Kisah Inspiratif Pempek Rafi 81: Dari Kerinduan Lidah Hingga Menjadi Primadona Bazar Ibu Kota
WartaLog — Jakarta bukan sekadar kota metropolitan bagi Nyayu Maryati; ia adalah arena pembuktian di mana kerinduan akan kampung halaman bisa menjelma menjadi peluang usaha yang menjanjikan. Hijrah dari Palembang pada tahun 2010, Nyayu membawa serta memori rasa yang otentik dari kota asalnya. Siapa sangka, berawal dari sulitnya menemukan pempek dengan rasa yang pas di lidah, ia kini berhasil membangun imperium kuliner kecilnya sendiri yang dikenal dengan nama Pempek Rafi 81.
Eksistensi Pempek Rafi 81 kini kian mengakar di Jakarta, terutama di sirkuit bazar-bazar bergengsi. Tim WartaLog menemui Nyayu di kawasan Universitas Sahid, Menteng Dalam, Jakarta Selatan, di mana aroma cuko yang tajam dan menggoda menyeruak dari stannya. Di tengah kesibukan melayani pelanggan, Nyayu mengenang kembali perjalanan panjangnya yang penuh lika-liku sejak menetap di ibu kota.
Berburu Kasur Mewah di Transmart Full Day Sale: Hemat Belasan Juta Rupiah!
Titik Balik dan Keberanian Memulai dari Nol
Perjalanan bisnis Nyayu tidak dimulai dengan karpet merah. Titik krusial dalam hidupnya terjadi pada pertengahan 2014. Saat itu, sang suami memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya. Tanpa penghasilan tetap selama hampir setengah tahun, tabungan keluarga mulai terkikis perlahan. Dalam kondisi yang kian mendesak, insting wirausaha Nyayu muncul.
“Dalam jangka waktu dari Juli sampai Desember 2014 itu, kami benar-benar tidak punya pemasukan. Saya pun memberanikan diri berkata kepada suami, bagaimana kalau kita coba buka usaha pempek saja?” kenang Nyayu saat berbincang dengan WartaLog. Keputusan ini lahir dari pengamatannya terhadap pasar kuliner di Jakarta.
Ia melihat sebuah celah yang lebar: pempek pinggir jalan sering kali kehilangan sentuhan aslinya, sementara pempek yang benar-benar enak biasanya hanya tersedia di restoran mahal. Nyayu ingin mendobrak stigma tersebut dengan menghadirkan pempek kualitas premium namun tetap terjangkau bagi semua kalangan. Dengan modal nekat sebesar Rp 2 juta, ia menyewa sebuah kios sederhana dan meluncurkan jenama Pempek Rafi 81.
Dinamika Kelistrikan Jawa: Mengupas Akar Masalah di Balik Pemadaman Bergilir yang Meresahkan
Filosofi Nama dan Harapan Besar
Nama Pempek Rafi 81 bukanlah sekadar deretan kata dan angka tanpa makna. Ada doa dan filosofi mendalam yang disematkan Nyayu di sana. “Rafi” diambil dari nama anak sulungnya yang memiliki arti ‘meninggikan’. Sementara angka “81” merujuk pada tanggal dan bulan lahir sang suami, yakni 8 Januari.
“Jika angka 8 dan 1 dijumlahkan, hasilnya adalah 9, yang sering dianggap sebagai simbol kesempurnaan. Selain itu, bentuk angka 8 yang tidak terputus melambangkan harapan agar rezeki kami terus mengalir tanpa henti, dan usaha ini bisa menjadi nomor satu,” jelasnya dengan penuh binar harapan.
Strategi Menjinakkan Lidah Warga Jakarta
Memasarkan pempek di Jakarta memiliki tantangan tersendiri. Masyarakat ibu kota dikenal cukup sensitif terhadap aroma ikan yang terlalu menyengat atau amis. Nyayu menyadari bahwa ia tidak bisa memaksakan standar rasa Palembang secara mentah-mentah jika ingin usahanya diterima secara luas. Ia pun memilih strategi kompromi rasa di awal usahanya.
Solusi Krisis Plastik: Bapanas Izinkan Bulog Gunakan Kemasan Lama demi Kelancaran Distribusi Beras SPHP
Awalnya, ia membuat pempek dengan komposisi tepung yang sedikit lebih banyak untuk mengurangi aroma ikan yang kuat, dengan rasio 1 banding 1. Langkah ini terbukti efektif sebagai pintu masuk bagi masyarakat umum untuk mengenal produknya. Namun, lompatan besar baru benar-benar terjadi saat ia bergabung sebagai UMKM binaan Rumah BUMN BRI pada tahun 2018.
Evolusi Produk Melalui Pendampingan Rumah BUMN BRI
Melalui pemberdayaan UMKM di bawah naungan BRI, Nyayu mendapatkan wawasan baru mengenai branding, manajemen keuangan, hingga pemasaran digital. Salah satu masukan krusial dari para mentor adalah untuk tetap menonjolkan keotentikan rasa Palembang sebagai nilai jual utama, namun dengan pembagian segmentasi pasar yang lebih cerdas.
Nyayu kemudian menciptakan tiga varian produk untuk menyasar kebutuhan konsumen yang beragam:
- Varian Premium (Pecinta Pempek Sejati): Menggunakan daging ikan tenggiri asli dengan komposisi 2 porsi daging ikan berbanding 1 porsi tepung. Ini adalah produk andalan yang selalu dicari di bazar-bazar besar.
- Varian Harian (Segmen Menengah): Menggunakan bahan dasar ikan kakap yang lebih ekonomis namun tetap lezat, cocok untuk konsumsi sehari-hari di lingkungan tempat tinggalnya.
- Varian Ramah Kantong (Pempek Dos): Menggunakan udang rebon sebagai perasa pengganti daging ikan, menyasar segmen masyarakat yang mencari kudapan lezat dengan harga sangat terjangkau.
Eksistensi di Jalur Bazar dan Strategi Bertahan
Pandemi COVID-19 sempat memaksa Nyayu menutup gerai fisiknya. Namun, berbekal ilmu dari pelatihan Rumah BUMN, ia beralih ke sistem Pre-Order (PO) secara online dan fokus pada pemasaran kuliner frozen. Pasca-pandemi, ia justru menemukan ritme baru yang lebih menguntungkan: strategi ‘nomaden’ dari satu bazar ke bazar lainnya.
Statusnya sebagai UMKM binaan memberinya akses ke berbagai pameran bergengsi secara gratis atau dengan biaya yang sangat rendah. Di event sebesar Indonesia Open, misalnya, Nyayu mampu meraup omzet hingga lebih dari Rp 12 juta hanya dalam waktu enam hari. Begitu pula saat mengikuti bazar di lingkungan kampus seperti Universitas Bina Nusantara (Binus), di mana dalam tiga hari saja ia bisa mengantongi Rp 6-7 juta.
“Kalau dalam sebulan ada empat kali bazar, minimal omzet saya mencapai Rp 20 juta. Jika jadwal sedang padat hingga delapan bazar, omzetnya bisa melampaui Rp 25 juta,” ungkapnya bangga. Produknya pun kini berkembang tidak hanya pempek, tapi juga tekwan, celimpungan, hingga nasi minyak khas Palembang.
Digitalisasi Keuangan dengan QRIS BRI
Salah satu kunci kesuksesan operasional Pempek Rafi 81 di lapangan adalah adopsi teknologi finansial. Nyayu mengandalkan QRIS BRI untuk mempermudah transaksi. Di era di mana masyarakat mulai enggan membawa uang tunai, kehadiran QRIS menjadi solusi praktis yang menghindarkan dirinya dari keribetan menyiapkan uang kembalian.
“Pakai QRIS BRI itu sangat memudahkan. Tidak perlu pusing cari recehan untuk kembalian, dan pelanggan juga merasa lebih aman serta praktis. Yang paling saya suka adalah fitur BRI Notif yang langsung terhubung ke WhatsApp. Jadi, setiap ada uang masuk, notifikasinya langsung muncul secara real-time,” papar Nyayu kepada WartaLog.
Diakui oleh Lidah Generasi Muda
Kehadiran Pempek Rafi 81 di berbagai kampus juga membuktikan bahwa rasa tradisional tetap bisa bersaing dengan jajanan modern. Rian, salah satu mahasiswa yang ditemui di bazar, memberikan apresiasi tinggi pada tekstur dan rasa pempek racikan Nyayu. Menurutnya, rasa ikannya sangat dominan dan jauh berbeda dengan pempek kebanyakan yang hanya terasa tepung kanji saja.
Keberhasilan Nyayu Maryati adalah potret nyata bagaimana kegigihan, kemampuan beradaptasi, dan dukungan teknologi serta pendampingan lembaga keuangan seperti BRI dapat mengubah tantangan menjadi kesuksesan yang berkelanjutan. Dari Palembang menuju jantung Jakarta, Pempek Rafi 81 telah membuktikan bahwa keotentikan rasa adalah bahasa universal yang selalu menemukan penikmatnya.