Fenomena Kucing Berkostum di Tunjungan Surabaya: Menelisik Fakta di Balik Dugaan Eksploitasi dan Penggunaan Obat Tidur

Akbar Silohon | WartaLog
23 Sep 2026, 11:17 WIB
Fenomena Kucing Berkostum di Tunjungan Surabaya: Menelisik Fakta di Balik Dugaan Eksploitasi dan Penggunaan Obat Tidur

WartaLog — Riuh rendah suara kendaraan dan obrolan manusia di sepanjang Jalan Tunjungan, Surabaya, seolah menjadi latar musik harian bagi sebuah pemandangan yang tak biasa. Di antara hiruk-pikuk pusat gaya hidup ikonik Kota Pahlawan tersebut, kehadiran seekor kucing dengan balutan kostum unik kerap mencuri perhatian para pejalan kaki. Namun, di balik kegemasan tersebut, sebuah polemik mencuat dan menjadi perbincangan hangat di jagat maya. Kucing-kucing yang terlihat terlalu tenang, bahkan cenderung lemas, memicu kecurigaan publik terkait adanya praktik yang tidak etis.

Riuh Tunjungan dan Sosok Kucing yang Terlelap

Jalan Tunjungan kini bukan sekadar koridor sejarah, melainkan panggung bagi berbagai ekspresi seni dan hiburan jalanan. Dalam beberapa waktu terakhir, kehadiran kucing berkostum yang diletakkan di atas meja atau kursi kecil di pinggir jalan menjadi daya tarik tersendiri. Pengunjung yang gemas tak jarang berhenti untuk sekadar mengelus atau berfoto dengan anabul (anak bulu) tersebut.

Read Also

Lampung Menggebrak Nasional! Borong Tiga Penghargaan Bergengsi di Adinata Syariah 2026

Lampung Menggebrak Nasional! Borong Tiga Penghargaan Bergengsi di Adinata Syariah 2026

Namun, suasana berubah menjadi kekhawatiran saat beberapa video viral menunjukkan kucing-kucing tersebut tampak sangat lelap di tengah kebisingan yang luar biasa. Bagi sebagian orang, perilaku ini dianggap tidak wajar bagi seekor kucing yang secara naluriah memiliki sensitivitas tinggi terhadap suara keras dan keramaian. Narasi miring pun mulai beredar, menyebutkan bahwa kucing tersebut kemungkinan besar diberi obat tidur agar tetap tenang dan tidak meronta saat dipakaikan kostum serta dipamerkan di hadapan publik.

Sanggahan Pemilik: Antara Karakter Kucing dan Rasa Percaya

Menanggapi gelombang kritik yang kian deras, Bimo, sang pemilik kucing, akhirnya angkat bicara. Ia secara tegas membantah tudingan bahwa dirinya memberikan zat kimia atau obat tidur kepada hewan peliharaannya. Menurutnya, kondisi kucing yang terlihat sangat santai hingga tertidur pulas merupakan cerminan dari karakter asli kucing tersebut dan tingkat kepercayaan (trust) yang tinggi antara hewan dan pemiliknya.

Read Also

Hattrick yang Menyakitkan: Revaldo Kembali Terperosok di Lubang Narkoba untuk Keempat Kalinya

Hattrick yang Menyakitkan: Revaldo Kembali Terperosok di Lubang Narkoba untuk Keempat Kalinya

“Kalau lagi malas, ya memang malas. Dia di manapun kondisinya, apa pun, seramai apa pun dia akan tidur,” ungkap Bimo saat dimintai keterangan terkait kondisi peliharaannya. Ia menjelaskan bahwa tidak semua kucing memiliki temperamen yang sama. Kucing-kucing yang ia bawa ke Tunjungan diklaim sudah melalui proses adaptasi yang panjang dan memang memiliki kepribadian yang tenang atau ‘chill’.

Bimo menekankan bahwa seekor hewan peliharaan yang sudah merasa sepenuhnya aman dengan pemiliknya akan menunjukkan perilaku yang sangat rileks, bahkan di lingkungan yang bagi hewan lain mungkin terasa mengancam. “Kalau kucing sudah percaya sama owner-nya, dia itu merasa aman,” tambahnya lagi, mencoba meyakinkan publik bahwa tidak ada unsur paksaan dalam aktivitas tersebut.

Read Also

Misteri Jasad Pria Genggam Pisau di Kebun Jagung Bogor, Polisi Buru Identitas Korban

Misteri Jasad Pria Genggam Pisau di Kebun Jagung Bogor, Polisi Buru Identitas Korban

Polemik Donasi: Biaya Perawatan atau Eksploitasi?

Selain isu kesehatan dan pemberian obat, keberadaan kotak donasi di sekitar kucing tersebut juga memicu perdebatan mengenai eksploitasi hewan untuk keuntungan materi. Banyak netizen menyayangkan jika kucing-kucing tersebut hanya dijadikan alat untuk meraup rupiah dari belas kasihan pengunjung yang melintas.

Menanggapi hal ini, Bimo menjelaskan bahwa uang yang terkumpul dari para pengunjung sama sekali tidak digunakan untuk kepentingan pribadinya yang bersifat konsumtif. Ia menegaskan bahwa seluruh hasil donasi dikembalikan lagi untuk kesejahteraan kucing-kucing tersebut. Biaya perawatan hewan di kota besar seperti Surabaya memang tidaklah murah, terutama untuk kucing yang membutuhkan perawatan khusus.

“Pokoknya uang ini tuh uangnya mereka. Kembalikan ke pakannya, bulanannya mereka, vitaminnya mereka, dokternya mereka,” tutur Bimo. Ia merinci bahwa dana tersebut digunakan untuk membeli pakan berkualitas, pemberian vitamin rutin, hingga biaya konsultasi ke dokter hewan untuk memastikan kesehatan kucing tetap terjaga di tengah aktivitas mereka di luar ruangan.

Mengenal Gejala Kucing yang Mengalami Stres

Meskipun pemilik telah memberikan klarifikasi, para ahli perilaku hewan dan komunitas pecinta kucing tetap mengimbau masyarakat untuk lebih peka. Mengidentifikasi apakah seekor kucing sedang merasa nyaman atau justru mengalami tekanan memerlukan pengamatan yang jeli. Kesehatan kucing bukan hanya soal fisik, tetapi juga kesejahteraan mentalnya.

Secara umum, kucing yang stres mungkin tidak selalu meronta. Ada kondisi yang disebut dengan ‘shutdown’, di mana hewan menjadi sangat pasif karena merasa kewalahan dengan lingkungan sekitarnya. Hal inilah yang sering kali disalahartikan sebagai kondisi ‘anteng’ atau tenang. Oleh karena itu, edukasi mengenai perilaku hewan menjadi sangat penting bagi siapa pun yang membawa hewan peliharaan ke ruang publik yang padat.

Beberapa tanda kucing yang merasa tidak nyaman antara lain adalah telinga yang sering bergerak ke belakang, pupil mata yang membesar secara konstan, hingga pola napas yang tidak teratur. Jika seorang pemilik kucing mampu memahami sinyal-sinyal ini, maka risiko terjadinya malapraktik dalam pemeliharaan hewan dapat diminimalisir.

Respons Pemerintah Kota dan Tindakan Lanjut

Fenomena ini rupanya telah sampai ke telinga otoritas setempat. Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, sempat memberikan perhatian khusus terhadap laporan masyarakat mengenai dugaan eksploitasi kucing di kawasan Tunjungan. Pemerintah Kota Surabaya menekankan bahwa meskipun Jalan Tunjungan adalah ruang kreatif, namun segala bentuk aktivitas yang melibatkan makhluk hidup harus tetap mengedepankan prinsip kesejahteraan hewan (animal welfare).

Pihak terkait berencana untuk melakukan pemantauan lebih rutin terhadap para penyaji hiburan yang melibatkan hewan. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa tidak ada pelanggaran terhadap hak-hak hewan, termasuk memastikan lingkungan tempat mereka berada layak dan tidak menyebabkan penderitaan fisik maupun psikologis.

Langkah ini disambut baik oleh berbagai komunitas pecinta hewan di Jawa Timur. Mereka berharap ada regulasi yang lebih jelas mengenai keterlibatan hewan dalam kegiatan komersial di ruang publik, agar kejadian yang meragukan seperti ini tidak terus berulang dan menimbulkan kegaduhan di masyarakat.

Kesimpulan: Keseimbangan Antara Hiburan dan Kemanusiaan

Kasus kucing berkostum di Tunjungan ini menjadi pengingat bagi kita semua tentang tipisnya batas antara hiburan dan tanggung jawab moral terhadap makhluk hidup. Di satu sisi, kehadiran hewan yang lucu memang bisa menjadi penghibur stres bagi warga kota. Namun di sisi lain, hak-hak hewan untuk hidup tenang dan bebas dari rasa takut harus tetap menjadi prioritas utama.

Bagi pemilik seperti Bimo, transparansi dan keterbukaan terhadap kritik adalah kunci untuk membangun kepercayaan publik. Sementara bagi masyarakat, sikap kritis yang berlandaskan empati sangat diperlukan untuk memastikan bahwa setiap interaksi kita dengan hewan, baik itu di rumah maupun di jalanan, dilakukan dengan cara yang etis dan bertanggung jawab. Mari kita terus mendukung terciptanya ruang publik yang ramah bagi semua makhluk hidup, di mana estetika kota tidak mengorbankan kesejahteraan mereka yang tak bersuara.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai tips perawatan dan etika membawa hewan peliharaan ke tempat umum, Anda dapat mencari referensi terkait melalui perawatan hewan di kanal informasi terpercaya. Tetaplah menjadi pemilik yang bijak dan pengunjung yang peduli.

Akbar Silohon

Akbar Silohon

Hi, saya senang berbagi berita terupdate.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *