Lentera Budaya yang Tak Pernah Padam: Menakar Ambisi Bupati Gresik Menjadikan Damar Kurung Ikon Wisata Global
WartaLog — Kabupaten Gresik selama ini mungkin lebih lekat dengan citra kepulauan industri yang sibuk atau julukan ‘Kota Santri’ yang kental dengan suasana agamis. Namun, di balik deru mesin pabrik dan lantunan doa di setiap sudut gangnya, daerah ini menyimpan permata budaya yang adiluhung. Salah satu yang paling bercahaya adalah Damar Kurung, sebuah karya seni yang bukan sekadar hiasan, melainkan narasi visual masyarakat pesisir yang kini telah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda Nasional.
Sabtu sore yang hangat di Jalan KH Kholil, Kelurahan Kebungson, menjadi saksi bisu langkah besar pelestarian budaya ini. Bupati Gresik, Fandi Akhmad Yani, secara resmi meresmikan Rumah Kreasi Damar Kurung sekaligus membuka pameran lukisan bertajuk ‘Damar Kurung Melintas Waktu’. Kehadiran ruang kreatif ini diharapkan menjadi oase sekaligus episentrum bagi generasi muda untuk kembali merajut identitas budaya mereka di tengah gempuran modernisasi.
Urgensi RUU Satu Data Indonesia: Strategi Eddy Soeparno Menambal Kebocoran Subsidi Energi
Menjaga Nyala Api Warisan Mbah Masmundari
Bagi masyarakat Gresik, Damar Kurung adalah identitas. Ia bukan sekadar lampion kayu berbalut kertas lukis. Bupati yang akrab disapa Gus Yani ini menegaskan bahwa di balik pendar cahayanya yang lembut, tersimpan rekaman kehidupan, tradisi, hingga nilai-nilai spiritualitas masyarakat muslim pesisir. Seni ini menjadi sangat ikonik berkat goresan tangan maestro legendaris, Almarhumah Mbah Masmundari.
“Melalui jemari lentik dan imajinasi jujur Mbah Masmundari, Damar Kurung telah berkelana jauh, memperkenalkan wajah Gresik ke panggung seni rupa dunia,” ujar Gus Yani dengan nada bangga. Melalui seni budaya ini, Gresik mampu berbicara banyak di level internasional, menunjukkan bahwa kesederhanaan visual bisa mengandung filosofi yang mendalam.
Misi Besar Prabowo Subianto: Menjamin Kesejahteraan Petani dan Nelayan Lewat Program Makan Bergizi Gratis
Peresmian Rumah Kreasi ini menjadi bukti nyata bahwa Pemerintah Kabupaten Gresik tidak ingin api kreativitas ini redup, apalagi padam. Tempat ini didedikasikan sebagai pusat pembelajaran dan wadah inkubasi kreatif. Tujuannya jelas: memastikan bahwa anak cucu di masa depan tidak hanya mengenal nama Damar Kurung dari buku teks sejarah yang kaku, tetapi mampu melukis, memaknai, dan menghidupkannya secara langsung.
Integrasi Pariwisata: Mengubah Seni Menjadi Kesejahteraan
Visi Bupati Yani tidak berhenti pada aspek konservasi semata. Ia memiliki ambisi agar Rumah Kreasi Damar Kurung ini terintegrasi secara kuat dengan sektor pariwisata Gresik. Dalam kacamata strategisnya, sebuah ruang kreatif harus mampu memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi para pelaku seni dan masyarakat lokal.
Tragedi Jalan Raya Ciledug: Grand Livina Maut Hantam Gerobak Nasi Goreng di Garut, Satu Korban Tewas
“Kita ingin menciptakan sebuah ekosistem. Ketika wisatawan datang ke Gresik, mereka tidak hanya melihat pabrik, tetapi mereka singgah ke sini, belajar melukis Damar Kurung, dan membawa pulang buah tangan yang sarat nilai sejarah,” tuturnya. Integrasi ini diproyeksikan akan menarik kunjungan wisatawan yang lebih luas, sehingga sektor kesenian bertransformasi menjadi nilai ekonomi yang berkelanjutan.
Langkah ini merupakan bagian dari pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya. Dengan adanya aliran wisatawan, para perajin dan seniman lokal akan memiliki pasar yang tetap, yang pada akhirnya akan meningkatkan taraf hidup mereka tanpa harus meninggalkan akar tradisi yang mereka cintai.
Melintas Waktu: Relevansi Tradisi di Era Digital
Tema pameran ‘Damar Kurung Melintas Waktu’ juga mencuri perhatian. Gus Yani mengapresiasi pemilihan diksi tersebut karena mengandung pesan filosofis yang kuat. Menurutnya, seni tradisional harus tetap relevan dengan perkembangan zaman agar tidak ditinggalkan oleh generasi milenial dan Gen Z.
“Damar Kurung harus mampu melintasi sekat-sekat generasi. Dari masa lalu di era Mbah Masmundari, masa kini di tangan perupa modern, hingga masa depan di era digital yang serba cepat ini,” jelasnya. Ia membayangkan bagaimana pola-pola khas Damar Kurung bisa diadaptasi ke dalam berbagai media baru, termasuk aset digital atau desain modern, tanpa kehilangan jiwanya.
Pameran ini menjadi bukti sahih bahwa Damar Kurung adalah seni yang hidup dan dinamis. Ia bukan fosil yang hanya dipajang di museum, melainkan inspirasi yang terus mengalir dan mampu beradaptasi dengan teknologi tanpa kehilangan identitas aslinya.
Kolaborasi Multi-Pihak demi Ekosistem Budaya
Keberhasilan peresmian ini tidak lepas dari kerja keras berbagai pihak. Ketua Panitia, Muhammad Anhar, mengungkapkan harapannya agar Rumah Kreasi ini menjadi tempat di mana anak muda bisa belajar secara gratis tanpa sekat birokrasi yang rumit. Ia ingin tempat ini menjadi ruang kolaborasi di mana para senior berbagi ilmu kepada yang muda.
Bupati Yani juga menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada dinas terkait, para seniman, budayawan, dan komunitas kreatif yang telah bahu-membahu mewujudkan tempat ini. “Kolaborasi adalah kunci. Kita butuh kebersamaan untuk membangun ekosistem kebudayaan yang maju dan berkelanjutan,” tambahnya.
Acara ini turut dihadiri oleh jajaran penting seperti Sekretaris Daerah (Sekda) Gresik, Achmad Washil Miftahul Rachman, Kepala Dinas Parekrafbudpora Saifuddin Ghozali, hingga budayawan senior Kris Adji. Tak ketinggalan, kehadiran keluarga besar almarhumah Mbah Masmundari menambah suasana haru sekaligus khidmat, seolah merestui estafet perjuangan menjaga lentera ini tetap menyala.
Menatap Masa Depan Kebudayaan Gresik
Dengan hadirnya Rumah Kreasi Damar Kurung, Kabupaten Gresik kini memiliki magnet baru dalam peta kebudayaan Jawa Timur. Ini bukan sekadar gedung, melainkan simbol perlawanan terhadap kepunahan tradisi. Bupati berharap tempat ini menjadi motor penggerak bagi inisiatif-inisiatif serupa di bidang seni lainnya.
Ke depan, tantangan bagi para seniman dan pemangku kebijakan adalah bagaimana menjaga konsistensi aktivitas di Rumah Kreasi ini. Bukan hanya soal seremoni pembukaan, tetapi soal bagaimana denyut nadi kreativitas terus berdetak setiap harinya, menghasilkan karya-karya baru, dan mencetak maestro-maestro baru yang akan meneruskan tongkat estafet dari Mbah Masmundari.
“Selamat menikmati pameran, mari kita jaga kekayaan budaya Gresik dengan hati. Semoga tempat ini membawa berkah bagi kita semua,” tutup Gus Yani mengakhiri sambutannya yang penuh inspirasi.