Gebrakan Trump di Lebanon: Gencatan Senjata 10 Hari yang Picu Gejolak di Kabinet Israel

Akbar Silohon | WartaLog
18 Apr 2026, 07:18 WIB
Gebrakan Trump di Lebanon: Gencatan Senjata 10 Hari yang Picu Gejolak di Kabinet Israel

WartaLog — Langkah diplomatik kilat yang diambil Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, baru-baru ini memicu gelombang reaksi keras, terutama dari dalam internal pemerintahan Israel sendiri. Trump secara mendadak mengumumkan kesepakatan gencatan senjata selama 10 hari antara Israel dan Lebanon, sebuah keputusan yang diklaim lahir setelah dialog intens dengan para pemimpin kedua negara.

Pengumuman tersebut disampaikan Trump melalui platform Truth Social. Ia mengungkapkan telah menjalin komunikasi yang sangat produktif dengan Presiden Lebanon, Joseph Aoun, serta Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Menurut Trump, kedua pemimpin tersebut sepakat untuk meredam senjata mulai pukul 5 sore waktu setempat guna membuka jalan bagi perdamaian yang lebih permanen.

Read Also

Aksi Heroik Personel PJR Polda Banten Selamatkan Balita Kejang yang Tak Punya BPJS

Aksi Heroik Personel PJR Polda Banten Selamatkan Balita Kejang yang Tak Punya BPJS

Kemarahan di Internal Kabinet Israel

Namun, di balik layar diplomasi tersebut, suasana di Yerusalem justru memanas. Sejumlah menteri dalam kabinet keamanan Benjamin Netanyahu dilaporkan meradang. Pasalnya, keputusan krusial tersebut diambil tanpa melalui mekanisme voting atau rapat kabinet yang semestinya.

Berdasarkan laporan yang dihimpun WartaLog dari berbagai sumber internasional, Netanyahu hanya memberikan pengarahan singkat selama beberapa menit melalui telepon kepada jajaran menterinya. Langkah sepihak ini memicu rasa tidak puas di kalangan pejabat senior Israel yang merasa dilangkahi dalam pengambilan keputusan strategis negara.

Kritik tajam juga datang dari kubu oposisi. Yair Lapid, pemimpin oposisi Israel, menyebut bahwa janji-janji pemerintah seringkali tidak sejalan dengan realitas di lapangan. Senada dengan Lapid, Avigdor Lieberman dari Partai Yisrael Beiteinu bahkan melayangkan kritik pedas dengan menyebut gencatan senjata ini sebagai bentuk pengkhianatan terhadap warga Israel di wilayah utara yang selama ini terdampak konflik Lebanon.

Read Also

Cengkeraman Blokade AS: Krisis Ekonomi dan Kecemasan yang Menghantui Rakyat Iran

Cengkeraman Blokade AS: Krisis Ekonomi dan Kecemasan yang Menghantui Rakyat Iran

Strategi Netanyahu dan Zona Penyangga 10 Kilometer

Menanggapi tensi yang meninggi di dalam negerinya, PM Netanyahu segera memberikan klarifikasi. Ia menegaskan bahwa meskipun gencatan senjata berlaku, militer Israel tidak akan menarik diri sepenuhnya. Pasukan Israel akan tetap bersiaga di zona keamanan sejauh 10 kilometer di wilayah Lebanon.

“Kami tetap berada di zona keamanan yang diperluas untuk mencegah infiltrasi dan serangan rudal anti-tank ke komunitas kami,” tegas Netanyahu dalam pernyataan videonya. Ia memandang jeda 10 hari ini sebagai peluang emas untuk mencapai kesepakatan perdamaian bersejarah dengan Beirut, dengan syarat utama tetap pada pelucutan senjata kelompok Hizbullah.

Peringatan Keras Donald Trump: “Cukup Sudah!”

Di sisi lain, Donald Trump menunjukkan sikap yang sangat tegas. Ia memberikan instruksi eksplisit kepada Israel untuk menghentikan seluruh operasi pemboman di Lebanon selama masa gencatan senjata tersebut. Trump menekankan bahwa urusan di Lebanon harus dipisahkan dari ketegangan dengan Iran.

Read Also

Eksodus Politik: Kader NasDem dan Tokoh Nasional Dikabarkan Segera Merapat ke PSI

Eksodus Politik: Kader NasDem dan Tokoh Nasional Dikabarkan Segera Merapat ke PSI

“Israel tidak akan lagi membom Lebanon. Mereka dilarang melakukannya oleh AS. Cukup sudah!” tulis Trump dengan nada bicara yang lugas. Sikap keras ini menandakan keinginan Washington untuk segera menstabilkan situasi di Timur Tengah tanpa kompromi lebih lanjut.

Langkah berani Trump ini kini menaruh beban berat di pundak para pemimpin di kawasan. Apakah jeda 10 hari ini akan menjadi awal dari perdamaian abadi, atau justru hanya menjadi masa tenang sebelum badai berikutnya kembali menerjang?

Akbar Silohon

Akbar Silohon

Hi, saya senang berbagi berita terupdate.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *