Terobosan Baru Mark Zuckerberg: Meta Siapkan Liontin AI dan Ekspansi Agresif Smart Glasses hingga 2026

Siska Amelia | WartaLog
01 Jun 2026, 09:19 WIB
Terobosan Baru Mark Zuckerberg: Meta Siapkan Liontin AI dan Ekspansi Agresif Smart Glasses hingga 2026

WartaLog — Di bawah kepemimpinan Mark Zuckerberg, Meta tampaknya tidak lagi puas hanya merajai layar ponsel kita. Raksasa teknologi yang berbasis di Menlo Park ini tengah merancang masa depan di mana kecerdasan buatan (AI) tidak lagi sekadar aplikasi di smartphone, melainkan asisten pribadi yang menempel langsung di tubuh pengguna. Laporan terbaru mengungkapkan bahwa Meta sedang menyiapkan perangkat berbentuk liontin AI (pendant) dan berencana merilis hingga empat model kacamata pintar baru sebelum akhir tahun 2026.

Visi Meta: Membawa AI Keluar dari Layar Ponsel

Strategi Meta untuk mengintegrasikan AI ke dalam kehidupan sehari-hari semakin nyata. Mengutip laporan dari The Information, perusahaan induk Facebook dan Instagram ini akan mulai menguji perangkat wearable berbentuk liontin dalam kurun waktu 12 bulan ke depan. Langkah ini dipandang sebagai upaya berani untuk menempatkan teknologi asisten digital lebih dekat dengan interaksi fisik manusia.

Read Also

OpenAI Gebrak Dunia Kreatif dengan ChatGPT Images 2.0: Solusi Mutakhir Masalah Teks yang Selama Ini Menjadi ‘Mimpi Buruk’ Gambar AI

OpenAI Gebrak Dunia Kreatif dengan ChatGPT Images 2.0: Solusi Mutakhir Masalah Teks yang Selama Ini Menjadi ‘Mimpi Buruk’ Gambar AI

Keputusan Meta untuk mengembangkan liontin AI ini dinilai sangat strategis, terutama setelah mereka resmi mengakuisisi Limitless pada tahun 2025. Bagi yang belum familiar, Limitless adalah pionir di balik perangkat AI bernama Pendant—sebuah mikrofon Bluetooth berbentuk klip yang mampu merekam percakapan serta suara di sekitar pengguna secara real-time. Perangkat ini tidak hanya merekam, tetapi juga mampu membuat transkrip otomatis, ringkasan rapat, hingga membangun basis data percakapan yang dapat dicari kembali oleh penggunanya.

CEO Limitless, Dan Siroker, sempat memberikan bocoran saat proses akuisisi berlangsung. Ia menyebut bahwa Meta memiliki visi besar untuk menghadirkan personal superintelligence bagi setiap orang. Dalam visi tersebut, teknologi wearable berbasis AI menjadi pilar utama yang akan menjembatani kesenjangan antara dunia digital dan realitas fisik.

Read Also

Apple Siap Tantang Meta: Bocoran 4 Desain Kacamata Pintar Berbasis AI yang Segera Meluncur

Apple Siap Tantang Meta: Bocoran 4 Desain Kacamata Pintar Berbasis AI yang Segera Meluncur

Ambisi Kacamata Pintar: Dari ‘Modelo’ hingga ‘Artemis’

Selain liontin pintar, Meta juga dikabarkan sedang tancap gas dalam pengembangan lini smart glasses atau kacamata pintar mereka. Tidak tanggung-tanggung, Meta berencana meluncurkan empat model baru hingga tahun 2026 untuk mendominasi pasar kacamata berbasis AI yang kian kompetitif.

Berdasarkan bocoran internal, salah satu model yang paling dinanti memiliki nama sandi “Modelo”. Perangkat ini diprediksi akan memulai debutnya paling cepat pada Juni tahun ini. Namun, kejutan tidak berhenti di situ. Meta juga telah menyiapkan jadwal rilis untuk model bernama “Luna” dan sebuah pembaruan yang dinamakan “RBM2 Refresh” pada musim gugur mendatang. Banyak analis industri meyakini bahwa “RBM2 Refresh” adalah iterasi terbaru dari kolaborasi sukses antara Ray-Ban dan Meta.

Read Also

Friendster Kembali Bangkit: Revolusi Media Sosial Tanpa Algoritma Seharga Setengah Miliar Rupiah

Friendster Kembali Bangkit: Revolusi Media Sosial Tanpa Algoritma Seharga Setengah Miliar Rupiah

Memasuki akhir tahun, tepatnya pada Desember, Meta dilaporkan akan merilis model lain dengan kode “Mojito VIP”. Di balik layar, divisi Reality Labs juga tengah menguji beberapa perangkat eksperimental masa depan dengan nama sandi seperti “Artemis” dan “SSG” (Supersensing Glasses). Pengembangan masif ini menunjukkan bahwa Meta siap menanggung kerugian besar di divisi hardware demi mengamankan posisi sebagai pemimpin pasar di era pasca-smartphone.

Ekosistem Baru: Agen AI ‘Hatch’ dan Layanan Bisnis

Untuk memastikan perangkat keras tersebut tidak sekadar menjadi aksesori, Meta juga menyiapkan dukungan perangkat lunak yang mumpuni. Kabarnya, perusahaan sedang mengembangkan agen AI khusus konsumen yang diberi nama “Hatch”. Meskipun detail fungsinya masih dirahasiakan, Hatch diprediksi akan menjadi otak utama yang mengoperasikan semua perangkat wearable Meta.

Selain untuk pengguna kasual, Meta juga melirik pasar korporasi melalui layanan bernama “Wearables for Work”. Program ini dirancang bagi pelanggan bisnis yang ingin memanfaatkan efisiensi AI dalam lingkungan kerja profesional. Dalam sebuah memo internal, Alex Himel selaku VP Wearables Meta, menekankan pentingnya mendorong pengguna untuk tidak hanya memakai perangkatnya, tetapi juga beralih ke model layanan berlangganan.

Meta One: Revolusi Paket Berlangganan di Facebook dan Instagram

Seiring dengan pengembangan hardware, Meta juga melakukan transformasi besar pada model bisnis aplikasi mereka. Strategi iklan yang selama ini menjadi tulang punggung perusahaan mulai didampingi oleh model langganan premium melalui ekosistem yang disebut Meta One.

Kini, pengguna di Amerika Serikat sudah bisa mencicipi versi “Plus” dari tiga platform utama: WhatsApp, Instagram, dan Facebook. Berikut adalah rincian biaya langganan bulanan yang ditawarkan:

  • Instagram Plus: USD 3,99 (sekitar Rp 65.000)
  • Facebook Plus: USD 3,99 (sekitar Rp 65.000)
  • WhatsApp Plus: USD 2,99 (sekitar Rp 49.000)

Bagi mereka yang bersedia merogoh kocek, Meta menawarkan berbagai fitur eksklusif. Di Instagram Plus, misalnya, pelanggan akan mendapatkan akses ke Statistics Stories yang lebih detail, memungkinkan mereka melihat siapa saja yang menonton ulang (rewatch) konten mereka. Ada juga fitur Stealth View, Super Heart, hingga Multi-audience Stories yang memberikan kontrol lebih besar atas privasi dan interaksi.

Sementara itu, WhatsApp Plus lebih fokus pada aspek personalisasi. Pengguna berbayar dapat menikmati tema aplikasi yang unik, nada dering eksklusif, stiker tambahan, hingga kemampuan untuk menyematkan (pin) lebih banyak percakapan di daftar chat mereka.

Tantangan Privasi dan Masa Depan Industri Sosial Media

Langkah berani Meta ini bukannya tanpa risiko. Penggunaan perangkat seperti liontin AI yang mampu merekam suara sepanjang hari dipastikan akan memicu perdebatan sengit mengenai masalah privasi dan keamanan data. Bagaimana Meta mengelola data suara sensitif dan memastikan kenyamanan orang-orang di sekitar pengguna wearable tersebut akan menjadi ujian besar bagi reputasi perusahaan.

Di sisi lain, pergeseran menuju model langganan menunjukkan tren global di mana platform media sosial tidak lagi bisa hanya mengandalkan pendapatan dari iklan. Mengikuti jejak X (Twitter), Snapchat, dan YouTube, Meta mencoba mendiversifikasi pemasukannya. Pertanyaan besarnya adalah: apakah pengguna setia mereka bersedia membayar untuk fitur yang sebelumnya dianggap gratis, atau justru ini akan memicu eksodus pengguna ke platform alternatif?

Dengan mengombinasikan keunggulan hardware berupa liontin AI dan kacamata pintar dengan ekosistem software Meta One, Mark Zuckerberg sedang mempertaruhkan masa depan perusahaannya. Jika berhasil, Meta tidak hanya akan menjadi perusahaan media sosial, tetapi menjadi penyedia infrastruktur kecerdasan buatan utama dalam kehidupan manusia sehari-hari.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *