Sentuhan Humanis Pramono Anung: Menata Pasar Kramat Jati Tanpa Air Mata

Akbar Silohon | WartaLog
02 Sep 2026, 09:17 WIB
Sentuhan Humanis Pramono Anung: Menata Pasar Kramat Jati Tanpa Air Mata

WartaLog — Langkah persuasif kini menjadi napas baru dalam tata kelola perkotaan di Jakarta. Di bawah kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, wajah kaku penertiban perlahan berganti dengan dialog yang menyentuh hati. Hal ini terlihat jelas saat Pramono meninjau langsung proses penataan pedagang di kawasan legendaris Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur, pada Selasa (1/9/2026). Tidak ada ketegangan, yang ada justru percakapan hangat antara pemimpin dan rakyatnya yang telah puluhan tahun menggantungkan nasib di pinggir jalan.

Mendengar Suara dari Akar Rumput

Kramat Jati bukan sekadar titik ekonomi; ia adalah saksi bisu sejarah panjang Jakarta Timur. Sejak awal 1970-an, kawasan ini telah menjadi pusat denyut nadi perdagangan yang tak pernah tidur. Namun, seiring waktu, luapan pedagang hingga ke badan jalan mulai menciptakan benang kusut kemacetan yang kronis. Menyadari hal ini, Pramono Anung memilih untuk tidak menggunakan pendekatan tangan besi.

Read Also

Insiden Truk Muatan Biji Plastik Terguling di Flyover Pesing: Simpul Kemacetan Daan Mogot dan Dampak Berantai pada Layanan Transjakarta

Insiden Truk Muatan Biji Plastik Terguling di Flyover Pesing: Simpul Kemacetan Daan Mogot dan Dampak Berantai pada Layanan Transjakarta

Dalam kunjungannya, Pramono terlihat berbincang akrab dengan salah seorang pedagang yang sudah berjualan di lokasi tersebut selama lebih dari setengah abad. “Lebih enak di pinggir jalan apa di sini?” tanya Pramono dengan nada santai namun penuh perhatian. Pertanyaan sederhana ini memicu kejujuran dari pedagang tersebut yang mengakui bahwa kenyamanan lokasi lama sulit digantikan. Namun, di sinilah kepemimpinan Pramono diuji—bagaimana menyelaraskan keinginan individu dengan kepentingan publik yang lebih besar.

“Tapi kan mengganggu lalu lintas, Bu. Nanti kalau pindah ke dalam, kita bantu promosinya ya. Bu Kadis Kominfotik tolong dicatat,” ujar Pramono sambil memberikan jaminan bahwa pemerintah tidak akan membiarkan mereka berjuang sendirian di tempat baru. Pendekatan ini menunjukkan bahwa penataan bukan sekadar memindahkan raga, tapi juga menjaga keberlangsungan usaha.

Read Also

Misteri Rekrutmen 8 WNI Jadi Tentara Rusia: Benarkah Tergiur Gaji Fantastis di Tengah Konflik?

Misteri Rekrutmen 8 WNI Jadi Tentara Rusia: Benarkah Tergiur Gaji Fantastis di Tengah Konflik?

Revolusi Penataan: Menolak Narasi Penggusuran

Selama dekade terakhir, istilah “penggusuran” sering kali menjadi momok yang menakutkan bagi para pedagang kecil di Jakarta. Namun, dalam visi besar Pemprov DKI saat ini, diksi tersebut coba dihapuskan. Pramono menegaskan bahwa ia menginginkan alternatif yang lebih memanusiakan manusia.

“Jika selama ini paradigmanya adalah penggusuran tanpa solusi, saya meminta tim untuk menghadirkan tempat yang benar-benar layak sebelum pedagang diminta bergerak. Kita harus menghargai mereka yang sudah berjualan di sini selama 56 tahun. Ini bukan waktu yang singkat, ini adalah sejarah hidup mereka,” ungkap Pramono kepada awak media di sela-sela peninjauannya.

Data menunjukkan terdapat sekitar 614 hingga 640 pedagang yang masuk dalam skema penataan ini. Angka tersebut bukanlah sekadar statistik, melainkan ratusan kepala keluarga yang harus dipastikan tetap bisa mengepulkan asap dapur mereka. Untuk itu, Pemprov DKI telah memetakan lokasi-lokasi strategis yang akan menjadi rumah baru bagi para pedagang ini.

Read Also

Sudaryono dan Tantangan Bersih-Bersih Badan Gizi Nasional: Menepis Bayang Konflik Kepentingan di Program MBG

Sudaryono dan Tantangan Bersih-Bersih Badan Gizi Nasional: Menepis Bayang Konflik Kepentingan di Program MBG

Strategi Relokasi dan Fasilitas yang Memadai

Penataan ini dilakukan secara terstruktur dan terintegrasi. Tidak semua pedagang ditumpuk di satu titik, melainkan didistribusikan sesuai dengan jenis komoditasnya agar ekosistem pasar tetap sehat. Berikut adalah rincian pembagian lokasi untuk para pedagang Kramat Jati:

  • Sektor 7 Pasar Kramat Jati: Akan menampung sebanyak 331 pedagang umum.
  • Lokbin Kramat Jati: Menjadi rumah baru bagi 193 pedagang ikan yang memerlukan sirkulasi air khusus.
  • Lokbin Cililitan: Diperuntukkan bagi 45 pedagang kue yang membutuhkan akses strategis.
  • Pasar Kelolaan Perumda Pasar Jaya: Menampung 45 pedagang lainnya untuk pemerataan zona ekonomi.

Pramono menyadari bahwa berpindah tempat seringkali diikuti dengan penurunan omzet di masa transisi. Sebagai solusinya, ia mengambil kebijakan berani dengan menggratiskan retribusi pasar selama enam bulan penuh. Dengan biaya normal sekitar Rp180.000 per bulan atau Rp6.000 per hari, insentif ini diharapkan dapat menjadi napas tambahan bagi pedagang untuk beradaptasi.

Memperbaiki Infrastruktur Demi Kenyamanan Bersama

Selain insentif finansial, kenyamanan fisik bangunan juga menjadi prioritas utama. Pramono memerintahkan Dinas terkait untuk membenahi sirkulasi udara di lokasi binaan (Lokbin). Pemasangan kipas angin besar dan perbaikan saluran air menjadi agenda mendesak agar suasana belanja tidak pengap dan tetap higienis.

“Kami tahu, di awal perpindahan pasti terasa berat. Makanya, fasilitas harus kita perbaiki. Jangan sampai mereka pindah ke tempat yang lebih panas atau becek. Sirkulasi udara harus segar agar pembeli juga betah berlama-lama,” tambahnya. Langkah ini merupakan bagian dari persiapan menuju revitalisasi besar-besaran pasar tradisional Jakarta yang dijadwalkan akan dimulai pada tahun 2027 mendatang.

Mengembalikan Fungsi Ruang Publik

Misi besar di balik sentuhan humanis ini adalah restorasi ruang publik. Selama puluhan tahun, fungsi jalan di sekitar Kramat Jati tergerus oleh aktivitas perdagangan yang meluber. Dengan kembalinya pedagang ke dalam pasar, diharapkan arus lalu lintas di kawasan Jakarta Timur dapat terurai signifikan.

Pramono mengingatkan para pedagang yang sudah mendapatkan tempat di dalam untuk tidak kembali lagi ke bahu jalan. Ia menekankan pentingnya komitmen bersama dalam menjaga ketertiban kota. “Kalau sudah di dalam, jangan keluar lagi ya. Kita jaga bareng-bareng kebersihan dan ketertiban ini supaya rezekinya juga makin lancar dan berkah,” pesannya dengan senyum khas yang menenangkan para pedagang.

Harapan Baru bagi Ekonomi Kerakyatan

Pendekatan yang dilakukan Pramono Anung di Kramat Jati menjadi preseden penting bagi penataan kota-kota besar di Indonesia. Bahwa estetika kota dan fungsi jalan tidak harus dibayar dengan air mata pedagang kecil. Dengan dialog, insentif, dan penyediaan fasilitas yang layak, transformasi perkotaan bisa berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi rakyat.

Kini, masyarakat Jakarta Timur menanti wajah baru kawasan Kramat Jati yang lebih rapi, bebas macet, namun tetap mempertahankan identitasnya sebagai pusat perputaran ekonomi yang merakyat. Dukungan penuh dari Kominfotik DKI dalam mempromosikan lokasi baru para pedagang diharapkan menjadi katalisator suksesnya program penataan humanis ini.

Akbar Silohon

Akbar Silohon

Hi, saya senang berbagi berita terupdate.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *