Revolusi Total Sepak Bola: FIFA Pertimbangkan Ekspansi Piala Dunia Menjadi 64 Peserta

Maya Indah | WartaLog
13 Jul 2026, 13:18 WIB
Revolusi Total Sepak Bola: FIFA Pertimbangkan Ekspansi Piala Dunia Menjadi 64 Peserta

WartaLog — Dunia sepak bola tampaknya tengah bersiap menghadapi perubahan paling radikal dalam sejarah panjang turnamen empat tahunan miliknya. Belum juga genderang perang Piala Dunia 2026 resmi ditabuh dengan format 48 tim yang baru, Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) sudah mulai melempar wacana yang jauh lebih ambisius. Presiden FIFA, Gianni Infantino, secara terbuka mengonfirmasi bahwa pihaknya tengah mempertimbangkan untuk memperluas jumlah peserta menjadi 64 negara di edisi-edisi mendatang.

Langkah ini bukan sekadar tentang angka, melainkan sebuah transformasi lanskap sepak bola internasional yang akan menyentuh berbagai aspek, mulai dari logistik, ekonomi, hingga kualitas kompetisi di lapangan hijau. Ide yang awalnya diusulkan oleh Konfederasi Sepak Bola Amerika Selatan (CONMEBOL) untuk edisi 2030 ini, kini menjadi topik hangat yang siap dibahas secara mendalam di tingkat komite eksekutif.

Read Also

Tiket Indonesia Open 2026 Lebih Murah: Simak Daftar Harga Lengkap dan Jadwal Rilisnya

Tiket Indonesia Open 2026 Lebih Murah: Simak Daftar Harga Lengkap dan Jadwal Rilisnya

Visi Inklusivitas Gianni Infantino: Sepak Bola Milik Dunia

Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan penyiar asal Swiss, Blue Sport (Bluewin), Gianni Infantino menegaskan bahwa peran FIFA adalah memastikan bahwa sepak bola benar-benar menjadi olahraga global yang inklusif. Menurutnya, dominasi tradisional dari tim-tim Eropa dan Amerika Selatan tidak boleh menjadi penghalang bagi negara-negara lain untuk bermimpi mencapai panggung tertinggi.

“Ketika kita berbicara tentang Piala Dunia, kita harus ingat bahwa ini adalah turnamen untuk seluruh dunia,” ujar Infantino. Ia menekankan bahwa memberikan kesempatan kepada lebih banyak negara untuk berpartisipasi akan menjadi motor penggerak bagi peningkatan kualitas tim nasional di berbagai belahan bumi yang selama ini hanya menjadi penonton di pinggiran.

Read Also

Jadwal dan Prediksi Persija Jakarta vs Persebaya Surabaya: Duel Sengit di Gelora Bung Karno

Jadwal dan Prediksi Persija Jakarta vs Persebaya Surabaya: Duel Sengit di Gelora Bung Karno

Bagi Infantino, perluasan peserta bukan sekadar strategi bisnis, melainkan sebuah misi sosial untuk memotivasi federasi-federasi kecil agar lebih serius dalam membina bakat muda. Dengan adanya kuota yang lebih besar, negara-negara yang sebelumnya menganggap kualifikasi sebagai misi mustahil, kini memiliki target nyata yang bisa dikejar.

Lonjakan Jumlah Pertandingan: Dari 64 ke 128 Laga

Jika wacana 64 tim ini benar-benar direalisasikan, maka perubahan struktur turnamen akan sangat masif. Sebagai perbandingan, pada format klasik 32 tim yang digunakan sejak 1998 hingga 2022, terdapat total 64 pertandingan yang digelar selama sekitar satu bulan. Pada edisi 2026 mendatang yang diikuti 48 tim, jumlah pertandingan meningkat menjadi 104 laga.

Namun, angka itu akan melonjak dua kali lipat dari format lama jika peserta mencapai 64 tim. Kita akan menyaksikan total 128 pertandingan dalam satu turnamen tunggal. Ini adalah sebuah maraton fisik dan mental bagi para pemain, sekaligus tantangan logistik yang luar biasa bagi negara penyelenggara. Penambahan ini menuntut infrastruktur yang jauh lebih besar, jumlah stadion yang lebih banyak, serta sistem transportasi yang mampu menampung jutaan penggemar dari seluruh penjuru dunia.

Read Also

Tragedi Berulang Christian Eriksen: Gelandang Denmark Kolaps Kontra Ukraina, Laga Resmi Dihentikan

Tragedi Berulang Christian Eriksen: Gelandang Denmark Kolaps Kontra Ukraina, Laga Resmi Dihentikan

Meskipun demikian, FIFA menilai bahwa lonjakan jumlah pertandingan ini akan memberikan dampak ekonomi yang positif, terutama dari sisi hak siar televisi dan sponsor sepak bola. Pendapatan yang dihasilkan nantinya diklaim akan dikembalikan ke federasi-federasi anggota untuk pengembangan infrastruktur lokal.

Kesuksesan Transisi ke Format 48 Tim

Kepercayaan diri Infantino dalam mengusulkan ekspansi lebih lanjut didorong oleh apa yang ia sebut sebagai kesuksesan awal dari rencana format 48 tim. Meskipun sempat menuai skeptisisme, FIFA melihat bahwa performa tim-tim berperingkat lebih rendah di turnamen-turnamen internasional belakangan ini menunjukkan kemajuan yang signifikan.

Ia menunjuk bagaimana tim-tim yang tidak diunggulkan mampu memberikan kejutan dan persaingan ketat bagi tim-tim raksasa. Hal inilah yang menjadi pembenaran kuat bagi FIFA untuk terus membuka pintu lebar-lebar. “Kami melihat bahwa kesenjangan antara tim papan atas dan tim lainnya semakin mengecil. Format 48 tim adalah langkah awal, dan kami akan mengevaluasi hasilnya setelah 2026 untuk melihat kemungkinan langkah berikutnya,” tambahnya.

Tantangan dan Kritik dari Berbagai Pihak

Namun, perjalanan menuju 64 tim dipastikan tidak akan mulus. Berbagai kritik bermunculan, terutama dari asosiasi pemain dan liga-liga top Eropa. Masalah utama yang disoroti adalah beban kerja pemain yang sudah sangat padat. Dengan penambahan jumlah pertandingan, risiko cedera pemain bintang semakin tinggi, yang pada gilirannya dapat menurunkan kualitas permainan di level klub maupun tim nasional.

Selain itu, beberapa analis sepak bola mengkhawatirkan adanya penurunan gengsi. Ada kekhawatiran bahwa Piala Dunia akan terasa seperti babak kualifikasi yang berkepanjangan jika terlalu banyak tim yang terlibat. Kualitas pertandingan di fase grup juga dikhawatirkan akan menurun jika selisih kemampuan antar tim terlalu mencolok.

Di sisi lain, tantangan tuan rumah juga menjadi sorotan. Sangat sedikit negara yang memiliki kapasitas untuk menyelenggarakan 128 pertandingan secara mandiri. Ini kemungkinan akan memaksa sistem tuan rumah bersama (co-hosting) antar negara atau bahkan antar kawasan menjadi standar baru di masa depan.

Peluang Emas Bagi Negara Berkembang, Termasuk Indonesia?

Bagi negara-negara dengan basis massa penggemar sepak bola yang besar namun kesulitan menembus kualifikasi ketat, wacana ini tentu menjadi angin segar. Di kawasan Asia (AFC), penambahan kuota akan membuka peluang lebih lebar bagi negara-negara berkembang untuk merasakan atmosfer kompetisi elit tersebut.

Ini tentu memicu harapan bagi publik sepak bola di Indonesia. Dengan reformasi yang sedang berjalan di tubuh federasi nasional, peluang untuk tampil di Piala Dunia bukan lagi sekadar mimpi di siang bolong jika format 64 tim benar-benar diterapkan. Harapan ini diharapkan bisa menjadi pemacu semangat bagi seluruh stakeholder sepak bola tanah air untuk terus berbenah dan meningkatkan standar kompetisi domestik.

Masa Depan Setelah Piala Dunia 2026

FIFA telah menjadwalkan pembahasan resmi mengenai format pasca-2026 dalam rapat-rapat komite setelah penyelenggaraan di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko berakhir. Hasil dari evaluasi penyelenggaraan format 48 tim akan menjadi kunci utama apakah usulan CONMEBOL untuk 64 tim akan diterima atau tetap bertahan dengan format yang ada.

Pada akhirnya, sepak bola berada di persimpangan jalan antara mempertahankan tradisi eksklusivitas yang prestisius atau merangkul globalisasi total yang inklusif. Apapun keputusannya nanti, satu hal yang pasti: wajah sepak bola dunia tidak akan pernah sama lagi setelah dekade ini berakhir.

Keputusan FIFA nantinya akan mencerminkan bagaimana mereka memandang masa depan olahraga ini—apakah sebagai sebuah pertunjukan seni yang murni dan terbatas, atau sebagai industri hiburan raksasa yang menyentuh setiap sudut planet ini tanpa terkecuali.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *