Langkah Strategis HRUM Siapkan Rp120 Miliar untuk Buyback Saham di Tengah Transformasi Baru Bursa

Citra Lestari | WartaLog
28 Sep 2026, 09:18 WIB
Langkah Strategis HRUM Siapkan Rp120 Miliar untuk Buyback Saham di Tengah Transformasi Baru Bursa

WartaLog — Dinamika pasar modal Indonesia tengah berada dalam fase yang krusial. Di saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berjuang melawan tekanan aksi jual, PT Harum Energy Tbk (HRUM) justru mengambil langkah berani untuk memperkuat posisi pasar mereka. Emiten tambang terkemuka ini mengonfirmasi rencana besar untuk melakukan aksi korporasi berupa pembelian kembali atau buyback saham, sebuah sinyal kepercayaan diri yang kuat di tengah fluktuasi indeks yang masih dibayangi sentimen negatif investor asing.

Menakar Kinerja IHSG dan Tekanan Arus Modal Asing

Mengakhiri pekan lalu, lantai bursa kembali diselimuti awan mendung. IHSG terpaksa harus puas bertengger di zona merah, ditutup melemah 0,90% ke level 6.241,89 pada perdagangan Jumat (25/9). Penurunan ini mencerminkan sikap hati-hati para pelaku pasar terhadap kondisi ekonomi makro. Berdasarkan pantauan data pasar, pergerakan saham terlihat cukup bervariasi meski tekanan jual lebih mendominasi. Beberapa saham seperti FORU memang mencatatkan kenaikan fantastis sebesar 22,45%, diikuti raksasa perbankan seperti BBCA dan BBRI yang menguat tipis. Namun, kekuatan tersebut tidak cukup untuk menahan koreksi dari emiten besar lainnya seperti BYAN, MORA, dan ASII yang tergelincir cukup dalam.

Read Also

Ekonomi Indonesia Kian Seksi: Realisasi Investasi Tembus Rp 498,8 Triliun di Kuartal I-2026, Penanaman Modal Asing Jadi Motor Utama

Ekonomi Indonesia Kian Seksi: Realisasi Investasi Tembus Rp 498,8 Triliun di Kuartal I-2026, Penanaman Modal Asing Jadi Motor Utama

Salah satu pemicu utama di balik lesunya performa indeks domestik adalah derasnya arus keluar modal asing. Investor asing mencatatkan net sell atau penjualan bersih mencapai Rp440,38 miliar di pasar reguler. Jika dikalkulasikan ke seluruh pasar, angka tersebut membengkak menjadi Rp559,16 miliar. Kondisi ini menunjukkan bahwa sentimen global terhadap aset berisiko di negara berkembang masih cukup menantang. Sektor industrials menjadi yang paling terpukul dengan penurunan tajam sebesar 2,52%, sementara sektor keuangan cenderung lebih defensif meskipun tetap berakhir di zona negatif.

Menariknya, performa lesu di Jakarta ini justru bertolak belakang dengan apa yang terjadi di Wall Street. Bursa saham Amerika Serikat justru menunjukkan taringnya dengan kenaikan signifikan pada Dow Jones (+0,93%), S&P 500 (+0,51%), dan Nasdaq (+0,48%). Ketimpangan ini sering kali menjadi perhatian para praktisi investasi saham karena menunjukkan adanya faktor domestik yang lebih kuat mempengaruhi psikologi pasar di Indonesia dibandingkan tren global saat ini.

Read Also

Misi Kemanusiaan Bank Indonesia: Mengirim Harapan Lewat 32,5 Ton Bantuan untuk Pemulihan NTT

Misi Kemanusiaan Bank Indonesia: Mengirim Harapan Lewat 32,5 Ton Bantuan untuk Pemulihan NTT

Revolusi Harga Saham: Era Baru Rp1 di Bursa Efek Indonesia

Mulai perdagangan hari ini, Senin (28/9), wajah Bursa Efek Indonesia resmi berubah. Sebuah kebijakan revolusioner diterapkan dengan menghapuskan batasan harga minimum saham Rp50 atau yang selama ini dikenal sebagai harga ‘gocap’. Kini, saham-saham di papan bursa diperbolehkan menyentuh level harga terendah hingga Rp1 per lembar. Kebijakan ini merupakan upaya BEI untuk meningkatkan likuiditas perdagangan, terutama bagi saham-saham yang selama ini stagnan karena tidak adanya ruang transaksi di bawah harga Rp50.

BEI menjelaskan bahwa langkah ini bertujuan untuk mendukung proses price discovery atau pembentukan harga yang lebih wajar di pasar. Selama masa transisi hingga akhir tahun 2026, ketentuan Auto Rejection Atas (ARA) dan Auto Rejection Bawah (ARB) juga telah disesuaikan. Untuk saham di rentang harga Rp1 hingga Rp10, batas fluktuasi harian ditetapkan sebesar Rp1. Sementara itu, untuk saham di atas Rp10, ketentuan ARB simetris 15% masih tetap berlaku secara transisional sebelum diterapkan penuh pada awal 2027.

Read Also

Bisnis Pertashop di Ujung Tanduk: Antara Disparitas Harga dan Beban Regulasi yang Mencekik

Bisnis Pertashop di Ujung Tanduk: Antara Disparitas Harga dan Beban Regulasi yang Mencekik

Bagi para trader, kebijakan ini bak pedang bermata dua. Di satu sisi, peluang untuk mentransaksikan saham-saham murah kembali terbuka lebar. Di sisi lain, potensi volatilitas yang sangat tinggi menjadi risiko nyata. WartaLog mengingatkan agar para investor tetap berpegang pada analisis fundamental dan tidak terjebak dalam euforia semu hanya karena melihat nominal harga saham yang terlihat sangat murah.

HRUM Siapkan Amunisi Rp120 Miliar: Strategi Mempercantik EPS

Di tengah perubahan regulasi bursa tersebut, PT Harum Energy Tbk (HRUM) tampil dengan rencana strategis yang matang. Perseroan secara resmi mengumumkan akan menggelar aksi buyback dengan alokasi dana maksimal sebesar Rp120 miliar. Jumlah saham yang dibidik tidak main-main, yakni mencapai 111 juta lembar saham atau setara dengan 0,82% dari total modal ditempatkan dan disetor perusahaan.

Dana untuk membiayai aksi korporasi ini sepenuhnya berasal dari kas internal perusahaan. Perlu diketahui bahwa per Juni 2026, ekuitas HRUM tercatat berada pada angka yang sangat sehat, yakni sekitar US$1,95 miliar. Meskipun buyback ini akan mengurangi total aset dan ekuitas masing-masing sekitar US$6,74 juta, manajemen optimis bahwa langkah ini akan memberikan nilai tambah bagi para pemegang saham di masa depan.

Salah satu dampak positif yang paling dinantikan dari buyback ini adalah peningkatan Laba Per Saham Dasar atau Earning Per Share (EPS). Berdasarkan simulasi perusahaan, pasca aksi ini terlaksana, EPS HRUM diprediksi akan terkerek naik dari US$0,00278 menjadi US$0,00280. Periode pelaksanaan buyback direncanakan berlangsung selama tiga bulan, terhitung mulai 28 September hingga 24 Desember 2026, tanpa memerlukan persetujuan RUPS sesuai dengan regulasi OJK terbaru.

Rekomendasi Saham dan Strategi Trading Hari Ini

Melihat kondisi pasar yang penuh dengan dinamika baru, tim analis kami telah menyusun beberapa rekomendasi saham yang layak dicermati untuk perdagangan hari ini. Perlu dicatat bahwa strategi yang digunakan haruslah disiplin dengan target profit (TP) dan stop loss (SL) yang jelas untuk memitigasi risiko volatilitas.

  • CYBR: Area beli di 505-515, dengan target penguatan di 525-535. Batasi risiko di level 488.
  • ITMG: Emiten batubara ini menarik dipantau di harga 25375-25450, target kenaikan 25650-25800, SL di 24500.
  • ENRG: Rekomendasi beli di level 1310-1315, dengan TP 1350-1375 dan SL di 1250.
  • TMPO: Bagi pemburu saham lapis kedua, TMPO bisa dilirik di 176-177, TP di 182-185, dan SL 169.
  • VICI: Area buy 950-960, target profit 975-995, dengan SL di bawah 905.

Pasar saat ini menuntut ketajaman analisis dan ketenangan eksekusi. Dengan adanya perubahan batas harga minimum di bursa serta aksi korporasi signifikan dari emiten besar seperti HRUM, peta persaingan di pasar modal Indonesia dipastikan akan semakin menarik untuk diikuti dalam pekan-pekan mendatang.

Disclaimer: Seluruh data dan informasi yang disajikan oleh WartaLog bersifat edukatif dan informatif. Segala keputusan investasi berada sepenuhnya di tangan investor dengan mempertimbangkan profil risiko masing-masing.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *