Kontroversi VAR di Piala Dunia 2026: Mengapa Gol Mesir ke Gawang Argentina Seharusnya Sah?

Sutrisno | WartaLog
08 Jul 2026, 09:20 WIB
Kontroversi VAR di Piala Dunia 2026: Mengapa Gol Mesir ke Gawang Argentina Seharusnya Sah?

WartaLog — Panggung megah Piala Dunia 2026 kembali menyuguhkan drama yang menguras emosi, namun kali ini bukan karena gol spektakuler, melainkan keputusan wasit yang memicu perdebatan panjang. Pertemuan sengit antara Mesir dan Argentina di babak 16 besar yang berlangsung di Atlanta Stadium menjadi sorotan tajam setelah sebuah keputusan Video Assistant Referee (VAR) dianggap merampas momentum emas bagi tim berjuluk The Pharaohs tersebut.

Mesir, yang tampil disiplin dan penuh kejutan, sebenarnya berada di ambang sejarah saat mereka unggul 1-0 atas tim Tango. Namun, petaka dimulai pada menit ke-58 ketika Mostafa Ziko berhasil menggetarkan jala gawang Argentina setelah menerima umpan terobosan cerdik dari bintang dunia, Mohamed Salah. Kegembiraan para pemain dan pendukung Mesir hanya bertahan sekejap. Wasit Francois Letexier, setelah berkonsultasi dengan ruang VAR, memutuskan untuk menganulir gol tersebut karena adanya dugaan pelanggaran jauh sebelum proses gol terjadi.

Read Also

Sihir Isak dan Gyokeres: Swedia Mengamuk, Lumat Tunisia 5-1 di Matchday Perdana Piala Dunia 2026

Sihir Isak dan Gyokeres: Swedia Mengamuk, Lumat Tunisia 5-1 di Matchday Perdana Piala Dunia 2026

Analisis Tajam Graham Scott: Intervensi yang Terlalu Jauh

Keputusan tersebut tidak hanya memicu protes keras dari pinggir lapangan oleh pelatih Mesir, tetapi juga menarik perhatian para pakar perwasitan internasional. Salah satu yang paling vokal adalah Graham Scott, mantan wasit kenamaan Premier League. Dalam analisis mendalamnya, Scott secara tegas menyatakan bahwa gol Mostafa Ziko adalah gol yang sah dan seharusnya tidak dianulir.

Scott menyoroti bahwa insiden yang dianggap sebagai pelanggaran oleh Marwan Attia terhadap Lisandro Martinez merupakan kontak fisik yang lumrah terjadi dalam sebuah pertandingan sepak bola. Menurutnya, sepak bola adalah olahraga fisik, dan tidak setiap sentuhan harus berujung pada tiupan peluit, apalagi sampai membatalkan sebuah gol di turnamen sebesar Piala Dunia.

Read Also

Drama di Le Mans: Maximo Quiles Tak Terbendung, Veda Ega Pratama Melesat ke Lima Besar Klasemen Moto3 2026

Drama di Le Mans: Maximo Quiles Tak Terbendung, Veda Ega Pratama Melesat ke Lima Besar Klasemen Moto3 2026

Jarak dan Fase Permainan yang Menjadi Perdebatan

Salah satu poin krusial yang diangkat oleh Graham Scott adalah jarak antara lokasi insiden dengan gawang. Berdasarkan pengamatannya, insiden kontak tersebut terjadi hampir 100 yard atau sekitar 91 meter dari gawang Argentina. Scott berargumen bahwa dalam jarak sejauh itu, Argentina sebenarnya memiliki waktu dan ruang yang sangat cukup untuk mengatur ulang struktur pertahanan mereka.

“Ini adalah intervensi yang mengejutkan. VAR seharusnya hanya berfungsi untuk mengoreksi kesalahan yang jelas dan nyata (clear and obvious error). Di sini, kita melihat sebuah proses yang sudah jauh beralih, dan Argentina sudah memiliki kesempatan untuk bertahan secara kolektif,” ungkap Scott sebagaimana dikutip dari ulasannya di The Athletic. Ia menambahkan bahwa semakin jauh jarak dan waktu antara insiden dengan terciptanya gol, maka ambang batas pelanggaran yang dituduhkan seharusnya semakin serius agar bisa membatalkan skor.

Read Also

Peta Persaingan Memanas: 20 Tim Resmi Amankan Tiket Babak 32 Besar Piala Dunia 2026

Peta Persaingan Memanas: 20 Tim Resmi Amankan Tiket Babak 32 Besar Piala Dunia 2026

Kritik Terhadap Konsistensi Penerapan Teknologi VAR

Penggunaan teknologi VAR di edisi Piala Dunia kali ini memang kembali dipertanyakan konsistensinya. Scott menilai bahwa tim VAR terlalu masuk ke dalam detail-detail kecil yang justru merusak aliran permainan. Dalam kasus Mesir, ia melihat adanya kontak kaki atau sedikit tarikan baju, namun hal tersebut tidak mencapai level pelanggaran yang layak untuk ditinjau ulang (reviewed).

  • Kontak Fisik Normal: Benturan antara Attia dan Martinez dianggap sebagai bagian dari perebutan bola yang dinamis.
  • Prinsip ‘Clear and Obvious’: Tidak ada kesalahan fatal yang dilakukan wasit di lapangan sehingga VAR tidak perlu melakukan intervensi.
  • Waktu Peninjauan: Proses peninjauan yang memakan waktu lama seringkali membunuh momentum pertandingan yang sedang panas.

Ironi Penalti Mohamed Salah yang Diabaikan

Rasa ketidakadilan yang dirasakan skuad Mesir semakin menjadi-jadi ketika sebuah insiden terjadi di kotak penalti Argentina sesaat sebelum gol kemenangan tim Tango tercipta. Mohamed Salah tampak dijatuhkan, namun kali ini wasit dan VAR memilih untuk tetap pada keputusan awal mereka dan tidak memberikan penalti kepada Mesir.

Graham Scott memberikan pandangan yang menarik mengenai hal ini. Meskipun ia setuju bahwa kontak pada sepatu Salah tidak cukup kuat untuk membuat sang pemain terjatuh—sehingga keputusan tidak memberikan penalti adalah tepat—ia menyoroti inkonsistensi pendekatan wasit. Di satu sisi, kontak minimal di tengah lapangan dianulir untuk membatalkan gol, namun kontak di dalam kotak penalti justru dianggap angin lalu. Logika yang kontradiktif inilah yang membuat kubu Mesir merasa seolah-olah ada standar ganda dalam pertandingan tersebut.

Dampak Psikologis dan Hasil Akhir Pertandingan

Anulirnya gol kedua Mesir terbukti menjadi titik balik bagi mentalitas kedua tim. Mesir yang seharusnya unggul 2-0 dan berada di atas angin, justru harus menerima kenyataan skor tetap 1-0. Argentina, yang merupakan tim dengan pengalaman mental baja, memanfaatkan kebingungan dan kekecewaan para pemain Mesir untuk bangkit.

Pertandingan akhirnya ditutup dengan kemenangan tipis 3-2 untuk Argentina. Jika saja gol Ziko disahkan, jalannya pertandingan di Atlanta Stadium bisa dipastikan akan berubah total. Kekalahan ini terasa sangat menyakitkan bagi publik sepak bola Afrika, karena mereka merasa tim kebanggaan mereka tidak kalah secara taktik, melainkan karena keputusan administratif di layar monitor.

Masa Depan Wasit dan Teknologi dalam Sepak Bola

Kasus ini menambah daftar panjang polemik penggunaan teknologi dalam sepak bola modern. Meskipun tujuannya adalah untuk menciptakan keadilan, interpretasi manusia di balik layar tetap menjadi variabel yang paling menentukan. Graham Scott menegaskan bahwa otoritas sepak bola dunia harus memberikan pedoman yang lebih ketat tentang kapan VAR boleh masuk dan kapan mereka harus membiarkan keputusan wasit di lapangan tetap berdiri.

Kepulangan Mesir dari Piala Dunia 2026 ini akan selalu dikenang dengan bayang-bayang gol Mostafa Ziko. Bagi para pengamat, ini adalah pelajaran berharga bahwa secanggih apa pun teknologinya, integritas dan akal sehat dalam menilai sebuah insiden di lapangan hijau tetaplah yang utama. Sementara itu, Argentina melaju ke perempat final dengan catatan merah yang akan terus diperdebatkan oleh para pecinta bola di seluruh dunia.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *