Ambisi Militer Paman Sam: Biaya Perang AS Lawan Iran Diprediksi Tembus US$ 1 Triliun

Citra Lestari | WartaLog
14 Apr 2026, 22:50 WIB
Ambisi Militer Paman Sam: Biaya Perang AS Lawan Iran Diprediksi Tembus US$ 1 Triliun

WartaLog — Bayang-bayang konflik bersenjata antara Amerika Serikat (AS) yang menyokong Israel melawan Iran kini bukan sekadar urusan adu kekuatan geopolitik semata, melainkan juga pertaruhan ekonomi yang luar biasa besar. Sebuah prediksi mengejutkan muncul ke permukaan, menyebutkan bahwa total ongkos yang harus dikeluarkan untuk membiayai konfrontasi ini bisa melampaui angka resmi pemerintah dan menembus US$ 1 triliun atau setara dengan Rp 17.100 triliun (asumsi kurs Rp 17.100/US$).

Angka fantastis ini dikemukakan oleh akademisi terkemuka dari Universitas Harvard, Linda Bilmes. Dalam sebuah analisis mendalam, ia meyakini bahwa eskalasi di Timur Tengah akan memicu ledakan pengeluaran yang belum pernah terbayangkan sebelumnya. “Saya sangat yakin bahwa biaya perang Iran akan mencapai ambang US$ 1 triliun,” ungkap Bilmes dalam sebuah wawancara yang dikutip pada Selasa (14/4/2026).

Read Also

Strategi Bulog Perkuat Swasembada: 88 Lokasi Gudang dan Penggilingan Modern Siap Dibangun

Strategi Bulog Perkuat Swasembada: 88 Lokasi Gudang dan Penggilingan Modern Siap Dibangun

Jurang Antara Laporan Pentagon dan Realita Lapangan

Meskipun laporan resmi Pentagon kepada Kongres menyebutkan bahwa operasi gabungan AS-Israel telah menghabiskan sekitar US$ 11,3 miliar dalam kurun waktu enam hari, Bilmes menilai angka tersebut hanyalah pucuk dari gunung es. Menurutnya, kalkulasi militer seringkali gagal menangkap kondisi riil yang terjadi di medan tempur.

Bilmes memproyeksikan biaya jangka pendek dari konflik ini bisa menyentuh angka US$ 2 miliar per hari jika pertempuran berlangsung secara intens selama 40 hari berturut-turut. Komponen biaya ini tidak hanya mencakup harga amunisi yang dimuntahkan, tetapi juga mobilisasi pasukan dalam skala besar serta penggantian aset militer yang hancur. Masalah utamanya, Pentagon sering menggunakan standar nilai lama untuk barang-barang militer mereka, bukan harga pasar terkini untuk pengadaan kembali (replacement cost) yang justru jauh lebih mahal.

Read Also

Drama Seleksi Manajer Kopdes Merah Putih: Menguak Misteri Jawaban yang Berubah Sendiri dan Respons Tegas Pemerintah

Drama Seleksi Manajer Kopdes Merah Putih: Menguak Misteri Jawaban yang Berubah Sendiri dan Respons Tegas Pemerintah

“Ada kesenjangan besar di sini. Laporan US$ 11,3 miliar itu sebenarnya lebih mendekati US$ 16 miliar jika kita menghitung biaya penggantian aset. Ini adalah disparitas yang terus berulang antara apa yang dilaporkan secara administratif dengan realita anggaran militer yang sebenarnya,” jelas Bilmes.

Ketimpangan Biaya: Rudal Mahal vs Drone Murah

Salah satu poin krusial yang membuat pengeluaran AS membengkak adalah ketimpangan harga teknologi tempur. AS terikat kontrak multi-tahun dengan raksasa pertahanan seperti Lockheed Martin dan Boeing untuk memproduksi rudal pencegat (interceptor). Harga satu unit rudal ini bisa mencapai US$ 4 juta.

Ironisnya, Iran mampu memproduksi drone tempur dengan biaya yang sangat miring, yakni hanya sekitar US$ 30.000 per unit. Ketidakseimbangan ini memaksa AS mengeluarkan biaya ribuan kali lipat lebih besar hanya untuk menangkis serangan lawan yang jauh lebih murah. Selain itu, pasca-konflik, beban anggaran diprediksi akan terus membengkak guna membiayai rekonstruksi infrastruktur strategis di kawasan Teluk yang ikut terdampak.

Read Also

Tensi Panas di Selat Hormuz: Harga Minyak Dunia Meroket Pasca Serangan Kapal Komersial

Tensi Panas di Selat Hormuz: Harga Minyak Dunia Meroket Pasca Serangan Kapal Komersial

Beban Utang yang Diwariskan ke Generasi Mendatang

Gedung Putih dilaporkan telah melayangkan permintaan kepada Kongres untuk mengerek anggaran pertahanan AS hingga menyentuh US$ 1,5 triliun. Jika dikabulkan, ini akan menjadi belanja militer terbesar dalam sejarah AS sejak Perang Dunia II. Angka ini bahkan belum mencakup dana cadangan khusus perang Iran sebesar US$ 200 miliar yang diminta Pentagon.

Dampak jangka panjang dari ambisi ini adalah membengkaknya defisit fiskal negara. Sebagai perbandingan, saat Perang Irak pecah, total biaya mencapai US$ 2 triliun, namun saat itu utang publik AS masih berada di bawah angka US$ 4 triliun. Saat ini, kondisi ekonomi Paman Sam jauh lebih rapuh dengan tumpukan utang yang telah melampaui US$ 31 triliun.

“Kita meminjam uang untuk mendanai perang ini di tengah tren suku bunga yang lebih tinggi dan basis utang yang sudah sangat besar. Akibatnya, biaya bunga saja akan menambah beban miliaran dolar. Berbeda dengan biaya operasional yang habis di awal, biaya bunga ini adalah beban nyata yang secara tidak adil kita wariskan kepada generasi berikutnya,” pungkas Bilmes dengan nada peringatan.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *