Misi Besar Destry Damayanti: Merevitalisasi Lalu Lintas Devisa demi Memperkokoh Benteng Ekonomi Nasional

Citra Lestari | WartaLog
26 Agu 2026, 15:18 WIB
Misi Besar Destry Damayanti: Merevitalisasi Lalu Lintas Devisa demi Memperkokoh Benteng Ekonomi Nasional

WartaLog — Di tengah hiruk-pikuk dinamika ekonomi global yang kian menantang, arah kebijakan moneter Indonesia berada di ambang transformasi besar. Calon Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, membawa visi segar yang menitikberatkan pada penguatan fondasi devisa negara. Dalam sebuah sesi krusial di hadapan para wakil rakyat, Destry memaparkan rencana strategisnya untuk melakukan refocusing dan revitalisasi menyeluruh terhadap kebijakan Lalu Lintas Devisa (LLD) guna memastikan stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga di tengah badai eksternal.

Langkah ini bukan sekadar rutinitas administratif, melainkan sebuah respons taktis terhadap pergeseran peta kekuatan ekonomi dunia. Destry menekankan bahwa kebijakan LLD merupakan amanah konstitusional yang tertuang dalam Undang-Undang, dan menjadikannya sebagai prioritas utama adalah kunci untuk menghadapi volatilitas pasar global. Strategi ini dirancang untuk memperkuat daya tahan sektor eksternal Indonesia, baik dari sisi makroekonomi maupun penguatan infrastruktur pendukungnya.

Read Also

Dinamika Pasar Energi: Membedah Penurunan Harga Batu Bara Acuan Agustus 2026

Dinamika Pasar Energi: Membedah Penurunan Harga Batu Bara Acuan Agustus 2026

Menghadang Kebocoran: Melawan Under Invoicing dan Transfer Pricing

Salah satu poin paling krusial dalam paparan Destry adalah urgensi dalam menekan risiko under invoicing dan transfer pricing. Dua praktik ini sering kali menjadi celah bagi pelarian modal ke luar negeri yang merugikan pendapatan negara. Destry melihat adanya potensi kerugian yang cukup signifikan jika pengawasan terhadap arus devisa tidak diperketat. Melalui revitalisasi kebijakan LLD, Bank Indonesia diharapkan mampu menutup celah-celah tersebut dengan mekanisme pengawasan yang lebih ketat dan transparan.

Namun, Destry menyadari bahwa Bank Indonesia tidak bisa bergerak sendiri dalam medan tempur ini. Diperlukan sebuah orkestrasi yang harmonis dengan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari Direktorat Jenderal Bea dan Cukai hingga perbankan nasional. Sinergi data menjadi kata kunci. Tanpa integrasi data yang kuat antar-lembaga, upaya untuk melacak aliran dana yang mencurigakan akan menemui jalan buntu. Destry berkomitmen untuk membangun jembatan kolaborasi agar transaksi luar negeri dapat terpantau secara real-time dan akurat.

Read Also

Mekanisme Ketat Pelepasan Status WNI: Antara Kewajiban Pajak dan Filter Hukum yang Berlapis

Mekanisme Ketat Pelepasan Status WNI: Antara Kewajiban Pajak dan Filter Hukum yang Berlapis

Revolusi Digital: Implementasi Subtech dalam Pengawasan Devisa

Memasuki era industri 4.0, metode konvensional dalam mengawasi lalu lintas modal dirasa sudah tidak lagi memadai. Oleh karena itu, Destry mengusung penggunaan teknologi terkini sebagai tulang punggung pengawasan. Rencana implementasi pengawasan berbasis digital dan penggunaan supervisory technology atau subtech menjadi salah satu terobosan yang ia tawarkan. Dengan teknologi ini, proses audit dan pemantauan arus modal tidak lagi memerlukan waktu lama, melainkan bisa dilakukan dengan efisiensi tinggi melalui algoritma canggih.

Inovasi ini bertujuan untuk menciptakan ekosistem keuangan yang lebih sehat dan terukur. Dengan sistem yang terdigitalisasi, setiap pergerakan devisa akan meninggalkan jejak digital yang sulit untuk dimanipulasi. Hal ini secara langsung akan mendukung terciptanya stabilitas nilai tukar Rupiah yang lebih fundamental, bukan sekadar hasil intervensi pasar jangka pendek.

Read Also

Diplomasi Ekonomi Level Global: Danantara Gandeng Tony Blair Institute untuk Transformasi Radikal BUMN

Diplomasi Ekonomi Level Global: Danantara Gandeng Tony Blair Institute untuk Transformasi Radikal BUMN

Mendorong Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen Melalui Inklusi Keuangan

Visi Destry tidak hanya berhenti pada angka-angka neraca perdagangan. Ia mengaitkan penguatan devisa dengan cita-cita besar pemerintah untuk mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen. Menurutnya, pertumbuhan yang masif hanya bisa dicapai jika fondasi keuangannya bersifat inklusif dan berkelanjutan. Artinya, manfaat dari stabilitas devisa dan arus modal harus dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk para pelaku UMKM yang mulai merambah pasar ekspor.

Untuk mendukung visi tersebut, Bank Indonesia di bawah kepemimpinan yang ia proyeksikan akan terus mendorong penguatan sektor keuangan yang ramah terhadap semua golongan. Destry percaya bahwa dengan sistem keuangan yang inklusif, perputaran ekonomi di tingkat akar rumput akan menjadi motor penggerak utama bagi pertumbuhan nasional yang lebih berkualitas dan tahan banting terhadap guncangan eksternal.

Agenda Hijau: Instrumen Perhitungan Emisi dan Karbon

Menariknya, Destry juga membawa agenda keberlanjutan ke dalam inti kebijakan Bank Indonesia. Di tengah perhatian dunia terhadap perubahan iklim, BI berencana untuk mengembangkan instrumen serta metode perhitungan emisi dan karbon. Langkah ini sangat krusial bagi perusahaan dan perbankan yang kini dituntut untuk menerapkan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).

Bank Indonesia akan memfasilitasi pengembangan standar yang jelas dalam perhitungan karbon, sehingga sektor perbankan memiliki panduan yang solid dalam menyalurkan pembiayaan hijau. Ini adalah langkah visioner yang menempatkan Indonesia sebagai pemain penting dalam ekonomi hijau global. Dengan adanya standar perhitungan emisi yang akurat, pasar karbon di Indonesia diharapkan bisa tumbuh lebih pesat dan kredibel di mata investor internasional.

Memperkuat Kredibilitas Lewat Integritas Kelembagaan

Sebagai penutup dari visinya, Destry menekankan bahwa seluruh rencana besar tersebut hanya bisa terwujud jika Bank Indonesia memiliki kelembagaan yang kuat dan berintegritas. Ia berargumen bahwa mandat yang semakin besar dari negara harus dibarengi dengan penguatan tata kelola internal. Kredibilitas sebuah bank sentral tidaklah lahir dalam semalam, melainkan hasil dari akumulasi panjang konsistensi, inovasi, dan transparansi.

Destry berkomitmen untuk menjaga independensi Bank Indonesia sembari memperkuat koordinasi dengan pemerintah. Baginya, kredibilitas adalah modal utama bagi otoritas moneter untuk mendapatkan kepercayaan pasar. Dengan kepemimpinan yang fokus pada sinergi jangka panjang, ia yakin Bank Indonesia akan tetap menjadi garda terdepan dalam menjaga kedaulatan ekonomi bangsa di tengah ketidakpastian dunia.

  • Modernisasi sistem pemantauan devisa berbasis subtech dan big data.
  • Integrasi data antar-lembaga untuk memitigasi risiko pelarian modal.
  • Dukungan penuh terhadap target pertumbuhan ekonomi nasional yang ambisius.
  • Adopsi kebijakan ekonomi hijau melalui standarisasi perhitungan emisi karbon.
  • Penguatan integritas institusi untuk menjaga marwah bank sentral.

Ke depan, tantangan yang dihadapi tentu tidaklah mudah. Namun, dengan peta jalan yang telah disusun secara sistematis, Destry Damayanti optimistis bahwa Indonesia mampu menavigasi arus modal global dengan lebih bijak. Refocusing kebijakan LLD diharapkan menjadi titik balik bagi penguatan cadangan devisa dan stabilitas moneter yang lebih berkelanjutan bagi Indonesia.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *