Mengadopsi Strategi Gaza, Israel Kini Terapkan ‘Garis Kuning’ di Wilayah Lebanon Selatan

Akbar Silohon | WartaLog
18 Apr 2026, 23:17 WIB
Mengadopsi Strategi Gaza, Israel Kini Terapkan 'Garis Kuning' di Wilayah Lebanon Selatan

WartaLog — Dinamika konflik di perbatasan utara memasuki babak baru setelah militer Israel secara resmi menetapkan batas demarkasi yang disebut sebagai ‘garis kuning’ di wilayah Lebanon selatan. Langkah ini dinilai sebagai replikasi taktis dari strategi yang sebelumnya telah diimplementasikan di Jalur Gaza untuk memisahkan posisi pasukan mereka dengan wilayah yang dikuasai pihak lawan.

Ketegangan di Balik Garis Demarkasi

Berdasarkan laporan yang dihimpun pada Sabtu (18/4/2026), situasi di sepanjang garis kuning tersebut dilaporkan memanas. Militer Israel mengklaim telah melancarkan serangan terhadap sejumlah anggota milisi Hizbullah yang terdeteksi mendekati posisi pasukan mereka. Pergerakan tersebut dianggap sebagai pelanggaran serius terhadap kesepakatan yang tengah berjalan.

“Dalam kurun waktu 24 jam terakhir, unit militer yang bertugas di sektor selatan Garis Kuning di Lebanon selatan berhasil mengidentifikasi elemen yang melanggar komitmen gencatan senjata. Mereka mendekati pasukan dari sisi utara dengan cara yang menciptakan ancaman langsung,” tulis pernyataan resmi militer Israel.

Read Also

Tragedi Mencekam di Leipzig: Mobil Hantam Kerumunan Warga, Dua Nyawa Melayang di Jantung Jerman

Tragedi Mencekam di Leipzig: Mobil Hantam Kerumunan Warga, Dua Nyawa Melayang di Jantung Jerman

Respon Militer dan Penghapusan Ancaman

Pihak Tel Aviv menegaskan bahwa tindakan ofensif yang diambil merupakan langkah preventif guna menjamin keselamatan personel di lapangan. Segera setelah identifikasi dilakukan, serangan dilancarkan di beberapa titik strategis di wilayah Lebanon selatan untuk menetralisir potensi ancaman tersebut.

Insiden ini menambah daftar panjang ketegangan di wilayah tersebut, terutama setelah sebelumnya dilaporkan adanya korban jiwa dari pihak pasukan perdamaian UNIFIL asal Prancis yang bertugas di Lebanon.

Replikasi Pola Gaza di Lebanon

Konsep pembagian wilayah melalui garis kuning ini pertama kali mencuat secara signifikan dalam konflik Gaza sejak 10 Oktober lalu. Di wilayah kantong Palestina tersebut, garis ini menjadi batas de facto yang membagi teritori menjadi dua zona utama: satu zona di bawah kendali penuh operasional militer Israel, dan zona lainnya yang masih dalam otoritas Hamas.

Read Also

Israel dan Lebanon Buka Pintu Damai di AS, Harapan Baru di Tengah Bara Konflik

Israel dan Lebanon Buka Pintu Damai di AS, Harapan Baru di Tengah Bara Konflik

Penerapan pola serupa di Lebanon Selatan menunjukkan bahwa Israel berupaya menciptakan zona penyangga yang ketat. Strategi ini bertujuan untuk membatasi ruang gerak milisi Hizbullah sekaligus memberikan legitimasi bagi pasukan Israel untuk melepaskan tembakan jika batas imajiner tersebut dilalui oleh pihak-pihak yang dianggap mencurigakan.

Hingga saat ini, stabilitas di sepanjang perbatasan tetap berada dalam kondisi yang sangat rapuh, di mana setiap pergerakan melintasi garis demarkasi dapat memicu eskalasi militer yang lebih luas di kawasan tersebut.

Akbar Silohon

Akbar Silohon

Hi, saya senang berbagi berita terupdate.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *