Revolusi Energi Hijau: Bukan Sekadar Tebu, Singkong dan Jagung Kini Masuk Radar Bioetanol Nasional
WartaLog — Langkah Indonesia menuju kemandirian energi semakin nyata melalui ambisi besar dalam bauran energi terbarukan. Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah mematangkan langkah strategis untuk memperluas basis bahan baku bioetanol guna mendukung program mandatori campuran etanol ke dalam bensin sebesar 20 persen, atau yang akrab dikenal sebagai program E20. Targetnya pun tidak main-main, kebijakan ini diproyeksikan akan mulai diimplementasikan secara penuh pada Januari 2028 mendatang.
Selama ini, publik lebih mengenal tetes tebu atau molase sebagai bahan baku utama pembuatan etanol. Namun, menyadari bahwa ketergantungan pada satu komoditas saja tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan nasional yang masif, pemerintah kini mulai melirik potensi besar dari komoditas pertanian lainnya. Fokus utama saat ini diarahkan pada singkong varietas khusus dan limbah jagung yang selama ini sering kali hanya dipandang sebelah mata.
Sinergi Strategis BCA Digital dan Monit: Hadirkan Kartu bluCorporate untuk Solusi Efisiensi Bisnis
Diversifikasi Bahan Baku demi Keamanan Pangan
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, dalam keterangannya baru-baru ini menekankan pentingnya pemilihan bahan baku yang tidak mengganggu rantai pasok pangan nasional. Isu ‘food vs fuel’ atau persaingan antara kebutuhan perut dan kebutuhan mesin sering kali menjadi ganjalan dalam pengembangan bioetanol di berbagai belahan dunia.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, Eniya menjelaskan bahwa salah satu komoditas yang menjadi incaran adalah singkong varietas Mukibat. Berbeda dengan singkong konsumsi yang biasa kita temui di pasar, singkong Mukibat memiliki karakteristik unik yang membuatnya sangat ideal untuk industri energi namun kurang diminati sebagai bahan pangan meja.
Strategi Cerdas Mengubah Minyak Jelantah Jadi Saldo E-Wallet di SPBU Pertamina: Panduan Lengkap Mendulang Cuan dari Dapur
“Singkong atau cassava ini, khususnya varietas Mukibat, memiliki ukuran yang sangat besar. Yang paling penting adalah rasanya yang cenderung lebih pahit, sehingga tidak berbenturan langsung dengan kebutuhan konsumsi masyarakat. Selain itu, kandungan patinya juga lumayan besar, yang merupakan komponen kunci dalam produksi etanol,” ungkap Eniya saat ditemui dalam agenda Pekan Riset Sawit Indonesia di Jakarta Pusat.
Memanfaatkan Limbah: Peran Bonggol Jagung dalam E20
Selain singkong, inovasi juga merambah ke sektor komoditas jagung. Menariknya, pemerintah tidak berniat menggunakan biji jagung yang merupakan bahan pokok pangan dan pakan ternak. Fokus riset dan pengembangan kini diletakkan pada tongkol atau bonggol jagung yang biasanya dibuang begitu saja setelah masa panen selesai.
Prabowo Tegaskan Indonesia Bukan Lagi Raksasa Tidur: Fokus Hilirisasi dan Kedaulatan Sumber Daya
Pemanfaatan bonggol jagung ini merupakan bentuk nyata dari konsep ekonomi sirkular. Dengan memanfaatkan sisa hasil pertanian, nilai tambah yang dihasilkan bagi petani akan meningkat secara signifikan. Strategi ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem energi terbarukan yang berkelanjutan tanpa harus mengorbankan stabilitas harga pangan nasional.
“Logikanya sama seperti tebu. Semakin banyak kita memproduksi gula, semakin melimpah pula molase yang kita dapatkan untuk bioetanol. Begitu juga dengan jagung, semakin produktif lahan jagung kita, maka ketersediaan bonggol jagung sebagai bahan baku etanol juga akan semakin terjamin,” tambah Eniya dengan nada optimis.
Tantangan Formulasi Harga dan Regulasi
Meskipun potensi ketersediaan bahan baku terlihat menjanjikan, jalan menuju implementasi E20 pada 2028 masih menyisakan sejumlah pekerjaan rumah, terutama di sektor regulasi dan ekonomi. Salah satu aspek krusial yang tengah digarap serius oleh pemerintah adalah penyusunan formula harga yang adil bagi produsen maupun konsumen.
Hingga saat ini, pemerintah baru menetapkan formula harga untuk bioetanol yang berbasis tetes tebu. Sementara itu, untuk bioetanol yang dihasilkan dari singkong dan bonggol jagung, skema harganya masih dalam tahap penggodokan intensif. Mengingat struktur biaya produksi setiap komoditas berbeda-beda, pemerintah tidak bisa begitu saja menyamaratakan harga di pasar.
“Untuk yang dari jagung dan ketela (singkong) itu memang belum ada formulanya. Target saya dalam enam bulan ke depan, insya Allah semua ini bisa selesai dan disepakati,” tegas Eniya. Ia menekankan bahwa penghitungan dasar harga nantinya akan tetap mengacu pada komponen standar yang mencakup Harga Pokok Penjualan (HPP), biaya konversi teknologi, hingga biaya logistik atau ongkos angkut.
Belajar dari Model India
Dalam menyusun regulasi ini, Indonesia tidak ragu untuk menoleh pada negara lain yang sudah lebih dulu sukses menerapkan kebijakan serupa, seperti India. Di negara tersebut, pemerintah menerapkan diferensiasi harga berdasarkan sumber bahan bakunya. Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa setiap sumber energi, baik itu dari limbah pertanian maupun tanaman energi khusus, memiliki nilai ekonomi yang layak untuk dikembangkan oleh pelaku usaha.
Pemerintah Indonesia menyadari bahwa tanpa insentif dan kepastian harga yang jelas, pihak swasta mungkin akan ragu untuk berinvestasi dalam pembangunan pabrik etanol baru. Oleh karena itu, konsensus mengenai harga menjadi kunci utama sebelum kebijakan campuran bensin ini benar-benar dipaksakan di lapangan.
Masa Depan Ketahanan Energi Nasional
Implementasi program E20 bukan sekadar tentang ramah lingkungan atau pengurangan emisi gas rumah kaca. Ini adalah tentang kedaulatan energi. Dengan mengoptimalkan potensi lokal seperti singkong dan jagung, Indonesia memiliki peluang besar untuk menekan angka impor bahan bakar minyak (BBM) yang selama ini menjadi beban berat bagi devisa negara.
Jika proyeksi ini berjalan mulus, pada Januari 2028, masyarakat tidak hanya akan mengisi kendaraan mereka dengan bahan bakar yang lebih bersih, tetapi juga turut berkontribusi dalam menggerakkan roda ekonomi petani di pelosok negeri. Transformasi ini menjadi bukti bahwa limbah dan tanaman pahit sekalipun, di tangan jurnalisme dan kebijakan yang tepat, bisa menjadi bensin bagi masa depan Indonesia yang lebih cerah.
Dengan dukungan riset yang kuat dan sinergi antara kementerian, diharapkan kemandirian energi bukan lagi sekadar slogan di atas kertas, melainkan kenyataan yang dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat dari Sabang hingga Merauke.