Muktamar ke-35 NU di Jombang: Menjaga Khittah Moral dan Meneguhkan Peradaban Islam Nusantara

Akbar Silohon | WartaLog
26 Agu 2026, 07:18 WIB
Muktamar ke-35 NU di Jombang: Menjaga Khittah Moral dan Meneguhkan Peradaban Islam Nusantara

WartaLog — Tanah Jombang kembali bersiap menjadi saksi bisu bagi perjalanan sejarah salah satu organisasi keagamaan terbesar di dunia. Pada tanggal 27 hingga 31 Agustus 2026 mendatang, Nahdlatul Ulama (NU) dijadwalkan akan menggelar perhelatan akbar Muktamar ke-35 yang bertempat di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambak Beras. Lokasi ini bukan sekadar titik koordinat geografis, melainkan sebuah simbol spiritual yang membawa ingatan kolektif jamaah kembali pada akar perjuangan para pendiri atau muasis.

Nafas Perjuangan dari Rahim Pesantren

Memasuki abad kedua perjalanannya, Muktamar kali ini tampak membawa pesan yang sangat fundamental. Para kiai dan sesepuh NU seolah ingin menegaskan kembali bahwa jalan yang harus ditempuh organisasi ini adalah penguatan jati diri sebagai kekuatan moral dan kultural. Sebagaimana sejarah NU yang telah melampaui usia satu abad, keberlanjutan organisasi ini bukanlah sebuah kebetulan, melainkan hasil dari keteguhan memegang prinsip-prinsip dasar yang diletakkan oleh para ulama terdahulu.

Read Also

Fenomena Lelang KPK 2026: iPhone XS Seharga Rp 231 Ribu Terjual Fantastis Rp 34 Juta

Fenomena Lelang KPK 2026: iPhone XS Seharga Rp 231 Ribu Terjual Fantastis Rp 34 Juta

Tidak banyak organisasi di dunia yang mampu bertahan, apalagi terus berkembang pesat, di tengah gempuran perubahan zaman yang begitu dinamis. Keberhasilan NU dalam menjaga relevansinya, jika meminjam istilah dari KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, terletak pada penopang utamanya: para kiai dan komunitas pesantren sebagai sebuah subkultur yang mandiri. Di sinilah letak keunikan NU, di mana nilai-nilai agama tidak hanya diajarkan di dalam kelas, tetapi dihidupkan dalam praktik sosial sehari-hari.

Eksistensi NU sebagai Kekuatan Subkultur

Apa sebenarnya yang dimaksud dengan NU sebagai kekuatan subkultur? Secara mendalam, NU memiliki landasan epistemologis Asy’ariyah yang tidak kaku. Tradisi ini terus dikontekstualisasikan agar mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan esensinya. Kekuatan ini kemudian diikuti secara organik oleh jutaan jamaah di seluruh pelosok negeri. NU telah menjadi ruang budaya yang mempertemukan nilai-nilai keislaman dengan keindonesiaan, toleransi, dan kearifan lokal.

Read Also

Misteri Berdarah di Menteng: Persahabatan Satu Dekade yang Berakhir di Ujung Belati dan Bantahan Isu Bisnis

Misteri Berdarah di Menteng: Persahabatan Satu Dekade yang Berakhir di Ujung Belati dan Bantahan Isu Bisnis

Proses dialektika yang terjadi di lingkungan NU berlangsung secara alami. Hal inilah yang menjadi sumber kedigdayaan NU hingga saat ini. Modal sosial yang memberikan nyawa kepada organisasi ini adalah kepercayaan masyarakat terhadap integritas para ulamanya. Oleh karena itu, sangat penting bagi NU untuk tetap menjaga jarak yang proporsional dari hiruk-pikuk politik praktis yang seringkali bersifat pragmatis dan transaksional.

Menjauh dari Pragmatisme Politik

Salah satu kekhawatiran yang muncul menjelang Muktamar adalah potensi masuknya kepentingan politik yang dapat mengaburkan visi besar organisasi. Para pengamat dan jamaah berharap agar suksesi kepemimpinan di tubuh NU tidak diseret ke dalam pola-pola perebutan kekuasaan layaknya partai politik. NU adalah wajah Islam Indonesia, sebuah potret Islam yang moderat (wasathiyah) yang kini menjadi kiblat bagi dunia internasional.

Read Also

Skandal ‘Label Harga’ Jabatan: KPK Ungkap Bupati Tulungagung Sasar Camat dan Kepsek dalam Pusaran Pemerasan

Skandal ‘Label Harga’ Jabatan: KPK Ungkap Bupati Tulungagung Sasar Camat dan Kepsek dalam Pusaran Pemerasan

Keteladanan para pemimpin NU seharusnya bersumber dari moralitas yang tinggi, bukan dari kekuatan logistik atau lobi-lobi politik. Sejarah mencatat bahwa NU didirikan dengan penuh tirakat dan laku spiritual. Bahkan untuk hal-hal yang terlihat sederhana seperti pembuatan logo organisasi, para muasis melakukan laku batin yang mendalam demi mendapatkan ridho Allah SWT. Semangat keikhlasan inilah yang harus tetap menjadi napas utama dalam setiap pengambilan keputusan besar di Muktamar nanti.

Filosofi Kepemimpinan: Menghindari Ambisi

Dalam tradisi pesantren, jabatan seringkali dipandang sebagai amanah berat yang menakutkan, bukan sesuatu yang harus dikejar. Kita sering melihat fenomena di mana para kiai justru ‘menyembunyikan diri’ atau merasa tidak pantas saat dicalonkan menjadi pemimpin, meskipun secara kapasitas mereka sudah sangat mumpuni. Ada rasa takut akan ‘kuwalat’ kepada para pendiri jika dalam memimpin organisasi terdapat kekeliruan yang fatal.

Budaya rendah hati dan ketulusan inilah yang diharapkan tetap hidup dalam Muktamar ke-35 di Jombang. Para peserta Muktamar memikul tanggung jawab besar untuk menjaga agar proses regenerasi kepemimpinan tetap berada pada jalur moral dan transendental. Dengan demikian, NU akan tetap menjadi lembaga yang berwibawa di mata umat dan bangsa.

Menjawab Agenda Keumatan di Akar Rumput

Lebih dari sekadar urusan suksesi, Muktamar NU diharapkan menjadi momentum untuk membedah problem nyata yang dihadapi umat. Di tingkat akar rumput, tantangan seperti kemiskinan, pengangguran, krisis sektor pertanian, hingga isu lingkungan hidup memerlukan solusi konkret. NU tidak boleh hanya sibuk di level elit sementara jamaahnya di desa-desa berjuang melawan kesulitan ekonomi.

Apalagi, tantangan global saat ini semakin kompleks. Konflik di Timur Tengah yang berdampak pada stabilitas ekonomi domestik hingga fenomena kemerosotan demokrasi di berbagai belahan dunia menjadi catatan penting. Sebagai organisasi yang lahir dari rahim pedesaan, NU kini telah bertransformasi. Harapan terhadap NU kini melampaui kedudukannya sebagai komunitas subkultur lokal; NU kini dituntut menjadi kekuatan yang mampu memberikan arah bagi peradaban global.

Transformasi Menjadi Kekuatan Diasporik

Saat ini, NU didukung oleh ratusan ribu sarjana dan intelektual yang telah menimba ilmu di berbagai universitas terbaik di seluruh penjuru dunia. Kombinasi antara tradisi intelektual pesantren dengan metodologi sains modern adalah modal yang sangat kuat. NU bukan lagi sekadar entitas lokal, melainkan kekuatan diasporik yang memiliki peran penting dalam menjawab persoalan kemanusiaan secara universal.

Kita bisa mengambil pelajaran dari sejarah kejayaan Islam pada masa Dinasti Abbasiyah antara abad ke-8 hingga ke-13 Masehi. Kejayaan masa itu bukan terletak pada kekuatan militer atau dominasi politiknya, melainkan pada kontribusinya terhadap ilmu pengetahuan. Ketika politik menjadi panglima dan pertikaian kekuasaan merajalela, peradaban Islam justru mulai meredup. Sebaliknya, saat ilmu pengetahuan dijunjung tinggi, Islam menjadi sumber cahaya bagi dunia melalui tokoh-tokoh seperti Al-Khawarizmi, Ibnu Sina, dan Ibnu Rusyd.

Masa Depan NU dan Relevansi Bahtsul Masail

Agar tetap relevan di masa depan, NU harus terus memperkuat forum-forum ilmiah seperti Bahtsul Masail. Forum ini tidak boleh hanya membahas persoalan fiqih ibadah secara sempit, tetapi harus mampu merespons isu-isu kontemporer seperti etika digital, ekonomi syariah berbasis teknologi, hingga keadilan iklim. Hasil-hasil pemikiran dari forum inilah yang akan menempatkan NU sebagai organisasi yang solutif.

Sebagai organisasi yang telah menyatu dengan urat nadi bangsa Indonesia, keberhasilan Muktamar ke-35 akan menjadi indikator kesehatan demokrasi dan kehidupan beragama di tanah air. Dengan tetap teguh pada jalan keteladanan moral dan spiritual, NU akan terus dibutuhkan kehadirannya sebagai penengah dan pemberi jalan keluar atas berbagai kemelut bangsa. Selamat bermuktamar bagi seluruh warga Nahdliyin, semoga Allah SWT senantiasa memberikan bimbingan dan ridho-Nya demi kemaslahatan umat manusia.

Akbar Silohon

Akbar Silohon

Hi, saya senang berbagi berita terupdate.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *