Skandal Predator Seksual di Balik Jubah Suci: Eks Pegawai Bongkar Sisi Kelam Pengasuh Ponpes di Pati

Akbar Silohon | WartaLog
08 Mei 2026, 01:19 WIB
Skandal Predator Seksual di Balik Jubah Suci: Eks Pegawai Bongkar Sisi Kelam Pengasuh Ponpes di Pati

WartaLog — Tabir gelap yang menyelimuti sebuah institusi pendidikan agama di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, kini mulai tersingkap lebar. Sebuah pengakuan mengejutkan datang dari seorang saksi kunci berinisial K, yang selama satu dekade menjadi saksi bisu atas tindakan bejat yang dilakukan oleh oknum pendiri sekaligus pengasuh pondok pesantren (ponpes) berinisial AS. Kesaksian ini tidak hanya membuka luka lama, tetapi juga mengungkap bagaimana manipulasi spiritual digunakan untuk menutupi serangkaian aksi kekerasan seksual terhadap para santriwati.

Selama kurun waktu sepuluh tahun, dari 2008 hingga 2018, K bekerja sebagai pegawai di lingkungan pondok tersebut. Namun, apa yang ia saksikan jauh dari gambaran sebuah tempat suci untuk menimba ilmu agama. Di balik dinding-dinding pesantren, ia melihat realita yang memilukan: santriwati yang silih berganti dibawa masuk ke kamar pribadi AS, bahkan hingga bermalam di sana. Pengakuan ini disampaikan K secara terbuka saat mendampingi pengacara kondang Hotman Paris Hutapea di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, baru-baru ini.

Read Also

Polemik Kematian Pasukan PBB di Lebanon: Hizbullah Tepis Tudingan Keras Emmanuel Macron

Polemik Kematian Pasukan PBB di Lebanon: Hizbullah Tepis Tudingan Keras Emmanuel Macron

Kesaksian Eks Pegawai: Sepuluh Tahun Menahan Rahasia Pahit

Bekerja dalam durasi yang cukup lama di lingkaran dalam pesantren membuat K memiliki akses visual terhadap aktivitas keseharian sang pengasuh. Menurut K, pemandangan santriwati yang keluar masuk kamar AS bukanlah hal asing. Ia menceritakan bahwa rutinitas haram tersebut seolah telah menjadi rahasia umum di kalangan tertentu di dalam pondok, namun tidak ada yang berani bersuara karena kuatnya karisma dan otoritas yang dimiliki oleh AS.

“Selama saya berada di pondok itu, pemandangan anak-anak santriwati yang menginap di kamar AS secara bergantian adalah hal yang sering terjadi. Mereka biasanya di sana sampai pagi hari,” ungkap K dengan nada getir. Hal ini menunjukkan adanya pola sistemik yang dilakukan oleh pelaku untuk mengeksploitasi korbannya di bawah naungan otoritas pondok pesantren yang seharusnya menjadi tempat paling aman bagi mereka.

Read Also

Sindikat Obat Keras Ilegal di Gunung Putri Digulung, Polisi Sita Ratusan Butir Barang Bukti

Sindikat Obat Keras Ilegal di Gunung Putri Digulung, Polisi Sita Ratusan Butir Barang Bukti

Lebih lanjut, K mengungkapkan bahwa korban-korban yang dibawa oleh AS mayoritas masih berada di usia sekolah menengah atas (SMA). Fakta ini semakin mempertegas bahwa pelaku memang mengincar remaja putri yang masih dalam posisi rentan dan mudah dikendalikan melalui ancaman atau janji-janji spiritual tertentu.

Manipulasi Spiritual: Jubah Agama sebagai Kedok Kejahatan

Salah satu aspek yang paling mengerikan dari kasus ini adalah bagaimana AS membangun persona sebagai sosok yang sangat religius dan dekat dengan Tuhan untuk memuluskan aksinya. K mengakui bahwa selama ia bekerja dengan AS, ada semacam aura manipulatif yang membuat orang-orang di sekitarnya merasa sedang berhadapan dengan seorang wali atau ulama suci yang maksum.

Read Also

Tragedi Kemanusiaan di Lebanon: 2.387 Warga Tewas Terjebak dalam Pusaran Konflik

Tragedi Kemanusiaan di Lebanon: 2.387 Warga Tewas Terjebak dalam Pusaran Konflik

“Di hati ini seolah-olah mengeluarkan zikir Allah, Allah, Allah saat dekat dengannya. Dia membangun citra seolah-olah dia itu sangat dekat dengan Sang Pencipta,” tutur K. Inilah yang oleh para ahli psikologi disebut sebagai manipulasi spiritual, di mana pelaku menggunakan simbol dan bahasa agama untuk melumpuhkan daya kritis korban serta pengikutnya. Dengan cara ini, tindakan pelecehan yang dilakukan AS seringkali dianggap sebagai bagian dari ‘berkah’ atau ujian spiritual oleh mereka yang sudah terlanjur terhipnotis oleh karismanya.

K kini menyadari bahwa segala bentuk karisma tersebut hanyalah topeng dari sosok yang ia sebut sebagai ‘iblis’. Ia merasa heran sekaligus menyesal mengapa begitu banyak orang, termasuk dirinya di masa lalu, bisa begitu percaya pada sosok yang pada kenyataannya melakukan perbuatan yang sangat bertolak belakang dengan nilai-nilai agama.

Rekam Jejak Kelam Sejak 2008: Warga Sempat Mengepung Ponpes

Ternyata, dugaan perilaku menyimpang AS bukanlah hal baru. Berdasarkan ingatan K, pada tahun 2008 silam, masyarakat di sekitar pondok sempat melakukan aksi demonstrasi besar-besaran. Pemicunya adalah isu miring mengenai adanya santriwati yang hamil akibat ulah AS, bahkan tersiar kabar adanya upaya pengguguran kandungan atau aborsi ilegal.

“Dulu pernah didemo warga situ, katanya ada yang sampai hamil dan digugurkan,” kenang K. Namun, alih-alih mendapatkan sanksi hukum yang menjerat, AS justru berhasil meloloskan diri dari kemarahan massa. Ia sempat mengungsi ke sebuah rumah kontrakan selama kurang lebih empat tahun untuk mendinginkan situasi. Namun, masa ‘pelarian’ itu bukannya digunakan untuk bertobat, melainkan justru menjadi tempat baru untuk melanjutkan aksi bejatnya.

Di rumah kontrakan tersebut, K kembali melihat perempuan yang datang silih berganti setiap malam. Hal ini mengindikasikan bahwa perilaku predator ini sudah bersifat patologis dan menetap dalam waktu yang sangat lama, tanpa ada rasa penyesalan sedikit pun meski sudah pernah ditegur keras oleh lingkungan sosialnya.

Modus Operandi: Dari Salaman Hingga Tindakan Fisik Berlebihan

Selain membawa santriwati ke kamar, K juga kerap menyaksikan interaksi fisik yang tidak wajar dan menjurus pada pelecehan di area terbuka pondok. Salah satu modus yang paling sering dilakukan adalah saat momen bersalaman. AS seringkali memanfaatkan posisi tersebut untuk melakukan kontak fisik yang tidak pantas kepada para santriwati di bawah umur.

“Setiap kali salaman, itu pasti dicium pipi kanan dan kiri. Padahal itu dilakukan di lingkungan pondok,” jelas K. Tindakan ini, meskipun mungkin dibungkus dengan alasan kasih sayang seorang pengasuh kepada muridnya, jelas melanggar batasan etika dan norma kesusilaan, terutama dalam konteks pendidikan pesantren yang sangat menjunjung tinggi batasan antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim.

Keberanian K untuk bicara saat ini dipicu oleh keprihatinannya terhadap banyaknya korban yang terus berjatuhan. Ia merasa bahwa sudah saatnya lingkaran setan ini diputus. Kehadiran Hotman Paris sebagai pendamping hukum diharapkan dapat memberikan tekanan publik agar pihak kepolisian di Pati mengusut tuntas kasus ini hingga ke akar-akarnya tanpa terpengaruh oleh posisi sosial pelaku.

Mencari Keadilan bagi Para Korban yang Terbungkam

Kasus yang terjadi di Pati ini menjadi pengingat pahit bagi kita semua bahwa predator seksual bisa bersembunyi di mana saja, bahkan di tempat-tempat yang kita anggap paling suci sekalipun. Perlindungan terhadap anak-anak di lembaga pendidikan berbasis asrama perlu diperketat melalui pengawasan yang independen dan sistem pelaporan yang aman bagi para korban.

Kini, publik menanti tindakan tegas dari aparat penegak hukum. Pengakuan K diharapkan bisa menjadi pintu masuk bagi para korban lainnya untuk berani bersuara dan menuntut keadilan. Luka psikis yang dialami oleh para santriwati ini tentu tidak akan mudah sembuh, namun dengan menyeret pelaku ke meja hijau, setidaknya ada sebuah pesan tegas bahwa tidak ada seorang pun yang kebal hukum, meski mereka berlindung di balik jubah agama.

WartaLog akan terus memantau perkembangan kasus ini untuk memastikan bahwa suara para korban tetap terdengar dan keadilan benar-benar ditegakkan bagi mereka yang masa depannya telah direnggut oleh tindakan biadab sang pengasuh ponpes di Pati.

Akbar Silohon

Akbar Silohon

Hi, saya senang berbagi berita terupdate.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *