Amuk Api di Atap Lombok: Kebakaran Hutan Rinjani Meluas Hingga 977 Hektare, Medan Terjal Jadi Tantangan Berat

Akbar Silohon | WartaLog
26 Sep 2026, 23:17 WIB
Amuk Api di Atap Lombok: Kebakaran Hutan Rinjani Meluas Hingga 977 Hektare, Medan Terjal Jadi Tantangan Berat

WartaLog — Kabar duka menyelimuti salah satu ikon pariwisata alam kebanggaan Indonesia. Kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) di Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, kini tengah berjuang melawan amukan si jago merah yang terus meluas. Laporan terbaru menunjukkan bahwa intensitas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah tersebut telah menghanguskan area yang sangat luas, menciptakan tantangan besar bagi tim penyelamat yang bekerja di lapangan.

Peristiwa yang bermula dari titik api kecil kini telah bertransformasi menjadi ancaman serius bagi kelestarian ekosistem pegunungan. Berdasarkan data yang dihimpun oleh tim redaksi di lapangan, titik awal api terdeteksi di kawasan Bukit Setampol sejak Selasa (22/9). Namun, akibat kondisi cuaca yang ekstrem, lidah api dengan cepat menjalar dan mengepung area-area strategis lainnya, termasuk Puncak Sangkareang yang dikenal memiliki pemandangan luar biasa.

Read Also

Tragedi di Balik Tenangnya Arus Sungai Kuning: Pencarian Bocah Hilang di Klaten Berakhir Duka

Tragedi di Balik Tenangnya Arus Sungai Kuning: Pencarian Bocah Hilang di Klaten Berakhir Duka

Kronologi Meluasnya Api ke Jantung Rinjani

Penyebaran api di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani terjadi begitu masif. Setelah menghanguskan sebagian besar vegetasi di Bukit Setampol, api merembet ke arah Resort Torean dan Senaru. Dua jalur ini merupakan urat nadi bagi aktivitas pendakian di Rinjani, sehingga kebakaran ini tidak hanya mengancam alam, tetapi juga mata pencaharian masyarakat lokal yang bergantung pada sektor pariwisata.

Hingga saat ini, estimasi total area yang terdampak telah mencapai angka yang mengkhawatirkan, yakni sekitar 977,74 hektare. Luasnya lahan yang terbakar ini menjadikan peristiwa kali ini sebagai salah satu insiden karhutla yang cukup signifikan di wilayah NTB pada tahun ini. Tim pemantau terus melakukan pemetaan secara berkala untuk memastikan arah pergerakan api agar tidak merembet lebih jauh ke kawasan hutan primer yang lebih padat.

Read Also

Fenomena Lelang KPK 2026: iPhone XS Seharga Rp 231 Ribu Terjual Fantastis Rp 34 Juta

Fenomena Lelang KPK 2026: iPhone XS Seharga Rp 231 Ribu Terjual Fantastis Rp 34 Juta

Data dan Verifikasi Lapangan

Kepala Subbagian Tata Usaha TNGR, Astekita Ardiaristo, memberikan keterangan resmi mengenai situasi terkini pada Sabtu (26/9) malam. Ia menekankan bahwa angka 977,74 hektare tersebut masih bersifat estimasi sementara. Proses penghitungan luas dampak kebakaran dilakukan dengan metode yang sangat teliti, menggabungkan pengamatan visual langsung dan teknologi canggih.

“Angka tersebut masih merupakan estimasi sementara dan akan terus diperbarui berdasarkan hasil pemantauan lapangan serta dokumentasi udara menggunakan drone. Kami juga akan melakukan verifikasi batas areal terdampak setelah kondisi di lapangan memungkinkan dan dinyatakan aman bagi tim verifikasi,” ujar Astekita dalam pernyataan tertulisnya.

Perjuangan 80 Personel di Garis Depan

Menghadapi bencana ini, otoritas terkait tidak tinggal diam. Sebanyak 80 personel yang tergabung dalam tim gabungan pemadam kebakaran telah diterjunkan ke titik-titik krusial. Tim ini terdiri dari berbagai unsur, mulai dari petugas TNGR, relawan, hingga masyarakat peduli api. Mereka disebar ke lokasi-lokasi strategis seperti jalur pendakian Torean, Pos 3, Pelawangan Senaru, hingga Puncak Sangkareang.

Read Also

Pelarian Berakhir di Bali: Kisah Penangkapan Bos Kartel Hells Angels Australia dalam Operasi Senyap

Pelarian Berakhir di Bali: Kisah Penangkapan Bos Kartel Hells Angels Australia dalam Operasi Senyap

Para petugas ini harus bekerja dengan peralatan yang terbatas di tengah kondisi alam yang tidak bersahabat. Mereka melakukan upaya pemadaman manual serta pembuatan sekat bakar (firebreak) untuk memutus rantai penyebaran api. Keberadaan mereka di atas gunung selama berhari-hari menunjukkan dedikasi luar biasa demi menyelamatkan paru-paru hijau Pulau Lombok tersebut.

Kendala Alam: Angin Kencang dan Medan Ekstrem

Upaya pemadaman bukannya tanpa hambatan. Ada tiga faktor utama yang membuat proses pemadaman karhutla di Rinjani menjadi sangat sulit. Pertama adalah faktor cuaca, di mana angin yang bertiup sangat kencang di ketinggian gunung menyebabkan api meloncat dengan mudah dari satu vegetasi ke vegetasi lainnya.

Faktor kedua adalah kondisi bahan bakar alami di lapangan. Vegetasi di kawasan Rinjani saat ini didominasi oleh savana pegunungan, semak belukar, dan rumput kering yang sangat mudah tersulut api. Material organik yang menumpuk di lantai hutan menjadi bahan bakar yang sempurna bagi api untuk tetap menyala di bawah permukaan tanah.

Faktor ketiga, dan mungkin yang paling berat, adalah masalah geografis. Lokasi kebakaran berada pada medan pegunungan yang sangat jauh dari akses kendaraan, memiliki kemiringan yang terjal, serta sulit dijangkau dengan jalan kaki biasa. Mobilisasi personel, peralatan pemadam, hingga logistik makanan dan air membutuhkan waktu serta energi fisik yang sangat besar.

Dampak Terhadap Pariwisata dan Ekosistem

Gunung Rinjani bukan sekadar gundukan tanah dan batu; ia adalah rumah bagi ribuan spesies flora dan fauna. Kebakaran seluas hampir seribu hektare ini dipastikan akan mengganggu keseimbangan ekosistem lokal. Banyak satwa endemik yang terpaksa bermigrasi ke area yang lebih rendah, yang terkadang justru memicu konflik dengan pemukiman warga di kaki gunung.

Dari sisi pariwisata, penutupan jalur atau setidaknya pembatasan aktivitas pendakian Rinjani di beberapa titik menjadi konsekuensi logis. Hal ini tentu berdampak langsung pada para porter, pemandu wisata, dan pemilik penginapan di Desa Senaru maupun Sembalun. Keamanan pendaki menjadi prioritas utama di tengah kondisi asap tebal yang bisa mengganggu pernapasan dan jarak pandang.

Harapan dan Mitigasi Jangka Panjang

Kejadian ini menjadi pengingat keras bagi semua pihak tentang pentingnya mitigasi dan kesiapsiagaan bencana. Perubahan iklim global yang memicu kemarau panjang membuat kawasan hutan semakin rentan terbakar. Oleh karena itu, mitigasi bencana di masa depan harus melibatkan teknologi deteksi dini yang lebih responsif serta peningkatan kapasitas masyarakat lokal dalam menangani api di tahap awal.

Hingga berita ini diturunkan, tim gabungan masih terus bersiaga di lapangan. Masyarakat dihimbau untuk tetap waspada dan tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu munculnya titik api baru, seperti membuang puntung rokok sembarangan atau membuat api unggun yang tidak diawasi dengan ketat di sekitar kawasan hutan.

Rinjani adalah warisan dunia yang harus dijaga bersama. Luka yang ditinggalkan oleh api kali ini membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk pulih secara alami. Mari kita berharap hujan segera turun untuk membantu tugas para pahlawan api yang tengah berjuang di atas sana, mengembalikan hijaunya sang mahameru dari Nusa Tenggara.

Akbar Silohon

Akbar Silohon

Hi, saya senang berbagi berita terupdate.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *