Filosofi ‘Tanpa Sekat’: Alasan Bos Lippo James Riady Enggan Pasang Pagar Tinggi di Mal

Citra Lestari | WartaLog
31 Jul 2026, 19:18 WIB
Filosofi 'Tanpa Sekat': Alasan Bos Lippo James Riady Enggan Pasang Pagar Tinggi di Mal

WartaLog — Di tengah tren pusat perbelanjaan modern yang mulai memperketat akses fisik mereka, sebuah langkah kontraintuitif justru diambil oleh raksasa properti tanah air, Lippo Group. Saat banyak pengelola mal mulai membangun barikade besi yang menjulang tinggi, James Riady, nahkoda utama Lippo Group, justru memilih jalan yang berseberangan. Baginya, mal seharusnya menjadi ruang terbuka yang menyatu dengan denyut nadi masyarakat, bukan sebuah benteng eksklusif yang terisolasi dari lingkungan sekitarnya.

Visi Keterbukaan di Tengah Tren Barikade Mal

Beberapa waktu terakhir, pemandangan di sejumlah kota besar seperti Jakarta dan Surabaya mulai berubah. Pusat perbelanjaan yang biasanya memiliki akses terbuka dari berbagai sisi, kini mulai memagari area mereka dengan pagar besi yang cukup tinggi. Fenomena ini memicu beragam spekulasi di tengah masyarakat, mulai dari isu keamanan hingga pengaturan arus pengunjung yang lebih ketat.

Read Also

Kedaulatan Energi di Tangan Negara: Bahlil Ungkap Rencana Kontrak Minyak Jangka Panjang dengan Rusia

Kedaulatan Energi di Tangan Negara: Bahlil Ungkap Rencana Kontrak Minyak Jangka Panjang dengan Rusia

Namun, kebijakan berbeda diterapkan pada jaringan mal di bawah naungan Lippo Group. James Riady menegaskan bahwa pihaknya tidak memiliki rencana untuk mengikuti jejak tersebut. Sebaliknya, dalam satu dekade terakhir, Lippo justru gencar melakukan pembongkaran pembatas fisik di properti-properti mereka.

“Pasti tidak. Yang terjadi selama 10 tahun ini adalah pagar-pagar itu di semua mal Lippo justru kita bongkar, kita turunkan,” ujar James Riady dengan nada optimis saat ditemui wartawan di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, baru-baru ini. Pernyataan ini disampaikan usai dirinya menghadiri pertemuan penting antara Kadin Indonesia dengan Presiden Prabowo Subianto.

Mengapa Mal Mulai ‘Memagari’ Diri?

Fenomena pemasangan pagar tinggi ini memang bukan isapan jempol semata. Berdasarkan pantauan di lapangan, sejumlah mal prestisius seperti Kota Kasablanka (Kokas) di Jakarta dan beberapa mal besar di Surabaya telah menerapkan kebijakan ini. Langkah ini diambil dengan alasan yang bersifat teknis dan operasional.

Read Also

Waspada Modus Baru Penipuan Berkedok Nonton Drama China: Hobi yang Berujung Rugi

Waspada Modus Baru Penipuan Berkedok Nonton Drama China: Hobi yang Berujung Rugi

Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Alphonzus Widjaja, memberikan penjelasan mendalam mengenai hal ini. Menurutnya, pemasangan pagar bukan semata-mata soal keamanan mal dalam arti sempit, melainkan lebih kepada ketertiban lalu lintas dan manajemen pengunjung.

“Tujuan utamanya adalah untuk menertibkan arus keluar masuk pengunjung. Jika area mal terlalu terbuka tanpa batas yang jelas, pengunjung cenderung masuk dan keluar dari sudut mana saja. Hal ini sering kali membahayakan keselamatan lalu lintas di sekitar area mal karena banyaknya orang yang menyeberang secara sembarangan,” jelas Alphonzus.

Antara Estetika Urban dan Proteksi Aset

Selain alasan manajemen arus manusia, Alphonzus juga menyinggung aspek proteksi aset, terutama bagi mal-mal yang berlokasi di titik strategis pusat kota. Kawasan yang sering menjadi titik konsentrasi massa atau demonstrasi biasanya memerlukan perlindungan ekstra. Pagar besi dianggap sebagai langkah preventif untuk meminimalisir risiko kerusakan fisik bangunan saat terjadi dinamika sosial di luar kendali pengelola.

Read Also

Strategi Transformasi Ekosistem Emas Nasional: Menarik Tambang Rakyat ke Dalam Jalur Formal Demi Kedaulatan Ekonomi

Strategi Transformasi Ekosistem Emas Nasional: Menarik Tambang Rakyat ke Dalam Jalur Formal Demi Kedaulatan Ekonomi

Meskipun demikian, Alphonzus menekankan bahwa pemasangan pagar ini bukanlah hal baru. Banyak pengembang yang sejak awal pembangunan sudah menyertakan pagar dalam desain arsitektur mereka. Namun, bagi mal yang baru memasangnya sekarang, hal itu merupakan respon terhadap evaluasi operasional jangka panjang terkait kenyamanan pengunjung dan efisiensi pengamanan.

Tanggapan Pemerintah: Isu Keamanan Masih Kondusif

Menteri Perdagangan Budi Santoso turut angkat bicara mengenai kegelisahan publik terkait tren ‘pagar tinggi’ ini. Setelah melakukan koordinasi intensif dengan APINDO (Asosiasi Pengusaha Indonesia) dan APPBI, ia memastikan bahwa fenomena ini tidak mengindikasikan adanya degradasi situasi keamanan nasional.

“Oh tidak, tidak ada masalah keamanan. Berdasarkan koordinasi kami dengan para pelaku usaha, tidak ada isu genting. Ini murni kebijakan internal pengelola mal untuk kenyamanan operasional mereka,” tegas Budi Santoso di kesempatan yang sama.

Pemerintah tampaknya ingin memberikan sinyal positif kepada investor dan masyarakat bahwa iklim usaha dan investasi properti di Indonesia tetap dalam kondisi yang aman dan terkendali, meskipun terdapat perubahan-perubahan kecil dalam manajemen fisik bangunan komersial.

Filosofi Lippo: Integrasi dengan Lingkungan Sekitar

Kembali ke visi Lippo Group, keputusan untuk merobohkan pagar mencerminkan pergeseran paradigma dalam dunia ritel. Di era digital ini, mal tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat transaksi jual beli, melainkan telah bertransformasi menjadi community hub atau ruang ketiga bagi masyarakat setelah rumah dan kantor.

Dengan menurunkan pembatas, Lippo ingin menciptakan kesan bahwa mal adalah bagian integral dari infrastruktur kota yang inklusif. Tanpa adanya pagar yang kaku, integrasi antara jalur pedestrian dan area komersial menjadi lebih mulus. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan foot traffic atau jumlah kunjungan secara organik karena aksesibilitas yang lebih mudah bagi pejalan kaki.

Strategi James Riady ini sejalan dengan tren global new urbanism, di mana bangunan-bangunan besar didorong untuk ‘berbicara’ dengan jalanan di depannya, menciptakan lingkungan yang lebih ramah bagi manusia ketimbang hanya bagi kendaraan bermotor.

Tantangan Manajemen Mal Tanpa Pagar

Tentu saja, kebijakan tanpa pagar yang diusung Lippo bukan tanpa tantangan. Pengelola harus mengerahkan sumber daya manusia (SDM) keamanan yang lebih proaktif dan teknologi pemantauan yang lebih canggih untuk memastikan area tetap kondusif tanpa adanya sekat fisik. Namun, bagi Lippo, nilai estetika dan keterbukaan jauh lebih berharga dibandingkan rasa aman semu yang diberikan oleh jeruji besi.

Keputusan ini juga menunjukkan kepercayaan diri yang tinggi terhadap stabilitas nasional di bawah kepemimpinan baru. Dengan tetap membuka pintu lebar-lebar bagi masyarakat, Lippo seolah mengirimkan pesan bahwa ekonomi nasional sedang bergerak ke arah yang lebih terbuka dan kolaboratif.

Kesimpulan: Dua Jalan Menuju Kenyamanan Pelanggan

Pada akhirnya, perbedaan kebijakan antara Lippo Group dan pengelola mal lainnya seperti Kokas hanyalah soal perspektif dalam mencapai tujuan yang sama: kenyamanan pelanggan. Sementara pihak lain memprioritaskan ketertiban dan keamanan fisik melalui barikade, Lippo memilih pendekatan psikologis yang lebih hangat dan menyambut.

Ke depannya, wajah pusat perbelanjaan di Indonesia mungkin akan semakin beragam. Sebagian akan terlihat lebih tertutup dan teratur, sementara sebagian lagi akan semakin menyatu dengan trotoar dan lanskap kota. Bagi konsumen, yang terpenting adalah bagaimana ruang-ruang publik privat ini tetap mampu memberikan pengalaman berbelanja dan bersosialisasi yang menyenangkan tanpa merasa terintimidasi oleh struktur bangunan di sekelilingnya.

Pilihan James Riady untuk tetap menjaga mal-mal Lippo tetap ‘rendah hati’ tanpa pagar tinggi mungkin akan menjadi standar baru bagi pengembangan properti masa depan yang lebih memanusiakan penghuninya.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *