Sinergi Strategis di Bukit Rimbang Baling: Polda Riau dan Mahasiswa Bersatu Melawan Karhutla serta Peredaran Narkoba

Akbar Silohon | WartaLog
26 Apr 2026, 09:30 WIB
Sinergi Strategis di Bukit Rimbang Baling: Polda Riau dan Mahasiswa Bersatu Melawan Karhutla serta Peredaran Narkoba

WartaLog — Kabut tipis yang menyelimuti kawasan hijau Bukit Rimbang Baling, Kabupaten Kampar, menjadi saksi bisu sebuah pertemuan yang tidak biasa. Di tengah lanskap alam yang asri, Kepolisian Daerah (Polda) Riau bersama ratusan mahasiswa dari berbagai universitas berkumpul dalam sebuah agenda bertajuk ‘Camping Kebangsaan Mahasiswa Riau’. Kegiatan ini bukan sekadar ajang berkemah biasa, melainkan sebuah manifestasi dari kesadaran kolektif untuk menghadapi dua ancaman terbesar bagi Bumi Lancang Kuning: kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta peredaran gelap narkoba.

Acara yang berlangsung pada Sabtu (25/4/2026) ini diinisiasi oleh Tumbuh Institute, sebuah lembaga yang konsisten bergerak dalam pengembangan pemikiran dan isu strategis. Kehadiran tokoh-tokoh penting seperti Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan, pengamat sosial Rocky Gerung, dan aktivis HAM Hurriah, memberikan bobot intelektual yang mendalam pada diskusi-diskusi yang digelar di bawah langit terbuka tersebut.

Read Also

Ketegangan Memuncak di Selat Hormuz: Iran Tuduh Amerika Serikat Serang Kapal Tanker dan Langgar Gencatan Senjata

Ketegangan Memuncak di Selat Hormuz: Iran Tuduh Amerika Serikat Serang Kapal Tanker dan Langgar Gencatan Senjata

Membangun Paradigma Baru dalam Penanganan Karhutla

Dalam sambutannya yang penuh penekanan, Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan memaparkan bahwa tantangan yang dihadapi Riau saat ini sangat kompleks. Ia mengingatkan para peserta akan memori kelam tahun 1997, di mana karhutla hebat melanda dan melumpuhkan berbagai sendi kehidupan. Menurutnya, siklus fenomena alam tersebut berpotensi terulang jika tidak ada langkah preventif yang konkret dan terintegrasi dari sekarang.

“Kita tidak bisa lagi bekerja secara terkotak-kotak. Masalah karhutla dan narkoba adalah musuh bersama yang memerlukan kolaborasi lintas sektoral. Pemerintah dan kepolisian membutuhkan mata, telinga, dan pikiran dari teman-teman mahasiswa untuk melakukan edukasi di hulu hingga mendukung penegakan hukum di hilir,” ujar Irjen Herry dengan tegas. Ia menekankan bahwa perubahan pola pikir (mindset) adalah kunci utama agar kesadaran menjaga lingkungan menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat, bukan sekadar ketakutan pada sanksi hukum.

Read Also

Diplomasi Strategis di Kremlin: Prabowo dan Putin Perkuat Sinergi Energi Hingga Antariksa

Diplomasi Strategis di Kremlin: Prabowo dan Putin Perkuat Sinergi Energi Hingga Antariksa

Komitmen Tanpa Toleransi terhadap Penyalahgunaan Narkoba

Selain isu lingkungan, Kapolda juga menyoroti darurat narkoba yang terus mengancam generasi muda di Riau. Ia menegaskan komitmen institusinya untuk melakukan bersih-bersih internal. Tidak ada tempat bagi oknum aparat yang bermain-main dengan sindikat narkoba. Pesan ini menjadi sinyal kuat bahwa Polda Riau serius dalam memutus mata rantai peredaran barang haram tersebut dari segala sisi.

Diskusi semakin hangat ketika Rocky Gerung naik ke podium improvisasi. Dengan gaya bahasanya yang khas, Rocky menarik isu karhutla ke ranah yang lebih luas, yakni krisis ekologis global. Ia berargumen bahwa kerusakan lingkungan di Riau bukan hanya masalah lokal, melainkan bagian dari keruntuhan sistem ekologi dunia yang sedang mengancam eksistensi manusia.

Read Also

Jakarta Siaga Cuaca Ekstrem: Hujan Lebat Diprediksi Guyur Ibu Kota Hingga 21 April 2026

Jakarta Siaga Cuaca Ekstrem: Hujan Lebat Diprediksi Guyur Ibu Kota Hingga 21 April 2026

Perspektif Rocky Gerung: Mahasiswa sebagai Benteng Intelektual

“Bumi ini adalah satu-satunya kapal yang kita miliki. Kita semua adalah penumpangnya, tanpa memandang status atau bangsa. Jika kapal ini bocor karena keserakahan, maka kita semua akan tenggelam bersama,” cetus Rocky. Ia memuji keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan ini sebagai ‘buffer intelektual’ atau penyangga pemikiran yang kritis di tengah krisis multidimensi.

Menurut Rocky, mahasiswa harus mampu menghubungkan isu ekonomi, energi, dan ekologi dalam satu tarikan napas. Ia mendorong kaum terpelajar untuk tidak hanya menjadi penonton, tetapi menjadi aktor utama yang mampu mengkritisi kebijakan publik yang tidak berpihak pada keberlanjutan lingkungan. Baginya, intelektualitas mahasiswa adalah modal utama untuk melawan narasi-narasi yang merusak masa depan bumi.

Karhutla sebagai Pelanggaran Hak Asasi Manusia

Sesi menarik lainnya diisi oleh Hurriah, seorang aktivis HAM yang membawa perspektif baru dalam diskusi tersebut. Ia menegaskan bahwa bencana asap akibat karhutla tidak boleh lagi hanya dipandang sebagai fenomena alam atau kecelakaan teknis. Lebih dari itu, karhutla adalah bentuk pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang nyata.

“Ketika udara bersih dicabut dari paru-paru kita karena kebakaran lahan yang disengaja atau dibiarkan, di situlah hak hidup kita sedang dirampas. Krisis ini terus diproduksi dan sayangnya sering kali dinormalisasi oleh publik. Ini adalah tugas mahasiswa untuk mendobrak normalisasi tersebut dengan riset dan advokasi yang kuat,” jelas Hurriah. Ia mengingatkan bahwa gerakan mahasiswa akan mudah dipatahkan jika hanya mengandalkan aksi simbolik tanpa dukungan data yang valid dan analisis kebijakan yang tajam.

Akar Masalah: Keserakahan dan Pembiaran

Menutup rangkaian diskusi, Head of Tumbuh Foundation, Azairus Adlu, menyampaikan refleksi mendalam mengenai filosofi di balik ‘Camping Kebangsaan’ ini. Ia menyoroti bahwa ancaman terhadap masa depan Riau memiliki akar yang sama, yakni keserakahan manusia dan sikap pembiaran dari pihak-pihak yang berwenang.

“Narkoba merusak manusianya, sementara karhutla menghancurkan ruang hidupnya. Keduanya bersumber dari akar yang sama. Melawan narkoba berarti kita sedang menjaga martabat manusia, dan melawan karhutla berarti kita sedang menjaga masa depan peradaban,” tutur Azairus. Ia berharap melalui forum dialog yang jujur ini, muncul rekomendasi kebijakan yang lebih berpihak pada kelestarian alam dan perlindungan masyarakat.

Kegiatan ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk memperkuat sinergi antara akademisi, aparat penegak hukum, dan aktivis lingkungan. Dengan semangat kolaborasi yang lahir dari Bukit Rimbang Baling, diharapkan Riau mampu keluar dari bayang-bayang kelam karhutla dan jeratan narkoba demi mewujudkan provinsi yang lebih hijau, sehat, dan berintegritas bagi generasi mendatang.

Akbar Silohon

Akbar Silohon

Hi, saya senang berbagi berita terupdate.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *