Strategi Berani Teheran: Selat Hormuz Kini Terapkan ‘Tol Bitcoin’ bagi Kapal Pengangkut Minyak

Citra Lestari | WartaLog
11 Apr 2026, 08:24 WIB

WartaLog — Langkah mengejutkan diambil oleh Pemerintah Iran di tengah memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Teheran secara resmi mulai memberlakukan sistem retribusi atau ‘tarif tol’ bagi kapal-kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz, salah satu jalur maritim paling krusial di dunia. Menariknya, sistem pembayaran ini tidak menggunakan mata uang konvensional, melainkan mewajibkan penggunaan aset kripto sebagai instrumen transaksi utamanya.

Kebijakan baru ini menetapkan tarif sebesar US$ 1 atau setara dengan Rp 17.122 untuk setiap barel minyak yang berada di atas kapal. Strategi ini dipandang sebagai manuver cerdas sekaligus provokatif oleh Teheran untuk menembus tembok isolasi ekonomi yang dibangun oleh pihak Barat.

Menghindari Radar Sanksi Amerika Serikat

Juru bicara Serikat Eksportir Minyak, Gas, dan Produk Petrokimia Iran, Hamid Hosseini, mengungkapkan bahwa penggunaan sistem keuangan terdesentralisasi adalah kunci utama untuk menghindari pengawasan ketat Amerika Serikat (AS). Dengan memanfaatkan Bitcoin, aliran dana hasil retribusi tersebut diklaim menjadi sangat sulit untuk dilacak, apalagi disita oleh otoritas internasional yang memberlakukan sanksi.

Read Also

Wamenperin Faisol Riza Pastikan Stok Bahan Baku Plastik Nasional Aman: Hentikan Spekulasi Kelangkaan!

Wamenperin Faisol Riza Pastikan Stok Bahan Baku Plastik Nasional Aman: Hentikan Spekulasi Kelangkaan!

“Begitu laporan masuk melalui email dan Iran menyelesaikan penilaiannya, kapal-kapal diberikan waktu yang sangat singkat untuk melakukan pembayaran dengan bitcoin. Ini untuk memastikan transaksi tidak dapat dilacak atau diintervensi karena adanya sanksi,” jelas Hosseini dalam sebuah laporan yang dikutip dari Financial Times.

Prosedur Ketat di Gerbang Energi Dunia

Secara teknis, setiap kapal yang berniat melintasi perairan strategis tersebut wajib mengirimkan rincian muatan kepada otoritas berwenang Iran. Tim pengawas kemudian akan melakukan verifikasi menyeluruh untuk memastikan tidak ada pengiriman senjata yang melewati jalur tersebut. Iran menegaskan bahwa segala bentuk barang komoditas, terutama minyak bumi, diizinkan melintas selama memenuhi persyaratan ‘tol’ tersebut.

Read Also

Sinyal Bahaya dari Manufaktur: Mengapa Vietnam Berhasil ‘Salip’ Indonesia Menuju Negara Menengah Atas?

Sinyal Bahaya dari Manufaktur: Mengapa Vietnam Berhasil ‘Salip’ Indonesia Menuju Negara Menengah Atas?

Namun, para pelaku industri pelayaran nampaknya harus bersiap dengan waktu tunggu yang lebih lama. Hosseini menekankan bahwa proses penilaian ini tidak akan dilakukan secara terburu-buru. “Seluruh barang bisa lewat, namun prosedurnya akan memakan waktu untuk setiap kapal, dan Iran tidak sedang terburu-buru,” tambahnya dengan nada yang mempertegas kendali mereka atas wilayah tersebut.

Dampak Masif terhadap Ekonomi Global

Situasi di Selat Hormuz memang menjadi perhatian dunia sejak konflik terbuka antara Iran dengan aliansi Amerika Serikat dan Israel pecah pada akhir Februari lalu. Penutupan efektif selat ini oleh Teheran telah mengguncang ekonomi global, mengingat sekitar 20 persen pasokan minyak dunia mengalir melalui jalur sempit ini setiap harinya.

Read Also

Revolusi Jalur Kereta Api: Proyek Double-Double Track Bekasi-Cikarang Resmi Dimulai Tahun 2027

Revolusi Jalur Kereta Api: Proyek Double-Double Track Bekasi-Cikarang Resmi Dimulai Tahun 2027

Meskipun sistem ‘pos tol’ berbasis kripto ini mulai dibuka, volume kapal yang melintas saat ini dinilai belum cukup signifikan untuk meredam kekhawatiran pasar akan kelangkaan pasokan. Dunia kini terus memantau apakah langkah Iran ini akan menjadi standar baru dalam perdagangan energi internasional di tengah konflik yang masih membara.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *