Horor Petak Umpet di Setu: Aksi Bejat Pria Mabuk yang Berakhir Tragis di Tangan Warga

Akbar Silohon | WartaLog
26 Mei 2026, 07:17 WIB
Horor Petak Umpet di Setu: Aksi Bejat Pria Mabuk yang Berakhir Tragis di Tangan Warga

WartaLog — Suasana sore yang tenang di kawasan Setu, Tangerang Selatan, mendadak berubah menjadi mencekam ketika seorang pria berinisial A alias R (23) memicu kemarahan kolektif warga setempat. Sebuah insiden yang bermula dari pengaruh alkohol berujung pada dugaan aksi pelecehan seksual terhadap anak-anak di bawah umur, yang dilakukan dengan modus yang sangat licik dan manipulatif.

Sore Kelabu di Kawasan Setu

Peristiwa ini terjadi pada Minggu, 24 Mei 2026, sekitar pukul 16.00 WIB. Saat itu, hujan deras mengguyur wilayah Tangerang, menciptakan suasana yang biasanya digunakan anak-anak untuk bermain di luar rumah. Namun, kegembiraan bocah-bocah tersebut justru dimanfaatkan oleh pelaku untuk melancarkan niat jahatnya. Berdasarkan informasi yang dihimpun oleh tim redaksi, pelaku diduga berada di bawah pengaruh minuman keras saat melancarkan aksinya, yang menambah keresahan terkait tingkat kriminalitas di Tangerang yang dipicu oleh zat adiktif.

Read Also

Tragedi Eksploitasi Anak di Blitar: Siswi SMP Terjebak Prostitusi Bermodus Kerja di Angkringan

Tragedi Eksploitasi Anak di Blitar: Siswi SMP Terjebak Prostitusi Bermodus Kerja di Angkringan

Kemarahan warga tidak terbendung ketika mengetahui bahwa anak-anak di lingkungan mereka menjadi sasaran predator. Kejar-kejaran sempat terjadi sebelum akhirnya pelaku berhasil diringkus oleh massa yang sudah tersulut emosi. Kejadian ini menjadi pengingat keras bagi para orang tua untuk selalu meningkatkan pengawasan anak, terutama saat mereka bermain di ruang publik tanpa pendampingan orang dewasa.

Modus Operandi: Jebakan di Balik Permainan Petak Umpet

Kapolsek Cisauk, AKP Dhady Arsya, memaparkan secara detail bagaimana kronologi awal kejadian yang memilukan ini. Menurut keterangan pihak kepolisian, pelaku A alias R awalnya keluar dari kontrakannya dengan alasan ingin bermain hujan-hujanan. Namun, pengakuan pelaku terkesan tidak masuk akal dan penuh kejanggalan. Ia mengklaim sempat terperosok ke dalam selokan dan terbawa arus hingga sampai ke lokasi kejadian di mana anak-anak sedang bermain.

Read Also

Wujudkan Hunian Layak bagi Penunjang Pendidikan: Proyek Renovasi 10 Ribu Rumah Orang Tua Siswa Sekolah Rakyat Dimulai Juni 2026

Wujudkan Hunian Layak bagi Penunjang Pendidikan: Proyek Renovasi 10 Ribu Rumah Orang Tua Siswa Sekolah Rakyat Dimulai Juni 2026

“Pada pukul 14.00 WIB, terduga pelaku keluar dari kontrakan untuk bermain hujan-hujanan. Ia mengaku terperosok ke dalam selokan hingga terbawa arus,” jelas AKP Dhady Arsya dalam keterangannya kepada media. Sesampainya di lokasi yang dituju arus tersebut, pelaku melihat sekumpulan anak yang tengah asyik bermain air. Alih-alih mencari bantuan, ia justru mendekati mereka dan mengajak bermain petak umpet.

Modus mengajak bermain petak umpet ini diduga kuat hanyalah strategi untuk memisahkan salah satu korban dari kelompoknya. Saat permainan berlangsung, pelaku melancarkan aksi bejatnya dengan mencoba memegang bagian sensitif korban. Beruntung, keberanian korban untuk berteriak sekencang mungkin menjadi penyelamat. Teriakan histeris bocah tersebut seketika memecah kesunyian sore dan mengundang perhatian warga sekitar yang langsung bergerak cepat mencari sumber suara.

Read Also

Ketegangan Selat Hormuz: Iran Berikan Izin Melintas Bagi Armada Tiongkok di Tengah Gejolak Global

Ketegangan Selat Hormuz: Iran Berikan Izin Melintas Bagi Armada Tiongkok di Tengah Gejolak Global

Pelarian yang Gagal dan Aksi Pencurian Ponsel

Sadar bahwa aksinya telah terbongkar, pelaku berupaya melarikan diri dari kejaran massa. Dalam kondisi panik dan diduga masih dalam pengaruh alkohol, pelaku sempat memasuki salah satu rumah warga di sekitar lokasi. Bukannya menyerahkan diri, ia justru sempat mengambil sebuah unit ponsel milik warga sebelum akhirnya kembali dikejar oleh warga yang geram.

“Sebelum tertangkap, pelaku sempat masuk ke rumah warga dan melakukan aksi pencurian ponsel. Namun, warga yang sudah waspada berhasil mengejar dan mengepungnya,” tambah AKP Dhady. Pelarian A alias R berakhir di tangan massa yang sudah tidak dapat menahan amarah. Pelaku sempat menjadi bulan-bulanan warga sebelum pihak berwajib tiba di lokasi untuk melakukan pengamanan.

Langkah Tegas Kepolisian dan Kondisi Terkini Pelaku

Petugas dari Polsek Cisauk yang menerima laporan segera menuju Tempat Kejadian Perkara (TKP). Saat tiba, polisi mendapati pelaku sudah dalam kondisi babak belur akibat amuk massa yang emosional. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan dan demi tegaknya hukum, petugas segera mengevakuasi pelaku dari kepungan warga dan membawanya ke kantor polisi.

Mengingat luka-luka yang diderita akibat amukan warga, pihak kepolisian terlebih dahulu membawa pelaku ke Puskesmas Keranggan untuk mendapatkan perawatan medis. Setelah kondisinya dinyatakan stabil, pelaku langsung dibawa ke Polsek Cisauk untuk menjalani pemeriksaan intensif terkait dugaan pelecehan seksual dan pencurian yang dilakukannya.

Kasus ini kini sedang didalami lebih lanjut oleh unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA). Polisi juga tengah mengumpulkan bukti-bukti tambahan serta keterangan dari para saksi dan korban untuk memperkuat jeratan hukum bagi pelaku. Ancaman hukuman berat terkait undang-undang perlindungan anak kini menanti pria berusia 23 tahun tersebut.

Pentingnya Kesadaran Kolektif Terhadap Keamanan Lingkungan

Tragedi ini menjadi luka bagi masyarakat Tangerang Selatan, namun di sisi lain menunjukkan betapa solidnya respons masyarakat terhadap ancaman pelecehan seksual anak. Meski demikian, pihak kepolisian tetap mengimbau agar warga tidak main hakim sendiri dan menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada pihak yang berwajib.

Selain itu, edukasi kepada anak-anak mengenai bagian tubuh yang tidak boleh disentuh oleh orang lain menjadi sangat krusial. Peran lingkungan dalam menciptakan ruang yang aman bagi anak-anak harus terus diperkuat. Kita tidak boleh lengah terhadap ancaman yang bisa datang kapan saja, bahkan dalam bentuk permainan yang tampak tidak berbahaya seperti petak umpet.

Melalui peristiwa ini, kita diingatkan kembali bahwa pengaruh miras seringkali menjadi pemicu utama tindakan kriminal yang merugikan orang lain. Ketegasan aparat dalam menindak peredaran miras ilegal serta kesiapsiagaan warga dalam menjaga keamanan lingkungan adalah kunci utama agar kejadian serupa tidak terulang kembali di masa depan. Mari kita bersama-sama menciptakan lingkungan yang ramah anak dan bebas dari segala bentuk kekerasan serta pelecehan.

Akbar Silohon

Akbar Silohon

Hi, saya senang berbagi berita terupdate.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *