda ini memiliki desain peron yang jauh dari standar pelayanan kereta api modern. Tinggi peronnya yang rendah hanya mencapai batas roda besi kereta, sehingga sangat mustahil bagi penumpang untuk naik atau turun dengan aman.

Read Also

Tensi Panas di Selat Hormuz: Harga Minyak Dunia Meroket Pasca Serangan Kapal Komersial

Tensi Panas di Selat Hormuz: Harga Minyak Dunia Meroket Pasca Serangan Kapal Komersial

Selain masalah ketinggian, panjang peron Stasiun Mampang juga sangat terbatas, diperkirakan hanya mampu menampung sekitar empat gerbong. Hal ini tentu tidak sesuai dengan formasi rangkaian KRL saat ini yang rata-rata menggunakan delapan hingga dua belas gerbong. Belum lagi kondisi permukaan peron yang kini hanya terdiri dari tanah, kerikil, serta puing-puing kaca yang membahayakan.

Keberadaan Stasiun Mampang saat ini hanya menyisakan tanya tentang bagaimana sebuah aset sejarah bisa berakhir setragis ini. Tanpa adanya upaya konservasi atau revitalisasi yang jelas, stasiun ini nampaknya akan tetap menjadi kerangka tua yang perlahan tertimbun sampah di tengah gemerlapnya pusat kota.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *