Visi Modernisasi Transmigrasi: Mentrans Iftitah Sulaiman Jajaki Teknologi AI dan Akuaponik di Chongqing China

Akbar Silohon | WartaLog
14 Okt 2026, 17:17 WIB
Visi Modernisasi Transmigrasi: Mentrans Iftitah Sulaiman Jajaki Teknologi AI dan Akuaponik di Chongqing China

WartaLog — Langkah konkret dalam upaya mentransformasi kawasan transmigrasi menjadi pusat ekonomi baru mulai dipetakan secara mendalam oleh Pemerintah Indonesia. Menteri Transmigrasi (Mentrans) Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara melakukan kunjungan kerja strategis ke Chongqing Academy of Agricultural Sciences (CQAAS) di Chongqing, China. Kunjungan ini bukan sekadar seremoni diplomatik, melainkan sebuah misi pencarian teknologi pertanian modern dan peternakan mutakhir yang diproyeksikan bakal diadaptasi di berbagai titik kawasan transmigrasi di tanah air.

Dalam peninjauan yang dilakukan pada Rabu (14/10/2026) tersebut, Mentrans Iftitah menyisir kawasan riset CQAAS yang berlokasi di Baishiyi Town, Distrik Jiulongpo. Kawasan ini dikenal sebagai salah satu mercusuar inovasi agrikultur di Negeri Tirai Bambu. Setibanya di lokasi, menteri beserta rombongan langsung disambut dengan pemaparan komprehensif mengenai Chongqing Agricultural High-Tech Park, sebuah ekosistem yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan praktik lapangan secara presisi.

Read Also

Menyingkap Tabir Kasus TPPU Eks Jampidsus Febrie Adriansyah: Menanti Sidang Perdana di PN Jakarta Pusat

Menyingkap Tabir Kasus TPPU Eks Jampidsus Febrie Adriansyah: Menanti Sidang Perdana di PN Jakarta Pusat

Menelusuri Jejak Inovasi di Chongqing Agricultural High-Tech Park

Eksplorasi Mentrans dimulai dengan mengelilingi lahan pertanian eksperimental milik CQAAS. Di sini, Iftitah mendapatkan gambaran nyata bagaimana riset genetik dan teknik penanaman dapat menghasilkan varietas sayuran dan buah yang tidak hanya memiliki produktivitas tinggi, tetapi juga daya tahan yang luar biasa terhadap perubahan iklim. Baginya, melihat langsung hasil riset ini membuka perspektif baru tentang bagaimana kawasan transmigrasi Indonesia harus dikelola di masa depan.

Iftitah menekankan bahwa keberhasilan sektor agrikultur di China tidak lepas dari konsistensi dalam melakukan penelitian. Hal ini sejalan dengan ambisinya untuk membawa perubahan paradigma di Indonesia, dari metode pertanian konvensional menuju sistem yang berbasis pada data dan teknologi. Mentrans percaya bahwa tanpa sentuhan sains, pengembangan ekonomi di wilayah transmigrasi hanya akan bersifat sporadis dan sulit untuk mencapai keberlanjutan jangka panjang.

Read Also

Eksodus Politik: Kader NasDem dan Tokoh Nasional Dikabarkan Segera Merapat ke PSI

Eksodus Politik: Kader NasDem dan Tokoh Nasional Dikabarkan Segera Merapat ke PSI

Implementasi Artificial Intelligence dalam Sistem Akuaponik

Salah satu sorotan utama dalam kunjungan tersebut adalah Pusat Penelitian Pertanian Akuaponik dan Ikan. Di fasilitas ini, Mentrans Iftitah dibuat terpukau oleh penerapan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang sudah terintegrasi penuh dalam budidaya ikan dan sayuran. Teknologi AI digunakan untuk memantau kualitas air, mengatur sirkulasi nutrisi, hingga memberikan pakan secara otomatis berdasarkan kebutuhan biologis biota di dalamnya.

“Pemanfaatan AI untuk pertanian hidroponik dan peternakan ikan ini adalah sesuatu yang sangat menarik. Kami melihat adanya pusat keunggulan di mana teknologi dan inovasi pertanian dikembangkan secara kolaboratif antara pemerintah daerah, Kementerian Pertanian, hingga institusi pendidikan,” ungkap Iftitah dengan nada optimistis. Beliau berharap, integrasi teknologi serupa dapat menjadi solusi cerdas bagi para transmigran agar mampu menghasilkan produk pangan berkualitas dengan efisiensi biaya yang maksimal.

Read Also

KPK Ajukan Tambahan Anggaran Rp 774 Miliar untuk 2027: Menambal Celah di Tengah Pemangkasan Pagu

KPK Ajukan Tambahan Anggaran Rp 774 Miliar untuk 2027: Menambal Celah di Tengah Pemangkasan Pagu

Sistem akuaponik yang dipelajari di CQAAS menunjukkan harmoni yang luar biasa antara dua sektor berbeda. Air yang digunakan untuk budidaya ikan disirkulasikan kembali untuk menjadi nutrisi bagi sayur-sayuran, menciptakan sebuah ekosistem tertutup yang ramah lingkungan. Inilah yang disebut dengan ekonomi sirkular, di mana limbah dari satu proses menjadi input berharga bagi proses lainnya, sebuah model yang sangat ideal untuk diterapkan di area pemukiman baru di Indonesia.

Riset Tanah sebagai Fondasi Utama Pertanian Berkelanjutan

Tak hanya fokus pada hasil tanaman, Mentrans Iftitah juga menaruh perhatian besar pada Pusat Penelitian Tanah yang dimiliki CQAAS. Di laboratorium ini, para ahli di China melakukan pemetaan tanah secara mendetail untuk mengetahui karakteristik kimiawi dan fisik tanah di berbagai wilayah. Dengan data tersebut, mereka dapat menentukan jenis tanaman apa yang paling cocok untuk ditanam, sehingga risiko kegagalan panen dapat diminimalisir sejak dini.

“Mereka memiliki pusat riset tanah yang sangat canggih. Tanah-tanah itu dikoleksi, diteliti kondisinya, lalu ditentukan kecocokan tanamannya. Ini menjadi inspirasi bagi kami. Sebelum melakukan pembukaan lahan atau penanaman di kawasan transmigrasi, kita harus tahu betul apa ‘kemauan’ tanah tersebut melalui riset ilmiah yang mendalam,” jelasnya. Pemetaan tanah ini dianggap krusial untuk memastikan bahwa investasi yang ditanamkan oleh para transmigran tidak sia-sia.

Membangun Ekonomi Baru Berdasarkan UU Nomor 29 Tahun 2009

Kunjungan ini merupakan bagian dari strategi besar Kementerian Transmigrasi untuk menjalankan amanat Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2009. Dalam regulasi tersebut, ditekankan bahwa pengembangan kawasan transmigrasi harus berorientasi pada penciptaan pertumbuhan ekonomi yang baru. Iftitah menegaskan bahwa ekonomi baru tersebut tidak mungkin terwujud tanpa adanya transfer pengetahuan (know-how) kepada masyarakat lokal dan transmigran.

“Harapan kita adalah pengembangan kawasan yang mandiri. Untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi tersebut, basisnya harus riset dan pengetahuan. Jika tidak, pengembangannya akan sporadis dan tidak terarah,” kata Iftitah. Menurutnya, pemerintah memiliki tanggung jawab untuk memberikan intervensi dalam bentuk riset yang hasilnya nanti dibagikan secara gratis kepada para petani untuk diaplikasikan di lahan mereka masing-masing.

Melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk universitas dan kementerian terkait, Iftitah berambisi menciptakan ekosistem pertanian di wilayah transmigrasi yang tidak kalah kompetitif dengan produk-produk impor. Dengan inovasi pertanian yang tepat, efisiensi produksi akan meningkat secara signifikan, sehingga produk petani lokal dapat bersaing di pasar global.

Efisiensi dan Efektivitas Menuju Kemandirian Pangan

Mentrans Iftitah menyadari bahwa mengadopsi teknologi canggih dari China memerlukan waktu dan proses adaptasi yang tidak sebentar. Namun, ia menekankan pentingnya konsistensi dalam menjalankan riset setiap bulan agar mendapatkan hasil yang semakin sempurna. Intervensi pemerintah tidak boleh hanya berhenti pada pemberian bibit atau alat, tetapi harus menyentuh ranah peningkatan kapasitas sumber daya manusia.

“Setiap bulan ada penelitian yang terus diperbarui. Hasil riset inilah yang kemudian didistribusikan kepada petani. Dengan cara ini, mereka mendapatkan gambaran nyata untuk menghasilkan produk yang efektif namun tetap efisien dari sisi biaya operasional,” tambahnya. Jika model ini berhasil diterapkan, kawasan transmigrasi bukan lagi sekadar pemindahan penduduk, melainkan sebuah pusat industri pangan modern yang mampu menopang ketahanan pangan nasional.

Integrasi antara pertanian, peternakan, dan teknologi AI yang ia saksikan di Chongqing menjadi cetak biru yang ingin ia bawa pulang. Ke depannya, ia membayangkan kawasan transmigrasi yang memiliki pusat-pusat riset kecil yang bekerja sama dengan universitas lokal, menciptakan sebuah simpul inovasi yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia. Dengan visi ini, transmigrasi modern akan menjadi jawaban atas tantangan ekonomi masa depan.

Sebagai penutup rangkaian kunjungannya, Mentrans Iftitah Sulaiman Suryanagara menyatakan keyakinannya bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk menyamai, bahkan melampaui capaian China jika mau berkomitmen pada jalan riset dan teknologi. “Jika kita konsisten, produk-produk kita tidak akan kalah dengan luar negeri. Semuanya butuh waktu, dedikasi, dan ilmu pengetahuan sebagai kompas utamanya,” pungkas Mentrans mengakhiri tinjauannya di Chongqing.

Akbar Silohon

Akbar Silohon

Hi, saya senang berbagi berita terupdate.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *