Transformasi Megah Bawah Tanah Bundaran HI: Proyek Rp 200 Miliar yang Mengubah Wajah Pejalan Kaki Jakarta
WartaLog — Di balik hiruk-pikuk kemacetan dan deretan gedung pencakar langit yang mengepung jantung Ibu Kota, sebuah revolusi infrastruktur sedang dalam proses pengerjaan di kedalaman belasan meter di bawah permukaan tanah. Jakarta sedang bersiap menyambut era baru mobilitas urban yang lebih manusiawi melalui proyek ambisius extended concourse atau ruang multifungsi di Stasiun MRT Bundaran HI. Proyek ini bukan sekadar pembangunan lorong penghubung, melainkan sebuah transformasi kawasan yang akan mengintegrasikan pusat bisnis, perbelanjaan, dan transportasi publik dalam satu ekosistem bawah tanah yang modern.
Langkah besar ini diambil oleh PT MRT Jakarta (Perseroda) melalui anak usahanya, PT Integrasi Transit Jakarta (ITJ), dengan nilai investasi yang fantastis, yakni mencapai Rp 200 miliar. Kehadiran pedestrian bawah tanah ini diprediksi akan menjadi standar baru bagi kenyamanan pejalan kaki di kota metropolitan, sekaligus menegaskan posisi Jakarta sebagai kota global yang terus berbenah dalam aspek konektivitas intermoda.
APINDO Bantah Tudingan Magang Sebagai Kedok Upah Murah, Sebut Demi Dongkrak Kualitas SDM
Detail Proyek: Membangun Kota di Bawah Tanah
Proyek extended concourse Stasiun MRT Bundaran HI dirancang untuk mencakup area seluas 4.439 meter persegi. Angka ini bukanlah luas yang main-main untuk sebuah ruang di bawah tanah. Terletak di kedalaman sekitar 18 meter dari permukaan jalan, area ini diposisikan tepat satu level di atas peron tempat kereta MRT melintas. Dengan desain yang futuristik, area ini tidak hanya berfungsi sebagai akses lalu lintas manusia, tetapi juga akan diisi dengan berbagai fasilitas retail dan area komersial yang dapat dinikmati oleh para komuter.
Direktur Utama PT Integrasi Transit Jakarta (ITJ), Yulham Ferdiansyah Roestam, menjelaskan bahwa saat ini fokus utama pekerjaan adalah di area bawah Halte Transjakarta Bundaran HI Astra. Di titik ini, pengembang tengah berupaya membuka dua jalur utama yang disebut sebagai ‘muara’. Kedua akses ini akan menjadi pintu gerbang utama yang menghubungkan dunia bawah tanah dengan gedung-gedung ikonik di sekitarnya. Cari tahu lebih lanjut mengenai perkembangan MRT Jakarta di sini.
Langkah KAI Menuju Era B50: Menilik Kesiapan Si Ular Besi Hadapi Transisi Energi Hijau
Akses pertama, yakni Muara Barat, akan tersambung langsung dengan Plaza Indonesia dan Hotel Grand Hyatt. Sementara itu, Muara Timur akan menjadi jembatan penghubung bagi warga yang ingin menuju Wisma Nusantara dan Hotel Pullman tanpa harus terpapar teriknya matahari atau guyuran hujan di permukaan jalan. Ini adalah solusi nyata bagi integrasi kawasan Bundaran HI yang selama ini terpisah oleh lebar jalan protokol.
Pendanaan Cerdas Melalui Skema KLB
Satu hal yang menarik dari proyek ini adalah mekanisme pendanaannya. Alih-alih mengandalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), proyek ini menggunakan skema Koefisien Lantai Bangunan (KLB). Skema ini merupakan instrumen pendanaan alternatif yang cerdas, di mana dana berasal dari kompensasi yang diberikan oleh pengembang gedung swasta yang membangun bangunan melebihi batas aturan luas bangunan yang ditetapkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Membongkar Tabir Penundaan Laporan Keuangan Danantara: Langkah Berani ‘Bersih-bersih’ Rp 100 Triliun
Yulham mengungkapkan bahwa total kontribusi dari dana KLB ini diperkirakan mencapai lebih dari Rp 200 miliar setelah dipotong pajak. Secara lebih mendetail, sekitar Rp 181 miliar merupakan dana bersih di luar pajak, di mana Rp 150 miliar dialokasikan khusus untuk biaya konstruksi fisik. Sisanya digunakan untuk membiayai konsultan perencana dan konsultan pengawas guna memastikan standar kualitas internasional tetap terjaga. Pelajari bagaimana infrastruktur kota modern dibiayai melalui skema kreatif ini.
Konektivitas Tanpa Batas: Menghubungkan Ikon-Ikon Jakarta
Ambisi MRT Jakarta tidak berhenti pada dua gedung saja. Dalam rencana jangka panjangnya, extended concourse ini akan terus dikembangkan hingga menjangkau gedung-gedung besar lainnya di kawasan tersebut. Visi besarnya adalah menciptakan jaringan pejalan kaki bawah tanah yang menghubungkan empat hotel mewah sekaligus di Bundaran HI, termasuk Hotel Mandarin Oriental, Grand Indonesia, dan Hotel Kempinski.
Untuk memudahkan proses penyambungan di masa depan, ITJ telah menyiapkan sistem knockdown panel. Panel ini merupakan dinding yang dirancang khusus agar dapat dengan mudah dibongkar pasang saat akan dilakukan interkoneksi langsung ke area basement gedung-gedung di sekitarnya. Dengan demikian, proses integrasi di masa depan tidak akan mengganggu aktivitas stasiun yang sudah berjalan. Ini adalah bagian penting dari pengembangan pejalan kaki yang modern.
Selain kemudahan akses antar-gedung, proyek ini juga sangat memperhatikan fasilitas penunjang. Di setiap sisi muara, akan tersedia fasilitas modern mulai dari tangga manual, eskalator, hingga lift yang ramah bagi penyandang disabilitas. Selain itu, akan ada akses yang menyatukan Stasiun MRT Bundaran HI secara langsung dengan Halte TransJakarta, sehingga perpindahan moda transportasi menjadi jauh lebih mulus dan cepat.
Meningkatkan Ridership dan Menyambut ‘Jakarta 5 Abad’
Pembangunan ruang multifungsi ini bukan tanpa alasan strategis. Dengan semakin luasnya jaringan MRT yang kini tengah membangun rute menuju Stasiun Thamrin dan Stasiun Monas, diprediksi jumlah penumpang atau ridership di Stasiun Bundaran HI akan melonjak drastis. Estimasi kenaikan mencapai 6.000 penumpang per hari seiring dengan semakin mudahnya akses yang tersedia. Kunjungi laman transportasi publik untuk informasi terkini lainnya.
Hingga Juli 2025, progres pembangunan fisik proyek ini telah mencapai angka 21,46%. Pihak pengelola optimis bahwa pada bulan Agustus ini, progres dapat menyentuh angka 24%. Jika semuanya berjalan sesuai rencana, akses Muara Timur dan Barat ditargetkan sudah dapat dinikmati oleh publik pada Mei 2027 mendatang.
Waktu penyelesaian ini dipilih bukan tanpa alasan. Mei 2027 diharapkan menjadi momen peresmian oleh Gubernur Jakarta (Pramono Anung), yang kemudian akan berlanjut pada perayaan besar di bulan Juni untuk menyambut ulang tahun Jakarta yang ke-500 atau ‘Jakarta 5 Abad’. Ini akan menjadi kado istimewa bagi warga Jakarta, menandai setengah milenium usia kota ini dengan fasilitas kelas dunia yang membanggakan.
Mengapa Proyek Ini Penting Bagi Jakarta?
Keberadaan pedestrian bawah tanah di Bundaran HI adalah simbol dari kota yang sedang bertransformasi menuju keberlanjutan. Selama puluhan tahun, Jakarta sering dikritik sebagai kota yang tidak ramah bagi pejalan kaki. Namun, melalui proyek senilai Rp 200 miliar ini, paradigma tersebut mulai bergeser. Pembangunan pembangunan Jakarta kini tidak lagi hanya berfokus pada jalan untuk kendaraan bermotor, tetapi pada kenyamanan manusia sebagai penghuni utamanya.
Dengan adanya area retail di sepanjang lorong bawah tanah, ekonomi lokal juga akan terdorong. Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) maupun brand internasional akan mendapatkan ruang baru untuk berinteraksi dengan ribuan calon konsumen yang melintas setiap harinya. Ini menciptakan denyut ekonomi baru di bawah permukaan tanah yang selama ini hanya dianggap sebagai fondasi gedung.
Pada akhirnya, extended concourse Bundaran HI adalah sebuah investasi jangka panjang. Ia bukan sekadar proyek konstruksi, melainkan upaya untuk membangun kultur baru di masyarakat: kultur berjalan kaki dan menggunakan transportasi umum. Saat terowongan ini diresmikan nanti, Bundaran HI tidak hanya akan dikenal karena patung Selamat Datangnya, tetapi juga karena kemegahan infrastruktur bawah tanahnya yang menghubungkan mimpi-mimpi warga Jakarta dengan realitas mobilitas yang lebih baik.