Harga Beras Premium Lampaui HET, Dirut Bulog Ahmad Rizal Ramadhani Siapkan Strategi Intervensi Pasar
WartaLog — Di tengah geliat aktivitas ekonomi di pasar-pasar tradisional, gejolak harga pangan kembali menjadi sorotan utama. Langkah taktis diambil oleh Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramadhani, yang melakukan inspeksi dadakan (sidak) guna memantau langsung dinamika harga dan ketersediaan stok di lapangan. Dalam kunjungannya ke Pasar Rawamangun, Jakarta Timur, Sabtu (5/9/2026), Rizal mendapati kenyataan bahwa harga beras jenis premium mulai merangkak naik, bahkan telah melampaui ketentuan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.
Sidak di Pasar Rawamangun: Realita Harga di Lapangan
Pagi itu, suasana Pasar Rawamangun tampak padat. Rizal menyusuri lorong-lorong pasar dan berhenti di salah satu kios beras yang cukup besar. Dialog antara pejabat negara dan pedagang kecil pun terjadi secara natural. Dari hasil pantauan langsung tim WartaLog di lokasi, terungkap bahwa kenaikan harga ini bukan sekadar isu di atas kertas, melainkan kenyataan pahit yang harus dihadapi konsumen sehari-hari.
KKP Resmi Segel Pulau Umang Banten Pasca Kabar Penjualan Viral Rp 65 Miliar
Seorang pedagang yang ditemui Rizal menjelaskan bahwa stok beras premium miliknya mengalami lonjakan harga yang signifikan. Beras jenis Karangsinom asal Cirebon, misalnya, kini dibanderol dengan harga Rp 16.000 per kilogram. Sementara itu, untuk varietas unggulan seperti Pandan Wangi, harganya menyentuh angka Rp 17.500 per kilogram. Angka ini jelas berada di atas ekspektasi masyarakat menengah ke bawah yang selama ini mengandalkan stabilitas pangan.
Melampaui Ambang Batas HET
Jika merujuk pada regulasi yang berlaku, pemerintah sebenarnya telah menetapkan batasan harga yang jelas guna melindungi daya beli masyarakat. Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk beras premium dipatok sebesar Rp 14.900 per kilogram. Di sisi lain, untuk beras jenis medium, HET ditetapkan pada angka Rp 13.500 per kilogram. Selisih harga yang ditemukan di Pasar Rawamangun tersebut menunjukkan adanya tekanan inflasi yang cukup kuat di rantai distribusi.
Komitmen IKN: Megaproyek Gedung DPR dan MA Kebal Efisiensi, Target Beroperasi 2028
Kenaikan harga ini memicu kekhawatiran akan terjadinya efek domino terhadap komoditas pangan lainnya. Oleh karena itu, kehadiran Bulog di pasar-pasar tradisional diharapkan mampu memberikan kepastian bahwa pemerintah tidak tinggal diam. Rizal menekankan bahwa monitoring secara rutin sangat krusial agar disparitas harga antara pasar satu dengan yang lainnya tidak semakin melebar jauh dari aturan main yang ada.
Stok SPHP: Penyelamat di Tengah Lonjakan Harga
Meskipun harga beras premium sedang “terbang”, ada sedikit angin segar bagi konsumen dengan ketersediaan Beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Dalam sidak tersebut, Rizal memastikan bahwa stok beras SPHP tetap terjaga dan dijual sesuai dengan harga yang telah ditentukan. Para pedagang mengonfirmasi bahwa beras subsidi dari Bulog ini selalu tersedia di lapak mereka dengan harga Rp 62.500 per kemasan 5 kilogram.
Ironi Minyakita: Saat Minyak Goreng Rakyat Menjadi Barang Mewah yang Langka dan Mahal
“Untuk beras SPHP, kami pastikan ketersediaannya aman. Ini adalah instrumen utama kita untuk menjaga agar masyarakat tetap memiliki akses terhadap beras berkualitas dengan harga terjangkau,” tegas Rizal di sela-sela pengecekan stok. SPHP diharapkan dapat menjadi alternatif utama bagi masyarakat saat beras premium mengalami lonjakan harga yang tidak wajar.
Inovasi Bulog: Menyalurkan Beras Premium Befood
Menyadari bahwa permintaan terhadap beras premium tetap tinggi meski harganya naik, Ahmad Rizal Ramadhani merencanakan sebuah terobosan baru. Bulog berencana menyalurkan produk beras premium milik mereka sendiri, yakni merek “Befood”, langsung ke pasar-pasar tradisional. Langkah ini diambil sebagai bentuk kompetisi sehat sekaligus intervensi untuk menarik turun harga pasar yang saat ini sedang bergejolak.
Rizal sempat menawarkan program ini kepada para pedagang di Pasar Rawamangun. “Nanti kalau kami salurkan beras premium Bulog Befood, mau tidak? Kami sedang menjalankan program strategis untuk menekan inflasi pangan. Tujuannya jelas, agar masyarakat punya lebih banyak pilihan beras premium dengan harga yang lebih masuk akal dan terkendali,” ujarnya kepada salah satu pemilik kios.
Operasi Pasar Massal di 113 Titik Se-Indonesia
Tidak hanya terbatas pada sidak di satu lokasi, Bulog bergerak secara masif dalam skala nasional. Rizal mengungkapkan bahwa pihaknya tengah menjalankan operasi pasar di 113 titik yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia. Langkah agresif ini akan terus dilakukan secara berkesinambungan hingga tren harga beras menunjukkan tanda-tanda penurunan yang signifikan.
Program intervensi ini melibatkan koordinasi yang erat dengan pemerintah daerah dan instansi terkait. Fokus utamanya adalah menyasar wilayah-wilayah yang mengalami lonjakan harga di atas rata-rata nasional. Bulog berkomitmen untuk terus menggelontorkan cadangan pangan pemerintah (CPP) guna memastikan keseimbangan antara pasokan dan permintaan di pasar tetap terjaga.
Harapan Konsumen dan Stabilitas Nasional
Di akhir kunjungannya, Rizal menyampaikan pesan optimis kepada masyarakat. Ia menegaskan bahwa Perum Bulog akan terus memantau pergerakan harga setiap harinya. Upaya stabilisasi ini bukan hanya tentang angka-angka ekonomi, melainkan tentang menjaga ketahanan pangan nasional dan memastikan setiap keluarga di Indonesia dapat menikmati makanan pokok tanpa beban finansial yang berlebih.
“Operasi pasar akan kami lakukan sepanjang harga masih merangkak naik. Kami tidak akan berhenti sampai harga benar-benar turun dan kembali stabil. Harapan kami, konsumen bisa membeli beras dengan harga yang memadai dan adil bagi semua pihak, baik bagi petani, pedagang, maupun masyarakat luas,” tutup Rizal sebelum beranjak menuju titik pemantauan berikutnya.
Dengan langkah-langkah proaktif yang diambil oleh Bulog, diharapkan gejolak harga beras premium ini segera mereda. Peran aktif masyarakat dalam melaporkan adanya praktik penimbunan atau harga yang tidak wajar juga sangat diperlukan guna mendukung keberhasilan program stabilitas pangan nasional ini.