Saling Sindir PDIP dan PKB: Adi Prayitno Sebut PKB Tak Berhak Labeli Banteng ‘Abu-Abu’

Akbar Silohon | WartaLog
20 Jun 2026, 07:18 WIB
Saling Sindir PDIP dan PKB: Adi Prayitno Sebut PKB Tak Berhak Labeli Banteng 'Abu-Abu'

WartaLog — Dinamika panggung politik nasional pasca-pemilihan presiden tampaknya belum benar-benar mendingin. Kabar terbaru datang dari pusaran konflik kata-kata antara Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia (PPI), Adi Prayitno, memberikan komentar pedas terkait desakan PKB yang meminta PDIP untuk segera menentukan sikap politik secara tegas dan tidak bersikap ‘abu-abu’ dalam menghadapi pemerintahan baru.

Adi Prayitno menilai bahwa PKB sebenarnya tidak memiliki landasan moral atau politis yang kuat untuk mendikte langkah kaki PDIP. Menurutnya, dalam logika politik Indonesia yang kompetitif, hanya pihak pemenanglah yang secara etis memiliki posisi tawar untuk mempertanyakan arah koalisi atau oposisi lawan bicaranya. Pernyataan ini muncul sebagai respons atas kritik Jazilul Fawaid yang sebelumnya menyudutkan posisi politik banteng moncong putih tersebut.

Read Also

Menuju ‘QRIS’ Kesehatan: Bagaimana ASEAN DEFA Mengubah Wajah Layanan Medis Lintas Batas

Menuju ‘QRIS’ Kesehatan: Bagaimana ASEAN DEFA Mengubah Wajah Layanan Medis Lintas Batas

Kritik Tajam Adi Prayitno: Sesama ‘Kalah’ Jangan Saling Mendahului

Adi Prayitno menekankan sebuah poin krusial dalam wawancaranya. Ia menyebutkan bahwa ada semacam ironi ketika PKB mencoba memberikan tekanan kepada PDIP. Pasalnya, dalam kontestasi pilpres yang lalu, kedua partai ini berada di barisan yang sama-sama tidak memenangkan mandat eksekutif utama. “Yang berhak mendesak PDIP jangan abu-abu itu tentu saja cuma Gerindra sebagai partai pemenang pilpres, bukan yang lain,” ungkap Adi dengan nada tegas saat dihubungi oleh tim redaksi kami.

Lebih lanjut, Adi mempertanyakan legitimasi PKB dalam melontarkan kritik tersebut. Ia mencatat bahwa banyak pengamat dan publik yang justru balik bertanya mengenai motif di balik desakan PKB. Mengingat status PKB yang juga merupakan partai politik yang kalah dalam pilpres, posisi mereka dianggap setara dengan PDIP dalam konteks perolehan suara nasional untuk kursi presiden. Oleh karena itu, mendesak PDIP untuk bersikap transparan seolah-olah PKB berada di posisi yang lebih unggul secara politik dianggap sebagai langkah yang kurang tepat.

Read Also

Perlawanan Sengit Jaringan Narkoba di Lampung: Kapolsek Terpental Saat Hadang Mobil Pelaku yang Nekat Terjang Barikade

Perlawanan Sengit Jaringan Narkoba di Lampung: Kapolsek Terpental Saat Hadang Mobil Pelaku yang Nekat Terjang Barikade

Dugaan Sentimen di Balik Tuduhan ‘Abu-Abu’

Muncul spekulasi bahwa serangan verbal PKB terhadap PDIP bukan tanpa alasan. Adi Prayitno melihat ada indikasi bahwa pernyataan tersebut merupakan bentuk reaksi spontan terhadap isu yang beredar mengenai keterlibatan politisi PDIP dalam aksi demonstrasi baru-baru ini di Jakarta. PKB seolah ingin menarik garis tegas agar PDIP segera memproklamirkan diri: apakah akan menjadi mitra pemerintah atau menjadi oposisi yang berdiri berseberangan di luar kabinet.

“Pernyataan politisi PKB itu sepertinya sebagai bentuk respons atas tudingan salah satu politisi PDIP ikut demo di Jakarta kemarin. Sebab itulah, PKB minta PDIP bersikap tegas, oposisi atau koalisi, jangan abu-abu,” tambah Adi. Ia juga mencermati bahwa selama ini PDIP memang tampak bermain di wilayah yang aman dengan terus menekankan bahwa hubungan personal antara Megawati Soekarnoputri dengan Prabowo Subianto tetap terjaga dengan baik, meskipun secara struktural mereka belum menyatakan bergabung ke dalam pemerintahan.

Read Also

Polemik Kewenangan Hitung Rugi Negara, Baleg DPR Panggil BPK hingga Mahkamah Agung

Polemik Kewenangan Hitung Rugi Negara, Baleg DPR Panggil BPK hingga Mahkamah Agung

PDIP dan Label ‘Partai Penyeimbang’

Menanggapi riuh rendah tudingan PKB, internal PDIP pun tidak tinggal diam. Andreas Hugo Pareira, salah satu tokoh senior di DPP PDIP, memberikan klarifikasi yang cukup lugas. Menurutnya, posisi PDIP sudah sangat jelas sesuai dengan mandat yang diberikan oleh internal partai. Andreas menegaskan bahwa PDIP saat ini memosisikan diri sebagai partai penyeimbang yang berdiri di luar struktur pemerintahan resmi.

“Partai penyeimbang di luar pemerintahan. Itu keputusan kongres partai,” tegas Andreas. Istilah ‘penyeimbang’ ini tampaknya dipilih secara hati-hati untuk menggambarkan peran PDIP yang tidak serta-merta menolak semua kebijakan pemerintah, namun tetap memegang fungsi kontrol yang kritis. Hal ini sekaligus mematahkan tudingan bahwa PDIP tidak memiliki sikap yang jelas atau sengaja bermain di area yang tidak pasti.

Menakar DNA Oposisi Sang Banteng

Dalam analisis yang lebih mendalam, Adi Prayitno menyebutkan bahwa publik sebenarnya memiliki ekspektasi besar agar PDIP mengambil peran sebagai oposisi politik secara penuh. Ada dua alasan fundamental yang mendasari hal ini. Pertama, saat ini peta politik menunjukkan kecenderungan melemahnya kelompok-kelompok kritis di parlemen. Jika PDIP masuk ke dalam koalisi besar pemerintah, maka dikhawatirkan fungsi check and balances dalam demokrasi Indonesia akan lumpuh total.

Kedua, PDIP dianggap memiliki ‘DNA’ oposisi yang sangat kuat dan teruji. Sejarah mencatat bagaimana PDIP mampu menjadi kekuatan penekan yang efektif selama dua periode kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Pengalaman historis inilah yang membuat banyak pihak berharap PDIP tetap konsisten di jalur luar pemerintahan guna menjaga marwah demokrasi agar tidak terjebak dalam model kekuasaan absolut tanpa kritik.

Harapan PKB dan Tantangan Demokrasi ke Depan

Di sisi lain, Jazilul Fawaid dari PKB tetap pada pendiriannya bahwa ketegasan sikap sangat diperlukan demi kelancaran program-program pemerintah yang telah dicanangkan oleh Presiden terpilih. PKB merasa bahwa jika partai sebesar PDIP tetap berada di wilayah ‘abu-abu’, hal itu bisa menimbulkan kebingungan di tengah masyarakat dan menghambat stabilitas politik yang diperlukan untuk eksekusi program strategis nasional.

Namun, perdebatan ini justru menunjukkan betapa dinamisnya peta politik nasional pasca-pemilu. Ketegangan antara PKB dan PDIP seolah mencerminkan adanya perebutan pengaruh atau sekadar upaya mencari perhatian di tengah transisi kepemimpinan. Bagi publik, yang paling penting bukanlah sekadar label ‘oposisi’ atau ‘koalisi’, melainkan bagaimana setiap partai politik mampu menjalankan fungsinya dalam memperjuangkan aspirasi rakyat, baik itu dari dalam maupun dari luar lingkar kekuasaan.

Pertarungan narasi ini diprediksi akan terus berlanjut hingga pelantikan resmi kabinet mendatang. Apakah PDIP akan benar-benar mengukuhkan diri sebagai benteng terakhir oposisi, ataukah pada akhirnya akan luluh dan bergabung dalam barisan koalisi besar demi stabilitas nasional? Hanya waktu yang akan menjawab, namun yang pasti, setiap langkah yang diambil oleh partai berlambang banteng ini akan menentukan kualitas demokrasi Indonesia untuk lima tahun ke depan.

Akbar Silohon

Akbar Silohon

Hi, saya senang berbagi berita terupdate.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *