Ironi Data Kemiskinan: BPS Klarifikasi Kasus Tukang Becak yang Masuk Kategori Warga Kaya Desil 9

Citra Lestari | WartaLog
28 Agu 2026, 17:18 WIB
Ironi Data Kemiskinan: BPS Klarifikasi Kasus Tukang Becak yang Masuk Kategori Warga Kaya Desil 9

WartaLog — Dunia maya baru-baru ini digemparkan oleh sebuah anomali data yang cukup menyayat hati sekaligus mengundang tanya bagi publik. Bagaimana mungkin seorang penarik becak motor yang berjuang mencari nafkah di jalanan justru terdaftar sebagai warga kategori sejahtera atau masuk dalam kelompok Desil 9? Kasus ini dialami oleh Timbul, seorang warga asal Kulon Progo, yang mendadak ‘kaya’ di atas kertas birokrasi, namun kenyataannya terseok-seok membiayai pendidikan sang buah hati.

Menanggapi isu yang telanjur viral tersebut, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Amalia Adininggar Widyasanti, akhirnya angkat bicara untuk meluruskan benang kusut yang terjadi. Dalam keterangannya, Amalia menjelaskan bahwa ketidaksesuaian data tersebut bersumber dari proses pemutakhiran yang belum berjalan secara real-time. Setelah dilakukan verifikasi ulang di lapangan, status kesejahteraan Timbul kini telah direvisi ke posisi yang sebenarnya.

Read Also

Prabowo Targetkan Bunga Kredit Rakyat Maksimal 5%, OJK Tekankan Pentingnya Mitigasi Risiko Perbankan

Prabowo Targetkan Bunga Kredit Rakyat Maksimal 5%, OJK Tekankan Pentingnya Mitigasi Risiko Perbankan

Akar Masalah: Data yang Belum Terjamah Pemutakhiran

Amalia mengungkapkan bahwa sistem pengelompokan tingkat kesejahteraan keluarga didasarkan pada Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN). Dalam sistem ini, masyarakat dibagi ke dalam kelompok desil. Semakin tinggi angka desilnya, maka semakin dianggap sejahtera keluarga tersebut. Desil 10 mewakili kelompok paling kaya, sementara Desil 1 merupakan kelompok dengan tingkat ekonomi terendah atau sangat miskin.

“Setelah dilakukan pemutakhiran data, yang bersangkutan kini sudah berada di Desil 3. Hal ini terjadi karena sebelumnya data yang ada di sistem memang belum diperbarui sesuai dengan kondisi terkini di lapangan,” ujar Amalia saat memberikan penjelasan di kawasan Widya Chandra, Jakarta Selatan. Menurutnya, Timbul secara proaktif memasukkan data terbarunya melalui kanal pemutakhiran yang tersedia, sehingga koreksi dapat segera dilakukan oleh pihak terkait agar sesuai dengan kesejahteraan masyarakat yang sesungguhnya.

Read Also

Kilau Emas Antam Semakin Terang: Harga Melonjak Tajam Rp 18.000 per Gram Hari Ini

Kilau Emas Antam Semakin Terang: Harga Melonjak Tajam Rp 18.000 per Gram Hari Ini

Amalia menegaskan bahwa dinamika ekonomi keluarga bersifat sangat cair. Seseorang yang tahun lalu berada di kategori mampu, bisa saja jatuh ke kategori miskin karena berbagai faktor, begitu pula sebaliknya. Oleh karena itu, partisipasi aktif masyarakat dalam melaporkan kondisi ekonominya melalui mekanisme yang ada menjadi kunci utama akurasi data nasional.

Kisah Timbul: Antara Harapan Kuliah Anak dan Tembok Birokrasi

Kisah ini bermula saat Timbul, seorang pengemudi becak motor asal Lendah, Kulon Progo, berniat mengurus administrasi untuk masa depan anaknya, Lucky. Sang putra sulung berhasil menorehkan prestasi membanggakan dengan diterima di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) melalui jalur mandiri. Namun, kegembiraan itu seketika berubah menjadi beban berat saat Timbul mengetahui biaya pangkal yang harus dibayar mencapai Rp15 juta.

Read Also

Australia dan Hong Kong Dominasi Pasokan Emas ke Indonesia, Nilai Impor Tembus Rp 6,71 Triliun

Australia dan Hong Kong Dominasi Pasokan Emas ke Indonesia, Nilai Impor Tembus Rp 6,71 Triliun

Sebagai kepala keluarga yang mengandalkan penghasilan harian dari menarik becak, angka tersebut tentu sangat fantastis. Timbul pun berinisiatif mengajukan keringanan biaya melalui Program Indonesia Pintar (PIP) serta mencari beasiswa lainnya. Salah satu syarat mutlaknya adalah memiliki Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM). Namun, saat mendatangi kantor Kalurahan Lendah, ia bak disambar petir di siang bolong.

“Saya datang ke balai desa untuk mencari SKTM, tapi saat dicek oleh Pak Lurah, ternyata nama saya masuk di Desil 9. Itu kan kategorinya orang kaya, padahal untuk makan sehari-hari saja kami harus berjuang keras,” tutur Timbul dengan nada getir. Akibat status Desil 9 tersebut, harapan untuk mendapatkan bantuan beasiswa kuliah sempat terancam pupus karena sistem otomatis menolak pemohon yang dianggap mampu secara ekonomi.

Pentingnya Pembenahan Sistem Data Nasional

Fenomena yang dialami Timbul hanyalah puncak gunung es dari permasalahan data kemiskinan di Indonesia. Banyak warga yang seharusnya mendapatkan bantuan justru tereliminasi oleh sistem karena data lama yang belum diperbarui (exclusion error). Sebaliknya, ada pula warga yang secara ekonomi sudah mapan namun masih tercatat sebagai penerima bantuan (inclusion error).

Pemerintah, melalui berbagai kementerian dan lembaga, terus berupaya memperbaiki sistem ini. Salah satu langkah yang dicanangkan adalah penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk melakukan verifikasi data secara lebih cepat dan akurat. Hal ini pernah disinggung oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi yang menekankan bahwa tata kelola data harus diperbaiki agar bantuan sosial tepat sasaran.

Kasus Timbul menjadi pengingat bagi otoritas berwenang bahwa di balik angka-angka statistik, ada nasib manusia yang dipertaruhkan. Tanpa data yang akurat, akses terhadap pendidikan berkualitas dan jaminan sosial akan tetap menjadi barang mewah bagi mereka yang berada di garis kemiskinan.

Langkah Menuju Akurasi: Peran Aktif Masyarakat

BPS mengimbau agar masyarakat tidak ragu untuk melakukan verifikasi mandiri jika merasa data kesejahteraan mereka tidak sesuai dengan realita di lapangan. Kanal-kanal pengaduan dan pemutakhiran data di tingkat kelurahan atau desa harus dioptimalkan. Tanpa ada laporan dari bawah, pemerintah pusat akan kesulitan memotret kondisi ekonomi masyarakat secara presisi.

Kini, setelah statusnya direvisi menjadi Desil 3, Timbul setidaknya bisa sedikit bernapas lega. Peluang untuk mendapatkan keringanan biaya pendidikan bagi Lucky kembali terbuka lebar. Kejadian ini diharapkan menjadi momentum bagi instansi terkait seperti Badan Pusat Statistik dan Kementerian Sosial untuk terus melakukan validasi berkala agar tidak ada lagi ‘orang miskin yang dianggap kaya’ oleh sistem birokrasi kita.

Ke depannya, integritas data bukan sekadar soal urusan administratif, melainkan bentuk keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Pendidikan bagi anak-anak seperti Lucky adalah jembatan untuk memutus rantai kemiskinan, dan jangan sampai jembatan itu roboh hanya karena salah ketik atau kelalaian dalam memperbarui database negara.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *