Kontroversi Penalti Ben White: Jamie Carragher Kecam Wasit dan Beri Peringatan Keras Jelang Final Liga Champions

Sutrisno | WartaLog
01 Mei 2026, 19:19 WIB
Kontroversi Penalti Ben White: Jamie Carragher Kecam Wasit dan Beri Peringatan Keras Jelang Final Liga Champions

WartaLog — Panggung megah Liga Champions kembali menyisakan cerita di luar lapangan hijau yang memicu perdebatan sengit di kalangan pengamat sepak bola. Legenda Liverpool yang kini aktif sebagai pundit, Jamie Carragher, tidak mampu menyembunyikan kekesalannya menyusul keputusan wasit yang memberikan penalti kontroversial saat laga semifinal antara Arsenal melawan Atletico Madrid. Carragher menilai, keputusan tersebut merupakan sebuah “kekonyolan” yang tidak seharusnya terjadi di level kompetisi tertinggi Eropa.

Pertarungan sengit yang berlangsung di Stadion Metropolitano pada Kamis dini hari WIB itu sebenarnya berjalan sangat kompetitif. Arsenal yang bertindak sebagai tim tamu sempat menunjukkan dominasi mereka di awal laga. Tim asuhan Mikel Arteta ini berhasil unggul lebih dulu lewat eksekusi penalti klinis dari bomber mereka, Viktor Gyokeres, yang membungkam publik tuan rumah pada babak pertama. Namun, suasana berubah drastis di babak kedua ketika sebuah insiden di kotak terlarang mengubah arah pertandingan.

Read Also

Analisis Klasemen Liga Inggris: Mengapa Manchester City Menggusur Arsenal Meski Poin dan Selisih Gol Identik?

Analisis Klasemen Liga Inggris: Mengapa Manchester City Menggusur Arsenal Meski Poin dan Selisih Gol Identik?

Kronologi Insiden Handball Ben White

Kejadian yang memicu amarah Carragher bermula saat bek Arsenal, Ben White, mencoba memblokir tembakan keras yang dilepaskan oleh gelandang Atletico, Marco Llorente. Dalam tayangan ulang, terlihat jelas bola mengenai kaki White terlebih dahulu sebelum akhirnya memantul dan menyentuh lengannya. Pada awalnya, wasit utama Danny Makkelie tidak melihat hal tersebut sebagai pelanggaran dan membiarkan laga terus berjalan.

Namun, drama dimulai ketika ruang VAR memberikan sinyal kepada Makkelie untuk melakukan pengecekan ulang di pinggir lapangan. Setelah mengamati monitor selama beberapa saat, wasit asal Belanda tersebut secara mengejutkan menunjuk titik putih. Keputusan ini disambut protes keras oleh para pemain Arsenal yang merasa bola pantulan (deflection) dari anggota tubuh sendiri ke tangan tidak seharusnya dianggap sebagai handball aktif.

Read Also

Veda Ega Menggila di Jerez: Aksi Comeback Sensasional dan Update Klasemen Moto3 2026

Veda Ega Menggila di Jerez: Aksi Comeback Sensasional dan Update Klasemen Moto3 2026

Julian Alvarez yang maju sebagai eksekutor tidak menyia-nyiakan peluang tersebut. Dengan tenang, penyerang asal Argentina itu menaklukkan kiper Arsenal dan mengubah skor menjadi 1-1. Skor imbang ini bertahan hingga peluit panjang dibunyikan, memberikan sedikit keuntungan bagi Atletico namun meninggalkan rasa pahit bagi kubu Meriam London.

Kecaman Pedas Jamie Carragher

Berbicara dalam sesi analisis di CBS Sports, Jamie Carragher meluapkan emosinya. Baginya, keputusan wasit tersebut sangat jauh dari akal sehat sepak bola. Ia menyoroti bagaimana seorang pemain tidak mungkin bisa menghindari kontak dengan tangan jika bola tersebut memantul dari kakinya sendiri dalam jarak yang sangat dekat.

“Apa yang seharusnya dia (Ben White) lakukan? Ini benar-benar membuat saya kesal!” ujar Carragher dengan nada tinggi. Ia menegaskan bahwa aturan handball saat ini seolah-olah telah kehilangan esensinya dan justru menghukum pemain atas refleks yang tidak bisa mereka kendalikan.

Read Also

Menggila di Gresik, Timnas Indonesia U-17 Lumat Timor Leste 4-0 di Pembuka Piala AFF

Menggila di Gresik, Timnas Indonesia U-17 Lumat Timor Leste 4-0 di Pembuka Piala AFF

“Saya tidak bisa menerima ini. Ini tidak benar, ini sangat tidak adil. Saya rasa penerapan aturan ini sudah melampaui batas kewajaran. Begitu saya melihat wasit dipanggil ke VAR, saya sudah tahu itu akan menjadi penalti karena begitulah cara aneh Liga Champions melakukannya belakangan ini. Namun, bukan berarti itu benar secara moral permainan,” tambah Carragher.

Wanti-wanti untuk Final di Budapest

Kekhawatiran terbesar Carragher bukan hanya soal hasil imbang yang diraih Arsenal, melainkan integritas partai puncak Liga Champions yang akan digelar di Budapest mendatang. Ia tidak bisa membayangkan jika trofi paling bergengsi di dunia sepak bola klub tersebut harus ditentukan oleh keputusan wasit yang dinilainya konyol dan teknis semata.

“Bayangkan jika di final nanti, salah satu tim menang hanya karena insiden handball yang konyol seperti ini. Itu akan mencoreng nama besar Liga Champions. Penonton ingin melihat pertandingan ditentukan oleh taktik, skill, dan gol-gol indah, bukan oleh interpretasi wasit yang kaku terhadap bola yang memantul tidak sengaja ke lengan pemain,” tegasnya.

Carragher mendesak otoritas wasit UEFA untuk menggunakan sedikit ‘akal sehat’ dalam memimpin pertandingan besar. Menurutnya, jika bola mengenai bagian tubuh lain seperti kaki atau kepala sebelum mengenai tangan, maka secara otomatis itu bukanlah pelanggaran. Standar ini menurutnya harus ditegakkan agar kualitas permainan tetap terjaga tanpa gangguan keputusan-keputusan non-teknis yang merugikan.

Implikasi Bagi Arsenal dan Atletico Madrid

Meski diwarnai kontroversi, hasil imbang 1-1 ini membuat leg kedua di Emirates Stadium diprediksi akan berjalan jauh lebih panas. Atletico Madrid yang dikenal dengan pertahanan grendelnya tentu akan berusaha sekuat tenaga mencuri gol di London, sementara Arsenal harus tetap fokus meski merasa dirampok di Metropolitano.

Di sisi lain, Ben White sendiri sempat terlibat ketegangan dengan pelatih Atletico, Diego Simeone. Kabarnya, kemarahan Simeone dipicu oleh aksi White yang sempat tidak sengaja menginjak logo klub Atletico Madrid di pinggir lapangan, sebuah tindakan yang dianggap sangat tidak sopan dalam tradisi Los Colchoneros. Insiden-insiden sampingan seperti ini semakin menambah bumbu persaingan antara kedua tim.

Mantan rekan setim Carragher yang juga legenda Arsenal, Thierry Henry, turut memberikan komentarnya. Henry mencoba mendinginkan suasana dengan mengingatkan bahwa perjalanan Arsenal di kompetisi ini masih sangat luar biasa. “Jangan lupa, Arsenal belum terkalahkan di Liga Champions musim ini. Mereka punya karakter untuk bangkit dari ketidakadilan ini di kandang sendiri,” ucap Henry singkat.

Harapan untuk Kualitas Perwasitan

Dunia sepak bola kini menanti bagaimana tanggapan UEFA terkait kritik keras dari para pengamat seperti Carragher. Apakah akan ada evaluasi terhadap protokol VAR untuk situasi handball serupa, ataukah drama-drama seperti ini akan terus berlanjut hingga ke partai final?

Bagi para penggemar, konsistensi adalah kunci. Kasus Ben White ini menjadi pengingat bahwa teknologi VAR sejatinya diciptakan untuk meminimalisir kesalahan, bukan justru menciptakan kontroversi baru yang mengaburkan keindahan permainan itu sendiri. Final di Budapest diharapkan menjadi ajang pembuktian bahwa sepak bola masih dipimpin oleh semangat sportivitas dan akal sehat, jauh dari keputusan-keputusan yang disebut Carragher sebagai ‘kekonyolan’.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *