Misteri Potongan Kaki di Kali Licin: Perjuangan Polisi Mengungkap Tabir Mutilasi Sadis di Depok

Akbar Silohon | WartaLog
07 Agu 2026, 21:20 WIB
Misteri Potongan Kaki di Kali Licin: Perjuangan Polisi Mengungkap Tabir Mutilasi Sadis di Depok

WartaLog — Suasana di bantaran Kali Licin, Cipayung, Depok, mendadak berubah menjadi mencekam. Aliran air yang biasanya tenang kini menjadi pusat perhatian tim penyidik dan warga setempat. Di balik riak air yang keruh, tersimpan sebuah teka-teki kelam yang hingga kini masih coba dipecahkan oleh aparat kepolisian: keberadaan sepasang kaki milik korban mutilasi berinisial K (51).

Penyisiran Intensif di Jantung Cipayung

Pihak kepolisian dari Satreskrim Polres Metro Depok yang bekerja sama erat dengan Ditreskrimum Polda Metro Jaya tidak tinggal diam. Sejak kasus ini mencuat ke permukaan, penyisiran di sepanjang aliran sungai terus dilakukan secara intensif. Dirkrimum Polda Metro Jaya, Kombes Iman Imanuddin, menegaskan bahwa pencarian bagian tubuh korban merupakan prioritas utama untuk melengkapi berkas penyidikan sekaligus memberikan keadilan bagi keluarga korban.

Read Also

Sinergi Strategis di Bukit Rimbang Baling: Polda Riau dan Mahasiswa Bersatu Melawan Karhutla serta Peredaran Narkoba

Sinergi Strategis di Bukit Rimbang Baling: Polda Riau dan Mahasiswa Bersatu Melawan Karhutla serta Peredaran Narkoba

“Kami dari jajaran penyidik terus berupaya keras di lapangan. Fokus utama kami saat ini adalah menemukan potongan badan bagian bawah, yakni kedua kaki korban, yang menurut keterangan tersangka dibuang ke aliran sungai ini,” ujar Kombes Iman saat memberikan keterangan kepada awak media pada Jumat (7/8/2026).

Pencarian ini bukan sekadar tugas rutin kepolisian, melainkan sebuah misi kemanusiaan untuk menyatukan kembali jasad korban yang telah diperlakukan secara keji oleh pelaku. Polisi telah memetakan beberapa titik potensial di sepanjang Kali Licin yang diduga menjadi lokasi tersangkutnya potongan tubuh tersebut.

Kendala Alam: Arus Sungai dan Teka-Teki Lokasi Pembuangan

Namun, upaya ini bukannya tanpa hambatan. Alam seolah menjadi tantangan tersendiri bagi para petugas. Kombes Iman mengungkapkan bahwa aliran sungai yang cukup deras dan berubah-ubah menjadi kendala utama dalam proses pencarian. Kecepatan arus air disinyalir telah membawa potongan tubuh tersebut jauh dari titik awal pembuangan.

Read Also

Sultan Bachtiar Najamudin Desak Penguatan Peran BRG: Solusi Jangka Panjang Atasi Karhutla Kalimantan

Sultan Bachtiar Najamudin Desak Penguatan Peran BRG: Solusi Jangka Panjang Atasi Karhutla Kalimantan

“Tantangan terbesarnya adalah kita tidak bisa memastikan titik presisi di mana tersangka pertama kali membuang potongan tersebut. Dengan adanya aliran air yang cukup kuat, sangat mungkin potongan itu hanyut mengikuti arus sungai,” jelasnya. Ketidakpastian lokasi awal ini memaksa tim untuk menyisir area yang lebih luas, mulai dari titik yang dicurigai hingga ke hilir sungai.

Selain arus, tim di lapangan juga harus berhadapan dengan tumpukan sampah dan sedimentasi lumpur yang tebal di dasar sungai. Kondisi ini membuat visibilitas di dalam air menjadi sangat minim, sehingga proses pencarian memerlukan ketelitian ekstra dan waktu yang lebih lama dari yang diperkirakan sebelumnya.

Melibatkan Satuan K-9: Ketajaman Indra Roby dan Dasa

Untuk mengoptimalkan pencarian, pihak kepolisian mengerahkan unit deteksi terbaik mereka. Dua anjing pelacak dari Tim K-9 Polri, yang masing-masing bernama Roby dan Dasa, diterjunkan langsung ke lokasi. Kehadiran anjing-anjing terlatih ini diharapkan dapat memberikan titik terang melalui indra penciuman mereka yang tajam.

Read Also

Misteri di Balik Deburan Ombak: Aksi Nekat Wanita Menceburkan Diri di Pantai Parangtritis

Misteri di Balik Deburan Ombak: Aksi Nekat Wanita Menceburkan Diri di Pantai Parangtritis

“Kami harus mengatur strategi dan stamina tim, termasuk tim K-9, agar pencarian ini bisa bertahan lama sampai hasil yang diinginkan tercapai. Kami tidak akan berhenti sampai potongan tersisa itu ditemukan,” tambah Kombes Iman. Tim K-9 menyisir pinggiran sungai dan area-area rimbun di sekitar Kali Licin yang sulit dijangkau oleh pandangan manusia biasa.

Keterlibatan unit K-9 dalam kasus mutilasi Depok ini menunjukkan betapa seriusnya aparat dalam menangani kasus kriminalitas yang mengguncang ketenangan warga Jabodetabek ini. Setiap jengkal tanah dan sudut sungai diperiksa dengan saksama demi menemukan petunjuk sekecil apa pun.

Kronologi Penemuan: Dari Sampah Hingga Tragedi

Kasus ini bermula dari sebuah kejadian yang sangat tidak terduga di sebuah lahan kosong. Jauh sebelum identitas korban terungkap, sebuah karung misterius sebenarnya sudah berada di lokasi tersebut sejak 24 Juli 2026. Warga sekitar awalnya menganggap karung itu hanyalah tumpukan sampah yang dibuang oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

Bau tidak sedap yang mulai menyengat sempat dikira berasal dari bangkai hewan atau limbah domestik. Puncaknya terjadi pada Selasa, 4 Agustus, ketika seorang warga berniat membersihkan lahan tersebut dengan cara membakar tumpukan sampah, termasuk karung misterius itu. Namun, betapa terkejutnya mereka saat melihat isi di dalam karung yang terbakar tersebut bukanlah sampah plastik, melainkan jasad manusia yang kondisinya sudah tidak utuh.

Geger di tengah masyarakat pun tak terelakkan. Tim Inafis dan penyidik segera melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) secara menyeluruh. Berdasarkan bukti-bukti yang ditemukan di lokasi serta keterangan saksi-saksi kunci, polisi berhasil mengantongi nama calon tersangka utama.

Jejak Pelarian Saepul: Sang Mantan Bintang yang Menjadi Pembunuh

Penyelidikan mendalam mengarah pada sosok pria berusia 26 tahun bernama Saepul. Yang mengejutkan, Saepul diketahui pernah mencoba peruntungan di dunia hiburan dengan mengikuti ajang pencarian bakat di televisi. Namun, kegemilangan yang ia dambakan justru berakhir di balik jeruji besi akibat tindakan kejinya terhadap K (51).

Mengetahui dirinya menjadi buruan polisi, Saepul sempat mencoba melarikan diri. Pelariannya berakhir ketika Tim Subdit Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya berhasil melacak keberadaannya di wilayah Pandeglang, Banten. Penangkapan yang dilakukan pada Rabu (5/8) tersebut berlangsung tanpa perlawanan berarti, dan tersangka langsung dibawa kembali ke Jakarta untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Motif di balik tindakan sadis ini masih terus didalami oleh pihak kepolisian. Spekulasi mengenai konflik pribadi hingga masalah keuangan sempat beredar, namun polisi tetap berpegang pada fakta-fakta hukum yang ditemukan selama proses penyelidikan polisi.

Komitmen Polisi dan Harapan Masyarakat

Kini, perhatian publik tertuju pada bagaimana akhir dari proses hukum kasus ini. Warga Depok, khususnya di wilayah Cipayung, berharap agar seluruh potongan tubuh korban segera ditemukan agar proses pemakaman dapat dilakukan secara layak sesuai dengan syariat agama dan nilai kemanusiaan.

Tragedi ini menjadi pengingat pahit tentang pentingnya kewaspadaan di lingkungan sekitar. Polisi mengimbau warga untuk segera melaporkan hal-hal mencurigakan, sekecil apa pun, guna mencegah terjadinya tindak kriminalitas serupa di masa mendatang. Dengan dukungan teknologi forensik dan dedikasi personel di lapangan, misteri potongan kaki di Kali Licin diharapkan akan segera terpecahkan.

Kasus ini juga menambah daftar panjang tantangan bagi Polres Depok dan Polda Metro Jaya dalam menjaga keamanan di wilayah penyangga ibu kota. Keberhasilan dalam menangkap tersangka dalam waktu singkat patut diapresiasi, namun penyelesaian pencarian korban tetap menjadi utang yang harus segera dilunasi oleh tim penyidik di lapangan.

Hingga berita ini diturunkan, tim gabungan masih bersiaga dan melakukan penyisiran berkala di sepanjang aliran Kali Licin. Harapan masih ada, dan keadilan bagi korban K (51) sedang diperjuangkan di setiap aliran air sungai yang mengalir di tanah Depok ini.

Akbar Silohon

Akbar Silohon

Hi, saya senang berbagi berita terupdate.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *