Polemik Konsensus Makan Bergizi Gratis: NasDem Tegaskan Sekolah Harus Satu Suara Tanpa Parsial

Akbar Silohon | WartaLog
18 Sep 2026, 11:17 WIB
Polemik Konsensus Makan Bergizi Gratis: NasDem Tegaskan Sekolah Harus Satu Suara Tanpa Parsial

WartaLog — Implementasi program strategis nasional, Makan Bergizi Gratis (MBG), kini tengah memasuki babak baru dalam penentuan mekanisme distribusinya di lapangan. Isu mengenai keseragaman suara di lingkungan sekolah negeri menjadi sorotan utama, memicu diskusi mendalam antara regulator dan legislatif. Dalam sebuah pernyataan yang menggugah kesadaran publik, Partai NasDem melalui anggotanya di Komisi IX DPR RI, Irma Chaniago, menyatakan dukungan penuh terhadap aturan ketat yang mengharuskan adanya konsensus bulat dari seluruh wali murid sebelum program ini dijalankan di suatu sekolah.

Kebijakan ini bukan tanpa alasan. Menurut kacamata politik dan birokrasi, sebuah program berskala masif seperti makan bergizi gratis tidak akan bisa berjalan efektif jika dilakukan secara parsial atau setengah-setengah. Bayangkan sebuah ekosistem sekolah di mana sebagian siswa mendapatkan asupan nutrisi dari negara, sementara sebagian lainnya tidak karena pilihan orang tua yang berbeda-beda. Hal ini diyakini akan menciptakan friksi sosial dan kendala logistik yang rumit bagi penyedia layanan pangan maupun pihak sekolah itu sendiri.

Read Also

Revolusi Digital Korlantas Polri: Gebrakan STNK Digital dan Bayar Tilang Sekali Klik Resmi Diluncurkan

Revolusi Digital Korlantas Polri: Gebrakan STNK Digital dan Bayar Tilang Sekali Klik Resmi Diluncurkan

Filosofi di Balik Aturan Konsensus Bulat

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, sebelumnya telah melontarkan pernyataan tegas dalam rapat dengar pendapat bersama DPR. Ia menekankan bahwa sekolah negeri harus memiliki satu suara: menerima sepenuhnya atau menolak sepenuhnya. Pendekatan “all-or-nothing” ini diambil untuk memastikan standarisasi dan keadilan sosial di lingkungan pendidikan milik pemerintah. Sudaryono menjelaskan bahwa aturan ini merupakan hasil godokan matang antara BGN, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), serta Kementerian Koordinator Bidang Pangan.

“Jika sekolah negeri ingin mengadopsi program ini, maka seluruh elemen di dalamnya harus sepakat. Tidak boleh ada dikotomi di mana 70 persen setuju dan 30 persen menolak dalam satu atap yang sama,” ungkap Sudaryono. Kebijakan ini didasari pada kenyataan bahwa kesehatan siswa adalah tanggung jawab kolektif. Dengan adanya konsensus, pihak sekolah memiliki mandat yang kuat untuk mengelola distribusi pangan tanpa dihantui oleh ketidakpastian jumlah porsi yang harus disiapkan setiap harinya.

Read Also

Jejak Kemanusiaan di Pulau Untung Jawa: Cara Polres Kepulauan Seribu Memaknai Hari Bhayangkara ke-80

Jejak Kemanusiaan di Pulau Untung Jawa: Cara Polres Kepulauan Seribu Memaknai Hari Bhayangkara ke-80

Dukungan NasDem: Menghindari Fragmentasi Kebijakan

Irma Chaniago, legislator kawakan dari Fraksi NasDem, menilai langkah yang diambil BGN sudah sangat tepat. Dalam pandangannya, pemberian gizi tidak boleh dilihat sebagai pilihan menu restoran yang bisa dipesan secara individu, melainkan sebagai sebuah sistem kesehatan publik di lingkungan sekolah. Menurut Irma, jika program ini dijalankan secara parsial, maka akan muncul ketimpangan yang justru mencederai semangat awal dari program gizi nasional itu sendiri.

“Kita tidak bisa melihat ini sebagai sesuatu yang parsial. Konsensus wali murid adalah kunci agar program ini memiliki legitimasi kuat di mata masyarakat. Jika orang tua sudah sepakat, maka tanggung jawab selanjutnya beralih pada pengawasan kualitas pangan,” ujar Irma saat memberikan pandangannya pada Jumat (18/9/2026). Ia menekankan bahwa energi pemerintah dan sekolah sebaiknya tidak habis untuk mengurusi perbedaan pendapat internal, melainkan difokuskan pada bagaimana memastikan makanan yang sampai ke tangan siswa benar-benar berkualitas tinggi.

Read Also

Reuni Hangat Para Mantan Kapolri di Puncak Peringatan Hari Bhayangkara ke-80 Bersama Presiden Prabowo Subianto

Reuni Hangat Para Mantan Kapolri di Puncak Peringatan Hari Bhayangkara ke-80 Bersama Presiden Prabowo Subianto

Peran Guru: Dari Pendidik Menjadi Garda Terdepan Keamanan Pangan

Salah satu poin krusial yang ditekankan oleh Irma Chaniago dalam narasi dukungannya adalah peran strategis para guru. Ia mengimbau agar guru tidak hanya sekadar menjadi distributor pasif, tetapi harus berperan sebagai pengawas kualitas atau quality control sebelum makanan dibagikan kepada para murid. Hal ini menjadi sangat vital mengingat risiko keamanan pangan seperti makanan basi atau kontaminasi yang bisa berujung pada kasus keracunan massal.

Irma menyarankan adanya prosedur operasi standar (SOP) di mana guru melakukan pengecekan fisik terhadap makanan yang dikirim oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Jika ditemukan kejanggalan, guru harus memiliki keberanian dan otoritas untuk mengembalikan makanan tersebut dan meminta ganti rugi seketika. “Jangan sampai anak-anak kita menjadi korban karena kelalaian pengecekan awal. Komitmen guru sangat dibutuhkan di sini untuk menekan risiko keracunan,” tegasnya.

Etika Digital dan Tanggung Jawab Institusional

Menariknya, Irma juga menyinggung fenomena penggunaan media sosial oleh oknum guru atau pihak sekolah. Ia berpesan agar masalah teknis seperti makanan yang kurang layak tidak langsung dijadikan konten media sosial sebelum ada upaya komunikasi formal dengan penyedia jasa atau SPPG. Hal ini demi menjaga marwah program dan memberikan kesempatan bagi pihak penyedia untuk melakukan perbaikan secara profesional.

“Lebih baik diselesaikan secara administratif terlebih dahulu. Laporkan, minta ganti, dan pastikan ada tanggung jawab. Kecuali jika pihak SPPG memang bebal atau tidak mau bertanggung jawab setelah diingatkan, baru langkah lain bisa diambil. Kita ingin membangun sistem, bukan sekadar mencari kegaduhan di dunia maya,” tambah Irma. Pendekatan ini menunjukkan kedewasaan dalam berorganisasi di mana setiap kendala teknis dalam kebijakan pemerintah harus diselesaikan dengan mekanisme yang sudah disediakan.

Menimbang Realitas Sosial di Sekolah Negeri

Tantangan terbesar dari kebijakan konsensus ini adalah heterogenitas tingkat ekonomi wali murid di sekolah negeri. Sudaryono mengakui bahwa dalam satu sekolah, mungkin saja ada keluarga yang sangat mampu dan merasa tidak membutuhkan bantuan makanan gratis, sementara keluarga lainnya sangat mengharapkannya. Namun, demi kelancaran operasional, kepentingan kolektif harus didahulukan.

Konsensus ini nantinya diharapkan lahir dari musyawarah mufakat antara komite sekolah dan seluruh wali murid. Dengan begitu, program MBG tidak hanya menjadi sekadar pemberian makanan, tetapi juga menjadi sarana gotong royong antar warga sekolah. Ke depannya, pemerintah berharap program ini dapat menekan angka stunting dan meningkatkan konsentrasi belajar siswa di seluruh pelosok negeri, asalkan pondasi kesepakatan di tingkat sekolah sudah terbangun dengan kokoh.

Kesimpulan dan Harapan Masa Depan

Langkah Badan Gizi Nasional yang didukung oleh NasDem ini merupakan upaya untuk merapikan manajemen program gizi agar tidak semrawut di tingkat akar rumput. Dengan adanya kejelasan bahwa sekolah negeri harus satu suara, diharapkan tidak ada lagi kebingungan logistik yang bisa menghambat distribusi nutrisi bagi generasi muda. Fokus utama kini beralih pada bagaimana SPPG mampu menyediakan makanan yang konsisten secara kualitas dan bagaimana sekolah membangun sistem pengawasan internal yang mumpuni.

Perjalanan program Makan Bergizi Gratis masih panjang dan penuh tantangan. Namun, dengan koordinasi yang solid antara kementerian, dukungan legislatif yang konstruktif, serta pengawasan ketat dari pihak sekolah, impian untuk menciptakan generasi emas Indonesia yang sehat dan cerdas bukan lagi sekadar angan-angan. Semua dimulai dari satu kesepakatan bulat di meja musyawarah sekolah.

Akbar Silohon

Akbar Silohon

Hi, saya senang berbagi berita terupdate.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *