Aceh Tenggara Berduka: Amukan Sungai Lawe Kisam Rendam 13 Desa dan Putus Jalur Logistik Utama
WartaLog — Langit kelabu di atas Kabupaten Aceh Tenggara seolah tak memberi jeda bagi warga untuk bernapas lega. Curah hujan dengan intensitas ekstrem yang mengguyur wilayah tersebut sejak semalam telah memicu amukan air sungai yang tak terbendung. Akibatnya, sebanyak 13 desa yang tersebar di tujuh kecamatan kini terendam banjir luapan, menyisakan duka dan kerugian material yang tidak sedikit bagi masyarakat setempat.
Laporan terbaru yang dihimpun oleh tim redaksi mencatat bahwa kenaikan debit air terjadi secara signifikan pada dua sungai utama, yakni Sungai Lawe Kisam dan Sungai Lawe Kinga. Air yang meluap dari tanggul-tanggul yang tak lagi sanggup menahan beban volume air tersebut merangsek masuk ke pemukiman warga dengan cepat, memaksa puluhan keluarga harus berjibaku menyelamatkan harta benda mereka di tengah kegelapan malam.
Tragedi Berdarah Jalinsum: Tabrakan Maut Bus ALS dan Truk Tangki di Muratara Tewaskan 16 Orang
Kronologi Terjangan Banjir dan Wilayah Terdampak
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), Bahron Bakti, dalam keterangannya mengonfirmasi bahwa banjir Aceh Tenggara kali ini merupakan dampak langsung dari cuaca ekstrem. “Tingginya curah hujan di wilayah hulu mengakibatkan debit air Sungai Lawe Kisam dan Lawe Kinga mengalami peningkatan yang sangat drastis. Luapan air ini tidak hanya merendam jalanan, tetapi langsung masuk ke rumah-rumah penduduk,” ungkap Bahron pada Minggu (27/9/2026).
Berdasarkan data yang masuk ke meja redaksi, sebaran wilayah terdampak meliputi titik-titik krusial di tujuh kecamatan. Di Kecamatan Lawe Sumur, pemukiman di Desa Terutung Megara Lawe Pasaran dan Kisam Gabungan menjadi yang pertama merasakan dampak luapan. Sementara itu, di Kecamatan Bukit Tusam, Desa Maha Singkil juga dilaporkan tergenang air dengan ketinggian yang bervariasi.
Gempa Magnitudo 7,7 Guncang Mindanao: Ancaman Tsunami Mengintai Wilayah Indonesia Timur, BMKG Keluarkan Status Siaga
Kondisi yang cukup parah terlihat di Kecamatan Bambel, di mana lima desa sekaligus terendam, yakni Desa Terutung Seperai, Pancar Iman, Kuta Seri, Bambel Gabungan, dan Desa Lembah Haji. Tidak berhenti di situ, terjangan air juga mencapai Desa Kati Maju di Kecamatan Ketambe, Desa Mbarung dan Batu Mbulan I di Kecamatan Babussalam, Desa Simpang Empat Tanjung di Kecamatan Darul Hasanah, hingga Desa Pulonas Baru di Kecamatan Lawe Bulan.
Dampak Kemanusiaan: Ratusan Jiwa Terancam Kehilangan Mata Pencaharian
Meskipun dalam musibah ini dilaporkan tidak ada korban jiwa, namun dampak sosial dan ekonomi yang ditimbulkan sangatlah besar. Tercatat sebanyak 55 Kepala Keluarga (KK) atau sekitar 203 jiwa terdampak langsung oleh bencana alam ini. Banyak dari mereka kini harus membersihkan sisa-sisa lumpur yang masuk ke dalam rumah, sementara rasa was-was akan adanya banjir susulan terus menghantui mengingat awan mendung masih betah menggantung di langit Aceh Tenggara.
Gunung Dukono Kembali Berulah, Semburkan Abu Vulkanik Setinggi 1,4 Kilometer ke Langit Halmahera
Sektor pertanian, yang menjadi nadi utama ekonomi masyarakat lokal, mengalami pukulan telak. Banjir kali ini tidak hanya membawa air, tetapi juga merusak tatanan lahan produktif. Sekitar 40 hektare lahan pertanian di Desa Terutung Megara Lawe Pasaran dan sekitarnya kini menyerupai lautan lumpur. Di Desa Kisam Gabungan, setidaknya 10 hektare sawah yang tengah dalam masa pertumbuhan juga dilaporkan fuso akibat terendam luapan sungai.
Infrastruktur Lumpuh: Jembatan Hanyut dan Longsor Menutup Jalan
Kerusakan infrastruktur menjadi sorotan utama dalam laporan infrastruktur rusak pasca-banjir. Jalur transportasi nasional yang menghubungkan Kutacane menuju Blangkejeren di Desa Kati Maju, Kecamatan Ketambe, sempat lumpuh total. Hal ini disebabkan oleh material longsor yang menutupi badan jalan, ditambah lagi dengan tumbangnya tiang listrik milik PLN yang membahayakan pengguna jalan.
Kondisi jembatan di beberapa titik bahkan lebih memprihatinkan. Jembatan Mbarung yang menjadi akses vital menuju Kecamatan Lawe Alas dilaporkan tidak dapat dilewati karena strukturnya tergerus arus sungai yang sangat deras. Tak hanya itu, jembatan penghubung darurat Natam-Simpang IV Tanjung bahkan dikabarkan hanyut terbawa arus. Kondisi ini membuat mobilitas warga antar-kecamatan menjadi terisolasi.
“Oprit jembatan Mbarung Datuk-Lawe Sikap juga mengalami amblas yang cukup parah. Untuk menjaga keamanan, kendaraan roda empat dilarang keras melintas hingga ada perbaikan lebih lanjut,” tambah Bahron. Selain itu, abrasi sungai juga mengancam jalan di Pulonas Baru menuju Lawe Rutung sepanjang 50 meter, serta mulai terlihat retakan amblas pada jembatan rangka baja Biakmuli yang merupakan bagian dari jembatan nasional.
Langkah Cepat Tanggap Darurat BPBD
Merespons situasi yang kian kritis, BPBD Aceh Tenggara segera mengerahkan anggota Tim Reaksi Cepat (TRC) ke lokasi-lokasi paling terdampak. Fokus utama petugas saat ini adalah melakukan pendataan mendalam serta memberikan bantuan evakuasi bagi warga yang membutuhkan. Di beberapa titik, petugas harus menggunakan alat pemotong kayu untuk membersihkan pohon-pohon tumbang yang menghalangi akses jalan nasional di kawasan Tanjakan Gurah, Ketambe.
Untuk penanganan jangka pendek di lapangan, satu unit alat berat jenis ekskavator telah diterjunkan ke Desa Pancar Iman, Kecamatan Bambel. Alat berat ini difungsikan untuk menutup tanggul yang jebol serta melakukan normalisasi sungai Lawe Kisam agar aliran air kembali ke jalurnya dan tidak terus merembes ke rumah warga.
Pemerintah daerah melalui BPBD Aceh mengimbau kepada seluruh masyarakat yang tinggal di sepanjang aliran sungai agar tetap meningkatkan kewaspadaan. Fenomena cuaca yang tidak menentu membuat ancaman banjir bisa datang kapan saja. Koordinasi lintas sektor terus diperkuat untuk memastikan logistik bantuan dan penanganan teknis infrastruktur dapat berjalan secepat mungkin demi memulihkan denyut nadi kehidupan di Bumi Sepakat Segenep tersebut.
Kejadian ini kembali menjadi pengingat pentingnya mitigasi bencana jangka panjang, termasuk pembenahan tanggul secara permanen dan pelestarian kawasan hulu sungai. Tanpa langkah konkret, Aceh Tenggara akan terus terjebak dalam siklus bencana yang sama setiap kali musim penghujan tiba.