Wajah Baru Jakarta: Jembatan ‘Donat’ Dukuh Atas Senilai Rp 300 Miliar Segera Jadi Ikon Konektivitas Global

Citra Lestari | WartaLog
30 Jul 2026, 23:18 WIB
Wajah Baru Jakarta: Jembatan 'Donat' Dukuh Atas Senilai Rp 300 Miliar Segera Jadi Ikon Konektivitas Global

WartaLog — Wajah Jakarta sebagai kota global semakin nyata melalui transformasi infrastruktur yang ambisius. Di jantung ibu kota, tepatnya di kawasan Dukuh Atas, sebuah mahakarya arsitektur pejalan kaki yang dikenal dengan sebutan Jembatan ‘Donat’ kini tengah bersiap memasuki tahap pembangunan fisik. PT MRT Jakarta (Perseroda) telah mengonfirmasi bahwa proyek raksasa senilai Rp 300 miliar ini sedang dalam proses tender dan diproyeksikan menjadi penghubung vital bagi jutaan komuter setiap harinya.

Fasilitas Pejalan Kaki (Pedestrian Deck) ini bukan sekadar jembatan penyeberangan biasa. Dengan desain melingkar yang futuristik, infrastruktur ini dirancang untuk menyatukan simpul-simpul transportasi yang selama ini terpisah, menciptakan sebuah ekosistem Transit Oriented Development (TOD) yang koheren dan efisien di pusat bisnis Jakarta.

Read Also

Sinyal Kenaikan Harga Tiket Pesawat: AHY Ungkap Dilema Fuel Surcharge di Tengah Gejolak Global

Sinyal Kenaikan Harga Tiket Pesawat: AHY Ungkap Dilema Fuel Surcharge di Tengah Gejolak Global

Mahakarya Arsitektur Baja di Pusat Sudirman

Secara teknis, Jembatan Donat ini akan berdiri sebagai struktur baja raksasa dengan diameter mencapai 100 meter. Keberadaannya akan membentang di atas Jalan Sudirman, salah satu urat nadi transportasi utama Jakarta. Advisor Program Management Office Division MRT Jakarta, Agus Trihan, menjelaskan bahwa ketinggian struktur ini telah diperhitungkan dengan sangat matang untuk memastikan kelancaran arus lalu lintas di bawahnya.

“Proyek ini dibangun menggunakan struktur baja dengan diameter 100 meter dan memiliki ketinggian sekitar 8 meter dari permukaan Jalan Sudirman. Angka ini sengaja dipilih agar tetap memberikan ruang aman bagi akses kendaraan darurat, seperti armada pemadam kebakaran,” ungkap Agus saat memberikan paparan di Kantor MRT Jakarta beberapa waktu lalu. Kepastian nilai proyek ini pun diungkapkan mencapai angka kasar Rp 300 miliar, sebuah investasi infrastruktur yang besar demi kenyamanan publik.

Read Also

Refleksi 81 Tahun Kemerdekaan: Presiden Prabowo Subianto dan Tantangan Besar Mewujudkan Mobil Nasional Sejati

Refleksi 81 Tahun Kemerdekaan: Presiden Prabowo Subianto dan Tantangan Besar Mewujudkan Mobil Nasional Sejati

Menghubungkan Enam Moda Transportasi Utama

Salah satu nilai jual utama dari pembangunan Pedestrian Deck Dukuh Atas ini adalah perannya sebagai integrator transportasi. Kawasan Dukuh Atas memang dikenal sebagai titik pertemuan tersibuk di Jakarta. Nantinya, jembatan ini akan menjadi jembatan penghubung bagi enam moda transportasi sekaligus, yaitu MRT Jakarta, LRT Jabodebek, Transjakarta, Kereta Bandara, hingga KRL Commuter Line.

Kehadiran jembatan ini diharapkan dapat menghapus kebingungan pejalan kaki saat harus berpindah dari satu moda ke moda lainnya. Selama ini, mobilitas pejalan kaki di Dukuh Atas sering kali terkendala oleh jalur yang tidak terintegrasi dengan baik, memaksa mereka untuk turun ke jalan raya atau memutar jauh. Dengan jembatan ini, seluruh perpindahan tersebut dapat dilakukan dalam satu level ketinggian yang aman dan nyaman.

Read Also

Polemik Pengadaan Kipas Angin Rp 1,8 Triliun, Dirut Agrinas: Data Anggota DPR Tak Valid?

Polemik Pengadaan Kipas Angin Rp 1,8 Triliun, Dirut Agrinas: Data Anggota DPR Tak Valid?

Efisiensi Waktu: Menghemat Setiap Menit Berharga

Bagi warga Jakarta, waktu adalah komoditas yang sangat berharga. Berdasarkan proyeksi MRT Jakarta, kehadiran jembatan ini akan mampu memangkas waktu perpindahan antar-moda secara signifikan. Agus Trihan merinci bahwa rata-rata penghematan perjalanan bisa mencapai 2 hingga 3 menit. Namun, untuk rute-rute tertentu, efisiensinya bisa jauh lebih terasa.

“Yang paling signifikan adalah akses dari kawasan Landmark Tower menuju Hotel Shangri-La. Saat ini, rutenya cukup rumit karena pejalan kaki harus naik-turun dan memutar ke arah selatan terlebih dahulu. Dengan adanya Jembatan Donat ini, saya rasa pengguna bisa menghemat waktu sekitar 4 sampai 5 menit,” jelas Agus. Dalam konteks transportasi publik, penghematan beberapa menit ini sangat krusial untuk memastikan ketepatan waktu jadwal perjalanan penumpang.

Kemandirian Finansial: Tanpa Membebani APBD

Di tengah banyaknya proyek pembangunan yang mengandalkan anggaran negara, proyek Jembatan Donat Dukuh Atas tampil beda. TOD Planning Department Head MRT Jakarta, Sagita Devi, menegaskan bahwa pembiayaan proyek ini dilakukan secara mandiri oleh PT MRT Jakarta tanpa menyentuh Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

“Untuk pendanaannya sendiri, ini akan dikelola sepenuhnya oleh MRT, jadi tidak menggunakan pembiayaan APBD. Skema yang kami jalankan saat ini adalah 50 persen menggunakan investasi internal MRT, sementara 50 persen sisanya rencananya akan kami penuhi melalui skema pinjaman atau loan,” terang Sagita. Langkah ini menunjukkan profesionalisme dan kemandirian BUMD dalam mengembangkan infrastruktur komersial yang berkelanjutan.

‘Ruang Bernapas’ dan Nasib Patung Sudirman

Pembangunan infrastruktur besar di kawasan Sudirman sering kali memicu kekhawatiran terkait estetika dan kelestarian ikon kota, salah satunya adalah Patung Sudirman. Namun, Agus Trihan menepis kekhawatiran publik mengenai isu pembongkaran patung pahlawan tersebut. Sebaliknya, desain Jembatan Donat justru dirancang untuk menghormati keberadaan patung tersebut.

“Dulu memang sempat ada rumor bahwa Patung Sudirman akan dibongkar. Justru dengan adanya proyek ini, kita menciptakan apa yang disebut para arsitek sebagai ‘ruang bernapas’. Para pejalan kaki nantinya bisa menikmati kemegahan Patung Sudirman dari sudut pandang yang lebih dekat dan sejajar dari dalam Pedestrian Deck,” tuturnya. Ini merupakan pendekatan urban design yang cerdas, di mana modernitas bersanding harmonis dengan nilai-nilai sejarah.

Target Rampung di Akhir 2028

Bagi masyarakat yang sudah tidak sabar menantikan kehadiran ikon baru ini, tampaknya harus sedikit bersabar. Proses tender yang tengah berlangsung saat ini merupakan fase krusial untuk menentukan kontraktor terbaik yang akan mengeksekusi visi besar ini. Jika seluruh proses berjalan sesuai rencana, pengerjaan fisik diprediksi akan dimulai pada November 2026.

Mengingat kompleksitas struktur baja dan lokasi pembangunan yang berada di titik tersibuk Jakarta, masa konstruksi diperkirakan akan memakan waktu sekitar dua tahun. Targetnya, pada akhir tahun 2028, masyarakat Jakarta sudah bisa melintasi Jembatan Donat Dukuh Atas ini. Proyek ini diharapkan menjadi standar baru bagi pembangunan pembangunan kota di Indonesia yang mengedepankan aspek keberlanjutan, kenyamanan pejalan kaki, dan integrasi transportasi kelas dunia.

Dengan selesainya proyek ini kelak, Dukuh Atas tidak hanya akan menjadi pusat transportasi, tetapi juga destinasi gaya hidup baru bagi warga Jakarta untuk berjalan kaki sembari menikmati denyut nadi ibu kota dari ketinggian.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *