Kurs Rupiah Kian Terdesak, Airlangga Hartarto Siapkan Strategi Tangkis Penguatan Dolar AS yang Mendekati Rp 18.000

Citra Lestari | WartaLog
28 Sep 2026, 19:17 WIB
Kurs Rupiah Kian Terdesak, Airlangga Hartarto Siapkan Strategi Tangkis Penguatan Dolar AS yang Mendekati Rp 18.000

WartaLog — Tekanan hebat sedang menghantam mata uang Garuda di pasar spot global. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terpantau terus merosot hingga nyaris menyentuh angka psikologis baru yang cukup mengkhawatirkan, yakni Rp 18.000 per dolar AS. Fenomena ini memicu perhatian serius dari pemerintah, mengingat stabilitas nilai tukar merupakan fondasi utama dalam menjaga ketahanan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global yang kian dinamis.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, akhirnya angkat bicara menanggapi situasi panas di pasar valuta asing ini. Dalam keterangannya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Airlangga menegaskan bahwa pemerintah tidak tinggal diam dan terus memantau setiap pergerakan angka yang muncul di layar perdagangan. Menurutnya, fluktuasi ini adalah hasil dari kombinasi berbagai faktor kompleks, baik dari sisi internal maupun tekanan eksternal yang melanda mata uang di berbagai negara berkembang.

Read Also

Strategi Belanja Cerdas: Borong Mesin Cuci Sharp Hemat 2 Juta di Transmart Full Day Sale

Strategi Belanja Cerdas: Borong Mesin Cuci Sharp Hemat 2 Juta di Transmart Full Day Sale

Kronologi Pelemahan Rupiah Menjelang Akhir September

Berdasarkan data yang dihimpun dari Bloomberg, pergerakan nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan pagi ini menunjukkan tren yang kurang menguntungkan. Mata uang Amerika Serikat terpantau menguat sebesar 0,32 persen, yang membawa posisinya bertengger di level Rp 17.961. Angka ini naik cukup signifikan dibandingkan dengan penutupan perdagangan pada hari sebelumnya yang berada di level Rp 17.903 per dolar AS.

Para pelaku pasar memproyeksikan bahwa sepanjang hari ini, investasi dan perdagangan valas akan membuat dolar AS bergerak di rentang yang cukup lebar, yakni antara Rp 17.940 hingga Rp 17.972. Jika ditarik garis waktu yang lebih panjang sepanjang tahun 2026, performa mata uang ‘Paman Sam’ ini memang sedang berada di atas angin. Tercatat, dolar AS telah mengalami apresiasi atau penguatan sebesar 7,67 persen terhadap rupiah sejak awal tahun.

Read Also

Krisis Gaji PPPK: Strategi Penyelamatan Kemenkeu bagi Pemerintah Daerah yang Tercekik Beban Anggaran

Krisis Gaji PPPK: Strategi Penyelamatan Kemenkeu bagi Pemerintah Daerah yang Tercekik Beban Anggaran

Strategi Pemerintah: Menggenjot Ekspor dan Devisa

Menghadapi situasi ini, Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa salah satu langkah konkret yang akan diambil pemerintah adalah dengan memperkuat pundi-pundi devisa negara. Jurus utamanya adalah dengan mendorong sektor ekspor agar lebih kompetitif dan masif. Dengan meningkatnya volume ekspor, diharapkan aliran dolar masuk ke dalam negeri akan semakin besar, sehingga dapat menyeimbangkan permintaan dan penawaran di pasar valas.

“Kita monitor dulu perkembangannya secara saksama. Pemerintah tentu akan menggenjot sektor ekspor supaya penerimaan devisa kita meningkat dan mampu menjadi bantalan bagi penguatan rupiah,” ujar Airlangga dengan nada optimis saat ditemui oleh tim jurnalis di Jakarta.

Peningkatan ekspor bukan sekadar jargon. Pemerintah berencana memberikan berbagai kemudahan bagi para eksportir, mulai dari insentif fiskal hingga penyederhanaan birokrasi. Harapannya, produk-produk unggulan Indonesia dapat merajai pasar internasional dan memberikan kontribusi nyata terhadap stabilitas moneter dalam negeri.

Read Also

Membangun Jembatan Masa Depan: Bagaimana Pemuda Pulau Obi Bertransformasi Menjadi Mekanik Handal

Membangun Jembatan Masa Depan: Bagaimana Pemuda Pulau Obi Bertransformasi Menjadi Mekanik Handal

Antara Fundamental Makro dan Faktor Sentimen

Menarik untuk dicermati bahwa meski rupiah sedang tertekan, Airlangga menekankan bahwa kondisi ekonomi Indonesia secara fundamental sebenarnya masih berada dalam koridor yang sangat baik. Pertumbuhan ekonomi yang stabil, angka inflasi yang relatif terkendali dibandingkan negara tetangga, serta neraca perdagangan yang seringkali mencatatkan surplus menjadi modal utama kepercayaan diri pemerintah.

Namun, Airlangga juga menyadari bahwa pasar keuangan tidak hanya digerakkan oleh angka-angka di atas kertas atau fundamental makro semata. Ada faktor lain yang seringkali bersifat emosional dan spekulatif, yakni faktor sentimen. “Kalau kita lihat, kondisi makro kita sebenarnya cukup baik. Namun, kita juga harus menyadari adanya faktor di luar fundamental. Faktor sentimental itu selalu ada di pasar global, dan tugas kita adalah melakukan balancing agar tidak terjadi guncangan yang berlebihan,” jelasnya.

Sentimen global ini seringkali dipicu oleh kebijakan moneter di Amerika Serikat, ketegangan geopolitik di berbagai belahan dunia, hingga kekhawatiran para investor terhadap perlambatan ekonomi global. Hal-hal inilah yang terkadang membuat investor lebih memilih memegang dolar AS sebagai aset aman (safe haven), yang pada gilirannya menekan mata uang negara berkembang seperti rupiah.

Keyakinan Terhadap Asumsi Kurs RAPBN 2027

Meski saat ini rupiah sedang ‘berdarah-darah’ mendekati angka Rp 18.000, pemerintah tetap teguh pada pendiriannya dalam menyusun rencana jangka panjang. Airlangga menegaskan bahwa pemerintah belum memiliki rencana untuk mengubah asumsi nilai tukar rupiah yang telah ditetapkan dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) tahun 2027.

Dalam dokumen perencanaan tersebut, pemerintah memasang angka asumsi di level Rp 17.500 per dolar AS. Angka ini dianggap masih realistis dan mencerminkan optimisme pemerintah bahwa tekanan saat ini bersifat temporer. Airlangga menepis anggapan bahwa target tersebut terlalu ambisius di tengah kondisi pasar yang sedang bergejolak.

“Asumsi untuk 2027 tidak diganti. Kita tetap optimis bahwa dengan kebijakan yang tepat dan koordinasi yang kuat antara pemerintah dan Bank Indonesia, angka tersebut bisa tercapai,” tegas Airlangga mengakhiri keterangannya.

Dampak Bagi Sektor Industri dan Masyarakat Luas

Pelemahan rupiah yang hampir menyentuh Rp 18.000 ini tentu bukan tanpa risiko. Bagi sektor industri, terutama yang sangat bergantung pada bahan baku impor, penguatan dolar AS berarti kenaikan biaya produksi. Jika hal ini berlangsung dalam jangka panjang, dikhawatirkan akan terjadi kenaikan harga barang di tingkat konsumen atau yang biasa disebut dengan inflasi.

Oleh karena itu, langkah-langkah yang diambil oleh Kemenko Perekonomian bersama otoritas moneter lainnya sangat dinantikan oleh para pelaku usaha. Upaya untuk menstabilkan rupiah tidak hanya penting untuk angka-angka statistik, tetapi juga sangat krusial untuk menjaga daya beli masyarakat dan keberlangsungan dunia usaha di tanah air.

Pemerintah juga mengimbau kepada masyarakat dan pelaku pasar untuk tetap tenang dan tidak terjebak dalam aksi spekulasi yang justru dapat memperburuk keadaan. Dengan fundamental ekonomi yang kuat dan strategi ekspor yang terukur, Indonesia diyakini mampu melewati badai fluktuasi nilai tukar ini dengan baik.

WartaLog akan terus memantau perkembangan terkini mengenai dinamika pasar keuangan dan kebijakan ekonomi pemerintah untuk memberikan informasi yang akurat dan berimbang bagi pembaca setia kami. Tetap pantau pembaruan selanjutnya hanya di WartaLog.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *