Mencekam, Banjir Bandang Terjang Aceh Tenggara: 26 Rumah Rusak dan Jalur Kutacane-Medan Sempat Lumpuh Total

Akbar Silohon | WartaLog
11 Mei 2026, 05:18 WIB
Mencekam, Banjir Bandang Terjang Aceh Tenggara: 26 Rumah Rusak dan Jalur Kutacane-Medan Sempat Lumpuh Total

WartaLog — Alam kembali menunjukkan kekuatannya di penghujung pekan di wilayah Serambi Mekkah. Suasana malam yang seharusnya tenang di Kabupaten Aceh Tenggara mendadak berubah menjadi kepanikan luar biasa ketika air bah datang tanpa permisi. Terjangan banjir bandang yang membawa material padat dilaporkan menghantam pemukiman warga, meninggalkan jejak kerusakan yang cukup signifikan di beberapa desa di Kecamatan Lawe Sigala-gala.

Peristiwa memilukan ini terjadi pada Sabtu (9/5) malam, sekitar pukul 22.00 WIB. Saat sebagian besar warga mulai beristirahat, suara gemuruh dari arah sungai mulai terdengar mengancam. Intensitas hujan yang sangat tinggi sejak sore hari menjadi pemicu utama meluapnya debit air sungai yang melintasi kawasan tersebut. Banjir bandang ini tidak hanya membawa air, tetapi juga mengangkut material bebatuan besar serta kayu gelondongan yang hanyut dari arah hulu.

Read Also

Ketegangan Diplomatik Memuncak: Ancaman Trump Tarik Pasukan Paksa Jerman Bersikap Keras Terhadap Iran

Ketegangan Diplomatik Memuncak: Ancaman Trump Tarik Pasukan Paksa Jerman Bersikap Keras Terhadap Iran

Malam Mencekam di Lawe Sigala-gala

Dua desa yang terdampak paling parah dalam musibah ini adalah Desa Lawe Tua Gabungan dan Desa Lawe Tua Makmur. Menurut laporan yang dihimpun tim WartaLog di lapangan, banjir datang dengan sangat cepat. Debit air sungai yang meningkat drastis mengakibatkan terjadinya penyumbatan di kolong jembatan akibat tumpukan kayu-kayu besar dan batuan gunung.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), Bahron Bakti, menjelaskan bahwa penyumbatan ini menjadi faktor kunci meluasnya dampak banjir. Karena jalur air tertutup material, air yang bercampur lumpur pekat mencari jalan lain dan akhirnya meluap ke pemukiman penduduk serta menutupi badan jalan nasional. Suasana gelap gulita akibat listrik yang sempat padam menambah mencekamnya evakuasi mandiri yang dilakukan warga setempat.

Read Also

Evaluasi Makan Bergizi Gratis: Eddy Soeparno Sebut Langkah Prabowo Sebagai Terobosan Realistis dan Berkeadilan

Evaluasi Makan Bergizi Gratis: Eddy Soeparno Sebut Langkah Prabowo Sebagai Terobosan Realistis dan Berkeadilan

“Debit air sungai meningkat hingga membawa material berupa bebatuan, dan kayu gelondongan yang menyumbat jembatan,” ujar Bahron Bakti saat memberikan keterangan resmi mengenai bencana yang melanda Aceh Tenggara tersebut. Dampaknya, akses transportasi darat yang menghubungkan Kutacane dengan Medan pun mengalami kelumpuhan total selama beberapa jam.

Rincian Kerusakan: Puluhan Rumah Terdampak

Berdasarkan data terbaru yang diverifikasi oleh petugas di lapangan, kerusakan bangunan akibat hantaman material banjir bandang ini cukup masif. Sebanyak 26 rumah warga dilaporkan mengalami kerusakan dengan tingkat yang bervariasi. Hantaman kayu gelondongan dan endapan lumpur yang mencapai ketebalan tertentu membuat bangunan rumah warga tak berdaya menghadapi tekanan alam.

Berikut adalah rincian tingkat kerusakan rumah yang tercatat:

Read Also

Skandal Pungutan THR di Cilacap: KPK Cecar 10 Pejabat Teras Pemkab

Skandal Pungutan THR di Cilacap: KPK Cecar 10 Pejabat Teras Pemkab
  • Rusak Berat: Sebanyak 4 unit rumah mengalami kerusakan struktural yang sangat parah, sehingga tidak mungkin lagi untuk dihuni dalam waktu dekat.
  • Rusak Sedang: Tercatat ada 15 unit rumah yang bagian dinding atau atapnya jebol dihantam material banjir.
  • Rusak Ringan: Sebanyak 7 unit rumah terdampak luapan lumpur dan sisa-sisa material kecil, namun secara struktur masih cukup kokoh.

Total warga yang terdampak langsung secara ekonomi dan tempat tinggal mencapai 155 jiwa. Meskipun kerugian materiil ditaksir mencapai angka yang cukup besar, ada satu hal yang patut disyukuri di tengah musibah ini: tidak ada laporan mengenai korban jiwa. Kecepatan warga dalam membaca tanda-tanda alam dan melakukan evakuasi dini menjadi faktor penting dalam mencegah jatuhnya korban dalam tragedi bencana alam ini.

Lumpuhnya Jalur Transportasi Nasional Kutacane-Medan

Efek dari banjir bandang ini tidak hanya dirasakan oleh penduduk desa, tetapi juga para pengguna jalan. Jalur nasional yang menghubungkan Kutacane di Aceh Tenggara dengan Medan di Sumatera Utara sempat tidak bisa dilalui sama sekali. Kayu gelondongan berukuran besar dan tumpukan lumpur setinggi lutut orang dewasa menutupi aspal, menciptakan hambatan yang mustahil ditembus kendaraan roda dua maupun roda empat.

Antrean kendaraan logistik dan kendaraan pribadi sempat mengular panjang hingga Minggu pagi. Jalur ini merupakan urat nadi distribusi kebutuhan pokok bagi masyarakat di wilayah pegunungan Aceh, sehingga kelumpuhannya menjadi perhatian serius bagi pemerintah setempat. Langkah darurat segera diambil untuk memulihkan konektivitas antarprovinsi ini.

Upaya Pemulihan dan Pengerahan Alat Berat

Pasca kejadian, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tenggara segera bergerak cepat. Satu unit alat berat jenis ekskavator dikerahkan ke lokasi penyumbatan jembatan untuk menyingkirkan kayu-kayu gelondongan dan bebatuan yang menghambat aliran sungai. Petugas bersama warga juga bahu-membahu membersihkan sisa lumpur yang masuk ke dalam rumah dan fasilitas umum.

“Air sudah mulai surut sejak pagi tadi. Tim BPBD terus bersiaga di lokasi untuk melakukan pembersihan total dengan bantuan alat berat. Prioritas utama kami adalah memastikan akses jalan nasional kembali normal dan warga yang terdampak mendapatkan bantuan logistik darurat,” tambah Bahron.

Upaya mitigasi bencana di masa depan kini menjadi pembicaraan hangat di kalangan masyarakat. Mengingat Aceh Tenggara merupakan daerah yang secara geografis dikelilingi oleh perbukitan dan sungai, penguatan struktur jembatan dan normalisasi aliran sungai menjadi agenda yang mendesak untuk dilakukan guna mencegah kejadian serupa terulang kembali saat curah hujan ekstrem melanda.

Kondisi Terkini dan Imbauan untuk Warga

Hingga berita ini diturunkan, kondisi di Desa Lawe Tua Gabungan dan Desa Lawe Tua Makmur sudah berangsur kondusif. Warga mulai kembali ke rumah masing-masing untuk menyelamatkan harta benda yang masih tersisa dari timbunan lumpur. Namun, kewaspadaan tetap harus dijaga mengingat prakiraan cuaca menunjukkan potensi hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi masih mungkin terjadi dalam beberapa hari ke depan.

Pihak berwenang mengimbau kepada seluruh masyarakat yang tinggal di sepanjang bantaran sungai untuk tetap waspada, terutama saat hujan deras turun dalam durasi yang lama. Kepekaan terhadap tanda-tanda alam, seperti perubahan warna air sungai menjadi keruh atau suara gemuruh dari hulu, diharapkan dapat meminimalkan dampak jika banjir susulan terjadi. WartaLog akan terus memantau perkembangan proses pemulihan pascabencana di Aceh Tenggara untuk memastikan bantuan tersalurkan dengan tepat sasaran bagi para penyintas.

Akbar Silohon

Akbar Silohon

Hi, saya senang berbagi berita terupdate.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *