Wamendagri Dorong Pembiayaan Kreatif: Strategi Jitu Kepala Daerah Hadapi Gejolak Ekonomi 2026

Akbar Silohon | WartaLog
04 Jul 2026, 19:17 WIB
Wamendagri Dorong Pembiayaan Kreatif: Strategi Jitu Kepala Daerah Hadapi Gejolak Ekonomi 2026

WartaLog — Di tengah pusaran dinamika ekonomi global yang kian sulit diprediksi, para pemimpin daerah di Indonesia kini dihadapkan pada tantangan yang tidak ringan. Wakil Menteri Dalam Negeri RI (Wamendagri), Akhmad Wiyagus, secara tegas mendorong setiap kepala daerah untuk meninggalkan pola pikir konvensional dan mulai mengadopsi gaya kepemimpinan yang jauh lebih adaptif. Dalam sebuah pesan yang kuat, ia menekankan pentingnya mengoptimalkan skema pembiayaan kreatif atau creative financing sebagai pilar utama pembangunan daerah di masa depan.

Langkah ini dipandang bukan sekadar pilihan, melainkan sebuah kebutuhan mendesak agar roda pembangunan di berbagai pelosok nusantara tetap berputar kencang tanpa harus terus-menerus terjebak dalam ketergantungan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Wiyagus menyoroti bahwa efisiensi anggaran yang diprediksi akan semakin ketat pada tahun 2026 menuntut sebuah terobosan nyata dari para pengambil kebijakan di tingkat lokal.

Read Also

Ancaman Begal dan Premanisme Menghantui Ekonomi Rakyat, Golkar: Negara Tidak Boleh Kalah oleh Kriminal Jalanan

Ancaman Begal dan Premanisme Menghantui Ekonomi Rakyat, Golkar: Negara Tidak Boleh Kalah oleh Kriminal Jalanan

Kepemimpinan Adaptif di Tengah Eskalasi Geopolitik

Menurut pantauan tim WartaLog, urgensi mengenai kepemimpinan adaptif ini disampaikan langsung oleh Wiyagus saat menghadiri Workshop tentang ‘Tata Kelola Keuangan Pemerintah Daerah melalui Creative Financing terhadap Pengaruh Efisiensi Tahun 2026’. Acara yang berlangsung hangat di Aula Griya Mayang, Rumah Dinas Wali Kota Jambi tersebut, menjadi panggung bagi Wamendagri untuk memaparkan visinya mengenai masa depan fiskal daerah.

“Kita tahu di tengah efisiensi tahun 2026, memang kepala daerah sekarang ini dituntut untuk benar-benar bisa mengimplementasikan apa yang dinamakan adaptive leadership di tengah gejolak eskalasi geopolitik global yang susah diprediksi,” ujar Wiyagus dengan nada penuh penekanan. Ia meyakini bahwa kemampuan pemimpin dalam membaca situasi dunia dan meresponsnya dengan kebijakan lokal yang cerdas adalah kunci keberlangsungan ekonomi daerah.

Read Also

Akses Transportasi Publik Gratis: Pendaftaran Kartu Layanan Gratis Transjakarta Hadir di CFD Besok!

Akses Transportasi Publik Gratis: Pendaftaran Kartu Layanan Gratis Transjakarta Hadir di CFD Besok!

Menggali Potensi dari ‘Aset Tidur’ yang Terabaikan

Salah satu poin krusial yang diangkat dalam pertemuan tersebut adalah bagaimana pemerintah daerah (pemda) seharusnya mampu melihat potensi ekonomi di balik aset-aset yang selama ini dianggap tidak produktif. Wiyagus menjelaskan bahwa banyak lahan tidur maupun fasilitas milik pemerintah yang justru menjadi beban bagi anggaran daerah karena memerlukan biaya perawatan tanpa memberikan timbal balik finansial yang memadai.

Dengan skema pembiayaan kreatif, aset-aset yang semula ‘terlelap’ ini dapat dikerjasamakan dengan pihak ketiga. Tujuannya jelas: mengubah beban biaya menjadi sumber pendapatan baru yang mampu mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD). Narasi pembangunan yang dibawa Wiyagus bukan lagi tentang menghabiskan anggaran, melainkan tentang bagaimana memutar aset menjadi nilai ekonomi yang inklusif.

Read Also

Horor Petak Umpet di Setu: Aksi Bejat Pria Mabuk yang Berakhir Tragis di Tangan Warga

Horor Petak Umpet di Setu: Aksi Bejat Pria Mabuk yang Berakhir Tragis di Tangan Warga

Belajar dari Keberhasilan Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA)

Untuk memberikan gambaran konkret, Wamendagri mengambil contoh sukses dari Jawa Barat, yakni pengelolaan Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA). Stadion megah ini sebelumnya merupakan tanggung jawab penuh pemerintah kota dari segi pemeliharaan. Namun, melalui pendekatan creative financing, pengelolaan stadion tersebut kini diserahkan kepada klub sepakbola profesional, Persib Bandung.

Hasilnya sangat signifikan. Pemda tidak lagi terbebani oleh biaya perawatan yang selangit, sementara stadion tetap terawat dengan standar profesional dan memberikan manfaat ekonomi bagi ekosistem olahraga serta UMKM di sekitarnya. Model kerja sama seperti inilah yang diharapkan dapat direplikasi di daerah lain, disesuaikan dengan potensi unggulan masing-masing wilayah.

Sinergi Birokrasi dan Dunia Usaha di Kota Jambi

Wiyagus memberikan apresiasi khusus terhadap Kota Jambi yang ia nilai memiliki modalitas kepemimpinan yang sangat ideal untuk menerapkan strategi ini. Dengan nakhoda yang memiliki latar belakang perpaduan antara birokrasi murni dan dunia usaha, Kota Jambi dianggap mampu menjembatani kaku-nya aturan administratif dengan fleksibilitas dunia bisnis.

“Jadi kalau bicara creative financing, di sini sudah ideal. Bagaimana lahan tidur yang menjadi aset-aset pemerintah daerah ini benar-benar bisa diberdayakan, bisa menghasilkan profit untuk menambah PAD,” tegasnya. Sinergi ini diharapkan mampu melahirkan inovasi-inovasi pembiayaan yang keluar dari jalur konvensional, seperti skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) atau pemanfaatan dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang lebih terarah.

Membangun Kemandirian Fiskal demi Masa Depan

Lebih jauh lagi, Wiyagus mengajak seluruh jajaran Pemerintah Kota Jambi, mulai dari asisten hingga camat dan lurah, untuk memperkuat kolaborasi dengan sektor swasta. Ia memandang bahwa investasi swasta bukan sekadar masuknya modal, melainkan bentuk tanggung jawab bersama dalam membangun daerah. Dengan keterlibatan pihak ketiga, pembangunan infrastruktur dan layanan publik dapat dipercepat tanpa harus menunggu kucuran dana dari pusat.

“Harapan kita tentunya pemberdayaan pihak ketiga juga ikut bertanggung jawab untuk membangun Kota Jambi ini menjadi kota yang tidak hanya berpikir konvensional lagi, tidak terlalu tergantung kepada pemerintah pusat,” imbuhnya. Kemandirian fiskal ini menjadi sangat penting di masa depan agar daerah memiliki daya tahan yang kuat saat terjadi guncangan ekonomi nasional maupun internasional.

Kehadiran Tokoh Nasional Berikan Dukungan Penuh

Workshop yang berlangsung pada Jumat (3/7) tersebut tidak hanya dihadiri oleh jajaran Kemendagri, tetapi juga menarik perhatian tokoh nasional lainnya. Wakil Menteri Pemuda dan Olahraga RI (Wamenpora), Taufik Hidayat, tampak hadir memberikan dukungan, menunjukkan bahwa tata kelola keuangan yang kreatif juga berdampak pada pengembangan fasilitas pemuda dan olahraga di daerah.

Selain itu, Wali Kota Jambi Maulana dan Wakil Wali Kota Jambi Diza Hazra Aljosha bersama jajaran staf ahli terlihat antusias menyerap arahan tersebut. Kehadiran para camat dan lurah se-Kota Jambi juga menandakan bahwa pesan mengenai efisiensi dan pembiayaan kreatif ini diharapkan dapat meresap hingga ke level akar rumput pemerintahan.

Kesimpulan: Waktunya Berinovasi atau Tertinggal

Pesan dari Wamendagri Akhmad Wiyagus ini menjadi pengingat keras bagi seluruh kepala daerah di Indonesia. Era ketergantungan pada dana transfer pusat sudah harus mulai dikurangi dengan meningkatkan kemandirian ekonomi lokal. Strategi pembiayaan kreatif bukan sekadar tren, melainkan solusi pragmatis dalam menghadapi tantangan efisiensi tahun 2026.

Dengan kepemimpinan yang adaptif, pengoptimalan aset yang tepat, dan kolaborasi yang erat dengan sektor swasta, daerah-daerah di Indonesia diharapkan mampu tumbuh menjadi pusat ekonomi yang mandiri dan kompetitif. Kini, bola berada di tangan para kepala daerah: apakah akan tetap bertahan dengan cara lama, atau berani berinovasi demi kesejahteraan masyarakat yang lebih luas.

Akbar Silohon

Akbar Silohon

Hi, saya senang berbagi berita terupdate.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *