Akselerasi Infrastruktur Pendidikan: Pramono Anung Targetkan Revitalisasi 11 Sekolah di Jakarta Rampung Tahun Ini

Akbar Silohon | WartaLog
26 Jul 2026, 09:17 WIB
Akselerasi Infrastruktur Pendidikan: Pramono Anung Targetkan Revitalisasi 11 Sekolah di Jakarta Rampung Tahun Ini

WartaLog — Di tengah hiruk-pikuk pembangunan megapolitan Jakarta, isu keselamatan infrastruktur dasar, terutama gedung pendidikan, kembali menjadi sorotan tajam. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, baru-baru ini menegaskan komitmen pemerintah provinsi untuk mempercepat langkah pembenahan sekolah-sekolah yang kondisinya sudah mengkhawatirkan. Tidak tanggung-tanggung, sebanyak 11 gedung sekolah dipastikan akan masuk dalam daftar prioritas revitalisasi yang harus tuntas pada tahun anggaran ini.

Keputusan besar ini diambil bukan tanpa alasan yang mendesak. Awalnya, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta hanya merencanakan perbaikan pada 7 gedung sekolah. Namun, sebuah insiden mengejutkan di lapangan memaksa pemerintah untuk mengubah haluan dan memperluas skala prioritas. Robohnya struktur bangunan di SDN Kebayoran Lama Selatan 09 menjadi alarm keras bagi birokrasi ibu kota bahwa penundaan renovasi bisa berakibat fatal bagi keselamatan peserta didik.

Read Also

Penghormatan Terakhir bagi Ali Khamenei: Pemimpin Dunia Berkumpul di Teheran di Tengah Gencatan Senjata yang Rapuh

Penghormatan Terakhir bagi Ali Khamenei: Pemimpin Dunia Berkumpul di Teheran di Tengah Gencatan Senjata yang Rapuh

Lompatan Prioritas: Dari 7 Menjadi 11 Gedung Sekolah

Pramono Anung, dalam keterangannya di kawasan Jalan Rasuna Said, menjelaskan secara rinci perubahan strategi ini. Ia mengungkapkan bahwa laporan dari lapangan mengenai kondisi bangunan yang sudah tidak layak pakai, terutama setelah kasus di Kebayoran Lama, membuat pihaknya harus bergerak lebih cepat. Koordinasi intensif segera dilakukan dengan Dinas Pendidikan serta Dinas Cipta Karya, Tata Ruang, dan Pertanahan (Citata).

“Awalnya memang ada 7 sekolah yang kami jalankan proses revitalisasinya. Namun, setelah insiden di SD Negeri 09 Kebayoran Lama, gedung tersebut otomatis masuk menjadi prioritas kedelapan. Setelah kami melakukan evaluasi menyeluruh bersama dinas terkait, saya memutuskan untuk menambah 4 lagi sekolah yang harus diselesaikan tahun ini. Jadi, total ada 11 sekolah yang pengerjaannya kita kejar agar selesai tepat waktu,” ujar Pramono dengan nada tegas.

Read Also

Transformasi Waduk Pusong: Strategi Lhokseumawe Perkuat Ketahanan Kota Melalui Optimalisasi Dana TKD

Transformasi Waduk Pusong: Strategi Lhokseumawe Perkuat Ketahanan Kota Melalui Optimalisasi Dana TKD

Langkah ini merupakan bagian dari peta jalan besar Pemprov Jakarta untuk melakukan transformasi total terhadap 22 sekolah yang dinilai memiliki tingkat kerusakan signifikan. Sementara 11 sekolah akan diselesaikan tahun ini, sisanya akan mulai digarap pada tahun anggaran berikutnya. Pramono menekankan bahwa infrastruktur pendidikan tidak boleh dikompromikan, karena menyangkut hak dasar anak-anak Jakarta untuk belajar di lingkungan yang aman dan nyaman.

Polemik SDN Cipete Utara 01: Antara Kebutuhan Sekolah dan Ambisi Komersial

Selain membahas soal penambahan jumlah sekolah yang direvitalisasi, Pramono juga menyoroti satu proyek yang sempat menjadi perbincangan hangat karena dianggap terbengkalai, yakni SDN Cipete Utara 01 di Jakarta Selatan. Kasus sekolah ini terbilang unik sekaligus rumit, karena melibatkan perubahan konsep pembangunan di tengah jalan.

Read Also

Misi Besar Shin Tae-yong di Persija: Gubernur Pramono Anung Tagih ‘Kado Spesial’ untuk Abad Kelima Jakarta

Misi Besar Shin Tae-yong di Persija: Gubernur Pramono Anung Tagih ‘Kado Spesial’ untuk Abad Kelima Jakarta

Pramono membeberkan bahwa proyek di Cipete Utara sempat mengalami kendala serius dari sisi kontraktor. Muncul sebuah ambisi untuk menjadikan lahan sekolah tersebut sebagai kawasan *mixed-use* atau penggunaan campuran. Ide awalnya adalah membangun gedung bertingkat hingga 20 lantai yang tidak hanya berfungsi sebagai sekolah, tetapi juga untuk fungsi komersial atau perkantoran lainnya.

“Di tengah jalan, ada keinginan untuk mengubah konsep menjadi *mixed-use*, membangun ke atas sampai 20 lantai. Namun, dalam perjalanannya, visi kontraktor kembali berubah dan waktu yang tersedia pun sudah terlampaui. Ini menyebabkan proyek menjadi stagnan dan merugikan kepentingan siswa,” jelasnya. Menanggapi ketidakpastian tersebut, Pramono mengambil keputusan diskresi untuk mengembalikan fokus utama pembangunan pada fungsinya sebagai tempat belajar mengajar.

Kembali ke Marwah Pendidikan: Mengutamakan Siswa

Pramono dengan tegas memutuskan untuk membatalkan rencana *mixed-use* yang ambisius tersebut demi mengejar ketertinggalan pembangunan gedung sekolah. Ia berpendapat bahwa kebutuhan siswa akan ruang kelas yang layak jauh lebih mendesak daripada mimpi membangun gedung pencakar langit di atas lahan sekolah dasar.

“Saya kemarin sudah memutuskan, kita selesaikan dulu bangunan SD-nya. Urusan *mixed-use* itu tidak kita lanjutkan untuk saat ini. Itu urusan lain di masa depan. Yang paling krusial sekarang adalah anak-anak di SD Negeri 01 Cipete Utara bisa segera kembali ke gedung mereka dan belajar dengan tenang,” tambah Pramono. Langkah ini mendapatkan apresiasi dari berbagai kalangan yang menilai bahwa pembangunan Jakarta harus tetap mengedepankan aspek sosial-pendidikan dibandingkan sekadar nilai komersial lahan.

Investigasi Menyeluruh dan Faktor Usia Bangunan

Menyadari bahwa banyak gedung sekolah di Jakarta dibangun pada era 70-an hingga 80-an, Pramono juga telah membentuk tim investigasi khusus. Tim ini bertugas untuk menyisir dan mengecek ulang konstruksi gedung-gedung sekolah di seluruh Jakarta guna memetakan potensi risiko serupa dengan yang terjadi di Kebayoran Lama.

Sebagai informasi tambahan, SDN 09 Kebayoran Lama yang roboh tersebut diketahui telah berdiri sejak tahun 1974. Walikota Jakarta Selatan sempat menyatakan bahwa faktor usia bangunan menjadi penyebab utama rapuhnya struktur gedung tersebut. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa Jakarta sedang menghadapi tantangan besar berupa penuaan aset infrastruktur publik yang membutuhkan penanganan sistematis dan anggaran yang tidak sedikit.

Dengan target revitalisasi 11 sekolah tahun ini, warga Jakarta menaruh harapan besar pada kepemimpinan Pramono Anung untuk memastikan tidak ada lagi siswa yang harus belajar di bawah bayang-bayang atap yang keropos. Renovasi sekolah bukan sekadar proyek fisik, melainkan investasi jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia di masa depan.

Masa Depan Pendidikan di Jakarta

Pramono Anung menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa pembenahan ini akan terus berlanjut secara berkelanjutan. Target 22 sekolah hanyalah permulaan dari visi besar untuk menciptakan standar sekolah negeri di Jakarta yang setara dengan fasilitas internasional. Pemprov DKI Jakarta berkomitmen untuk tidak hanya memperbaiki bangunan yang roboh, tetapi juga melakukan modernisasi pada fasilitas pendukung lainnya seperti laboratorium, perpustakaan, dan ruang terbuka hijau di lingkungan sekolah.

Melalui langkah-langkah strategis ini, diharapkan polemik sekolah terbengkalai atau gedung roboh tidak lagi menghiasi wajah pendidikan ibu kota. Transformasi ini menjadi bukti nyata bahwa di bawah pengawasan ketat dan manajemen yang tepat, anggaran daerah dapat dikonversi menjadi manfaat nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat kelas bawah hingga menengah di seluruh pelosok Jakarta.

Akbar Silohon

Akbar Silohon

Hi, saya senang berbagi berita terupdate.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *