Cerita Bahlil Lahadalia Soal Beban Berat Impor Energi: Dari Rupiah yang Loyo Hingga ‘Ngigo’ BBM di Tengah Tidur

Citra Lestari | WartaLog
25 Jun 2026, 17:20 WIB
Cerita Bahlil Lahadalia Soal Beban Berat Impor Energi: Dari Rupiah yang Loyo Hingga 'Ngigo' BBM di Tengah Tidur

WartaLog — Di balik deru mesin kendaraan dan nyala api biru di dapur-dapur rakyat, tersimpan beban besar yang harus dipikul oleh pundak para pengambil kebijakan. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, baru-baru ini membagikan sebuah narasi yang jarang terungkap ke publik; sebuah kisah tentang dedikasi tanpa jeda, tekanan ekonomi global, hingga cerita personal yang mengundang gelak tawa namun sarat makna mengenai kondisi energi nasional kita.

Jurang Lebar Produksi dan Konsumsi: Paradoks Negeri Kaya Energi

Dalam sebuah diskusi mendalam di ajang CNBC Energy Forum 2026, Bahlil memaparkan sebuah kenyataan pahit yang harus dihadapi Indonesia saat ini. Indonesia, yang sering dijuluki sebagai zamrud khatulistiwa dengan kekayaan alam melimpah, nyatanya masih sangat terjepit oleh ketergantungan impor, terutama pada komoditas Liquefied Petroleum Gas (LPG). Angka yang disodorkan Bahlil bukan sekadar statistik, melainkan alarm bagi kedaulatan energi kita.

Read Also

Sinergi Ekonomi RI-Belarus: Kesepakatan Bisnis Strategis Senilai Rp 7 Triliun Resmi Diteken

Sinergi Ekonomi RI-Belarus: Kesepakatan Bisnis Strategis Senilai Rp 7 Triliun Resmi Diteken

Bayangkan saja, dari total konsumsi LPG nasional yang menyentuh angka fantastis 8,5 juta ton per tahun, kemampuan produksi dalam negeri kita hanya mampu menyuplai sekitar 1,8 hingga 1,9 juta ton saja. Artinya, ada lubang menganga sebesar 75 persen hingga 80 persen yang harus ditutup dengan mendatangkan gas dari luar negeri. Ketergantungan pada “gas melon” ini menjadi titik lemah yang sangat sensitif terhadap fluktuasi harga pasar internasional.

Dampak Domino: Dari Harga Minyak Dunia Hingga Kurs Rupiah

Bahlil menjelaskan bahwa persoalan ini bukan hanya soal ketersediaan barang di pangkalan, tetapi juga soal stabilitas ekonomi makro. Ketika tensi politik di Timur Tengah memanas, Indonesia Crude Price (ICP) atau harga patokan minyak mentah Indonesia pun ikut terkerek naik. Kenaikan ini berdampak langsung pada terkurasnya devisa negara dalam jumlah yang masif.

Read Also

Misi Besar Prabowo di KTT ASEAN: Menenun Jaringan Listrik Raksasa Trans Borneo demi Kemandirian Energi Kawasan

Misi Besar Prabowo di KTT ASEAN: Menenun Jaringan Listrik Raksasa Trans Borneo demi Kemandirian Energi Kawasan

“Dulu, saat ICP berada di level US$ 70 dan Saudi Aramco di angka 500-600, devisa kita keluar sekitar Rp 120 triliun per tahun. Namun dengan kondisi ICP saat ini, bayangan saya devisa yang harus kita gelontorkan untuk mengurus LPG saja tidak kurang dari Rp 140 triliun hingga Rp 150 triliun,” ujar Bahlil dengan nada serius. Jika ditotal dengan belanja Bahan Bakar Minyak (BBM) secara keseluruhan, negara harus merogoh kocek antara US$ 28 hingga US$ 30 miliar setiap tahunnya.

Angka belanja energi yang selangit inilah yang menurut Bahlil menjadi salah satu biang kerok melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Ketika permintaan terhadap dolar meningkat tajam untuk membiayai impor energi, rupiah pun terpaksa harus ‘terengah-engah’. Kondisi ini memaksa pemerintah untuk terus menyuntik subsidi agar harga di tingkat masyarakat tetap terjangkau, meskipun anggaran subsidi yang awalnya dipatok Rp 80-87 triliun kini membengkak dan menuntut pemerintah untuk terus mencari tambahan dana penutup.

Read Also

Gebrakan Kemnaker dan TikTok: Mencetak Generasi Baru Content Creator dan Afiliator Profesional

Gebrakan Kemnaker dan TikTok: Mencetak Generasi Baru Content Creator dan Afiliator Profesional

Sabtu-Minggu Tanpa Jeda: Dedikasi di Bawah Arahan Prabowo

Di tengah tekanan ekonomi tersebut, Bahlil mengungkapkan bagaimana ritme kerja di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, tidak ada istilah kata libur bagi para anggota kabinet saat ini, terutama ketika menyangkut hajat hidup orang banyak seperti urusan energi. Sabtu dan Minggu yang biasanya menjadi waktu berkualitas bersama keluarga, kini bertransformasi menjadi hari-hari penuh koordinasi dan evaluasi.

Saking intensnya memikirkan solusi atas ketersediaan energi, Bahlil mengaku urusan BBM ini terbawa hingga ke alam bawah sadar. Fenomena “ngigo” atau berbicara saat tidur menjadi bagian dari keseharian sang menteri. Persoalan teknis, angka-angka impor, hingga distribusi bahan bakar seolah-olah menghantui waktu istirahatnya yang singkat.

Kisah Lucu di Balik Layar: ‘Pisah Kamar’ Demi BBM

Ada sisi humanis dan jenaka yang dibagikan Bahlil dalam forum tersebut. Ia mengisahkan bagaimana igauannya tentang BBM sempat mengusik ketenangan rumah tangganya. Demi menghindari kesalahpahaman atau sekadar memberikan rasa tenang bagi sang istri, Bahlil berseloroh sempat harus membatasi jarak tidur dengan istrinya.

“Waktu bulan puasa, saya sampai bilang ke istri, ‘Kamu jangan dekat-dekat saya dulu’. Saya pusing, tidur pun yang keluar dari mulut saya cuma BBM, BBM, dan BBM. Bahaya kalau nanti istri saya salah sangka atau merasa terganggu,” ceritanya sambil tertawa, yang disambut riuh para hadirin. Bahlil menegaskan bahwa lebih baik para menteri yang merasa ‘sakit’ dan pusing memikirkan jalan keluar, asalkan rakyat tidak perlu merasakan kepanikan akibat kelangkaan energi.

Visi Masa Depan: Mengalihkan Ketergantungan ke Energi Alternatif

Menyadari bahwa impor adalah beban yang tidak bisa terus dipertahankan, pemerintah melalui Kementerian ESDM terus mengupayakan berbagai alternatif. Salah satunya adalah pengembangan Compressed Natural Gas (CNG) sebagai salah satu opsi pengganti atau pendamping LPG 3 kg. Langkah ini diharapkan dapat menekan angka impor dan mulai memanfaatkan kekayaan gas alam domestik secara lebih optimal.

Pemerintah juga berupaya menenangkan publik dengan memastikan bahwa stok energi tetap terjaga di tengah krisis global. Bahlil menyentil pandangan luar yang menganggap pemerintahan saat ini terlihat tenang-tenang saja. Padahal, di balik ketenangan yang dirasakan masyarakat, ada kerja keras luar biasa untuk memastikan barang tetap ada di pasar meski harga dunia sedang bergejolak.

“Negara lain banyak yang menjerit. Ada uang tapi barang tidak ada itu sangat berbahaya. Apalagi kalau sudah tidak ada uang dan barang tidak ada, itu bisa mati kita. Maka dari itu, kami di kabinet berusaha sekuat tenaga agar rakyat tetap tenang, biar kami yang memikul beban pikirannya,” tutup Bahlil dengan tegas.

Dengan segala tantangan yang ada, kisah Bahlil ini menjadi pengingat bahwa ketahanan energi bukan sekadar soal teknis industri, melainkan perjuangan kedaulatan ekonomi yang melibatkan dedikasi tinggi dari para pemimpinnya.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *