Akses Menuju Jantung Budaya Baduy Segera Dipoles, Pemkab Lebak Siapkan Anggaran Perbaikan Masif

Akbar Silohon | WartaLog
29 Agu 2026, 13:17 WIB
Akses Menuju Jantung Budaya Baduy Segera Dipoles, Pemkab Lebak Siapkan Anggaran Perbaikan Masif

WartaLog — Langkah nyata tengah dipersiapkan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebak dalam menanggapi keluhan masyarakat mengenai buruknya infrastruktur menuju salah satu destinasi wisata budaya paling ikonik di Indonesia. Komitmen ini muncul seiring dengan rencana besar pembenahan sejumlah ruas jalan utama yang menjadi akses vital menuju kawasan Adat Baduy di Provinsi Banten. Perbaikan ini diharapkan tidak hanya memperlancar mobilitas warga lokal, tetapi juga mendongkrak kenyamanan para wisatawan yang hendak melakukan ritual Saba Budaya.

Kepastian mengenai proyek perbaikan ini disampaikan langsung oleh otoritas terkait yang menyebutkan bahwa alokasi anggaran telah disiapkan dalam skema perubahan. Berdasarkan perencanaan teknis, pengerjaan fisik di lapangan dijadwalkan akan mulai digeber pada Oktober 2026 mendatang. Penantian panjang warga akan jalan yang mulus tampaknya mulai menemukan titik terang melalui program pembangunan jalan yang sistematis.

Read Also

Tragedi Maut di Perlintasan Tanpa Palang Serdang Bedagai: Dua Nyawa Melayang Terhantam KA Putri Deli

Tragedi Maut di Perlintasan Tanpa Palang Serdang Bedagai: Dua Nyawa Melayang Terhantam KA Putri Deli

Prioritas Perbaikan di Ruas Aweh-Cikapek

Kepala Bidang Bina Marga pada Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Lebak, Hamdan Soleh, menegaskan bahwa pemerintah tidak menutup mata terhadap kerusakan yang terjadi. Fokus utama penanganan kali ini akan menyasar ruas Jalan Aweh-Cikapek. Jalur ini dikenal sebagai salah satu urat nadi transportasi yang menghubungkan pusat kota menuju pintu masuk kawasan ulayat Baduy.

“Kami telah menjadwalkan penanganan melalui anggaran perubahan. Jika tidak ada kendala berarti, kemungkinan besar pengerjaan dimulai pada Oktober,” ungkap Hamdan Soleh saat memberikan keterangan resmi kepada WartaLog. Fokus perbaikan akan dilakukan sepanjang 2,5 kilometer dengan metode spot-spot, yakni memprioritaskan titik-titik yang mengalami kerusakan paling parah agar fungsionalitas jalan segera kembali normal.

Read Also

Menakar Relevansi Konstitusi di Era Modern: Langkah MPR RI Himpun Pemikiran Kritis Guru Besar Unhas

Menakar Relevansi Konstitusi di Era Modern: Langkah MPR RI Himpun Pemikiran Kritis Guru Besar Unhas

Strategi ini diambil untuk memastikan efisiensi anggaran namun tetap memberikan dampak yang signifikan bagi para pengguna jalan. Mengingat medan menuju kawasan adat Baduy memiliki karakteristik tanah yang cukup menantang, pemilihan material dan teknik pengerjaan menjadi faktor kunci dalam rencana proyek ini.

Warisan Kerusakan Akibat Aktivitas Tambang

Menelisik lebih dalam mengenai penyebab hancurnya infrastruktur di wilayah tersebut, Hamdan menjelaskan bahwa beban kendaraan yang melebihi kapasitas jalan menjadi pemicu utama. Di masa lalu, wilayah ini merupakan jalur perlintasan armada besar pengangkut pasir dari aktivitas pertambangan yang masif. Meskipun saat ini aktivitas tambang tersebut sudah tidak lagi beroperasi, sisa-sisa kerusakan yang ditinggalkan masih menjadi beban bagi masyarakat sekitar.

Read Also

Segel Parkir Blok M Square Resmi Dibuka: Menanti Pembenahan Total Tata Kelola Perparkiran Jakarta

Segel Parkir Blok M Square Resmi Dibuka: Menanti Pembenahan Total Tata Kelola Perparkiran Jakarta

“Dulu ada aktivitas tambang di sana. Efek dari kendaraan berat itulah yang awalnya memicu kerusakan. Sekarang tambangnya sudah tidak aktif, namun jejak kerusakannya masih dirasakan masyarakat hingga kini,” tambah Hamdan. Hal ini menjadi catatan penting bagi DPUPR Lebak dalam merancang ketahanan jalan ke depannya, agar kejadian serupa tidak terulang kembali setelah perbaikan selesai dilakukan.

Update Proyek Leuwidamar-Pasirkupa yang Sempat Tersendat

Selain ruas Aweh-Cikapek, Pemkab Lebak juga tengah mengawasi pengerjaan di jalur Leuwidamar-Pasirkupa. Jalur ini merupakan akses alternatif yang tak kalah penting bagi wisatawan maupun distribusi logistik warga Baduy. Namun, proyek sepanjang 2,5 kilometer ini dikabarkan sempat mengalami hambatan teknis di lapangan.

Proses pengecoran jalan yang menggunakan beton berkualitas tinggi dilaporkan sempat tersendat selama beberapa hari. Kendala tersebut bukan berasal dari masalah administratif, melainkan karena gangguan pasokan bahan baku dari batching plant atau pabrik pencampuran beton. “Untuk ruas Leuwidamar-Pasirkupa sebenarnya sudah berjalan, hanya saja proses pengecoran sedikit tersendat karena suplai dari batching plant terganggu. Kami terus berkoordinasi agar progres fisik kembali berjalan lancar,” tegas Hamdan.

Keluhan Pengendara dan Harapan Warga Lokal

Kondisi jalan yang berlubang dan bergelombang memang telah lama menjadi momok bagi para pelancong. Budi, salah satu pengendara yang sering melintasi jalur tersebut, mengaku sangat terganggu dengan kondisi infrastruktur saat ini. Ia menilai, kerusakan di ruas Jalan Raya Aweh-Gununganten-Cikapek sudah mencapai tahap yang membahayakan keselamatan berkendara.

“Berkendara di sini sangat tidak nyaman. Selain debu saat musim panas dan lumpur saat hujan, lubang-lubang besar di jalan memaksa kita untuk ekstra waspada. Sebagai akses utama menuju Baduy, seharusnya jalan ini mendapatkan perhatian lebih agar citra wisata Banten tetap terjaga di mata luar,” ujar Budi dengan nada penuh harap.

Suara Tokoh Adat: Urgensi Fasilitas Pendukung dan Terminal

Keresahan senada juga diungkapkan oleh Jaro Oom, Kepala Desa Kanekes yang juga merupakan tokoh Pemerintah Masyarakat Adat Baduy. Baginya, jalan bukan sekadar aspal, melainkan jembatan kesejahteraan bagi warganya. Rusaknya akses jalan secara langsung menghambat mobilitas warga Baduy yang ingin menjual hasil bumi atau kerajinan tangan ke luar wilayah.

Banyak wisatawan yang mengeluh langsung kepadanya mengenai sulitnya menembus jalur menuju Desa Kanekes. “Pengunjung sering bertanya, kenapa jalan ke Baduy rusak sekali? Baik lewat jalur Kalang Anyar maupun Aweh, kondisinya sama-sama memprihatinkan. Kami sangat mendukung dan mendorong agar pembangunan akses menuju Saba Budaya ini segera dipercepat,” tutur Jaro Oom.

Tak hanya soal jalan, Jaro Oom juga menyoroti fasilitas pendukung seperti Terminal Ciboleger. Terminal yang menjadi titik kumpul utama wisatawan sebelum masuk ke kawasan adat tersebut dinilai sudah tidak representatif lagi. Kapasitas parkir yang terbatas seringkali membuat wisatawan harus putar balik karena tidak mendapatkan ruang untuk memarkirkan kendaraannya. Perbaikan menyeluruh pada infrastruktur dan fasilitas publik diharapkan mampu menjadi solusi jangka panjang bagi keberlangsungan pariwisata berbasis budaya di Kabupaten Lebak.

Dengan adanya rencana perbaikan yang telah disusun oleh Pemkab Lebak, harapan besar kini tertumpu pada realisasi proyek di bulan Oktober mendatang. Jalan yang mulus diharapkan menjadi awal baru bagi kemajuan ekonomi dan pelestarian budaya di tanah ulayat Baduy.

Akbar Silohon

Akbar Silohon

Hi, saya senang berbagi berita terupdate.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *