Strategi Jitu Hadapi Gejolak IHSG: Bos BRI Sarankan Fokus pada Saham Blue Chip dan Dividen Gemuk

Citra Lestari | WartaLog
30 Apr 2026, 11:20 WIB
Strategi Jitu Hadapi Gejolak IHSG: Bos BRI Sarankan Fokus pada Saham Blue Chip dan Dividen Gemuk

WartaLog — Dinamika pasar modal Indonesia kembali diuji oleh volatilitas yang cukup tajam. Dalam beberapa sesi perdagangan terakhir, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tampak kehilangan tenaganya, merosot ke zona merah yang cukup dalam. Fenomena ini seringkali memicu kepanikan, terutama bagi para investor pemula yang kerap terjebak dalam fluktuasi jangka pendek. Namun, di tengah awan mendung yang menyelimuti lantai bursa, sebuah perspektif menarik datang dari salah satu petinggi perbankan terbesar di tanah air.

Hery Gunardi, Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), berbagi pandangan strategis bagi para pelaku pasar. Baginya, koreksi pasar bukanlah sebuah sinyal untuk lari menjauh, melainkan momentum untuk meninjau kembali arah dan tujuan investasi. Penurunan indeks yang menyentuh angka 1,72% hingga berada di level 6.976,84, menurutnya, hanyalah riak kecil dalam perjalanan panjang seorang investor yang memiliki orientasi masa depan yang jelas.

Read Also

Solusi Krisis Plastik: Bapanas Izinkan Bulog Gunakan Kemasan Lama demi Kelancaran Distribusi Beras SPHP

Solusi Krisis Plastik: Bapanas Izinkan Bulog Gunakan Kemasan Lama demi Kelancaran Distribusi Beras SPHP

Sektor Finansial di Tengah Tekanan Pasar

Pelemahan IHSG kali ini memang tak lepas dari peran sektor finansial yang menjadi salah satu penyumbang koreksi terbesar. Sebagai tulang punggung ekonomi nasional, sektor perbankan seringkali menjadi yang pertama terdampak ketika terjadi aksi jual masif oleh investor asing maupun domestik. Saham BBRI sendiri, yang dikenal sebagai salah satu saham favorit para manajer investasi, tak luput dari tekanan dengan koreksi sebesar 1,63% ke level Rp 3.020 per lembar saham.

Meski angka-angka tersebut terlihat mencemaskan bagi mereka yang melihat layar monitor setiap menit, Hery Gunardi mengingatkan bahwa investasi saham seharusnya tidak menjadi beban mental yang berlebihan. Menurutnya, memilih aset dengan fundamental yang kokoh adalah kunci agar investor tetap bisa tidur nyenyak di tengah badai pasar. Fokus pada saham-saham kategori blue chip atau saham papan atas adalah resep utama yang ia tawarkan.

Read Also

Update Harga Emas Antam Hari Ini: Terkoreksi Tipis Setelah Lonjakan Signifikan, Simak Rincian Lengkapnya

Update Harga Emas Antam Hari Ini: Terkoreksi Tipis Setelah Lonjakan Signifikan, Simak Rincian Lengkapnya

Filosofi Investasi Anti-Stres ala Hery Gunardi

Salah satu poin menarik yang ditekankan oleh Hery adalah mengenai psikologi investasi. Ia menuturkan bahwa melihat pergerakan harga saham yang naik-turun secara terus-menerus hanya akan meningkatkan tekanan darah dan tingkat stres. Hal ini tentu kontraproduktif dengan tujuan awal berinvestasi, yaitu membangun kemakmuran secara tenang dan berkelanjutan.

“Belilah saham-saham yang blue chip, yang fundamentalnya bagus seperti BBRI. Maksudnya apa? Anda tidak perlu terlalu sering melihat layar, karena kita adalah investor jangka menengah dan jangka panjang. Kita tidak usah pusing melihat harga naik turun, karena itu bisa bikin stres naik. Investasi itu harus sesuai dengan objektif kita,” papar Hery dalam sebuah konferensi pers virtual beberapa waktu lalu.

Read Also

Ketegangan Memuncak di Samudra: Militer AS Blokade Tanker Minyak Iran di Perairan Asia

Ketegangan Memuncak di Samudra: Militer AS Blokade Tanker Minyak Iran di Perairan Asia

Ia menambahkan bahwa perbedaan mendasar antara spekulan dan investor terletak pada daya tahan dan cara pandang. Seorang investor sejati akan lebih mementingkan kesehatan perusahaan dan prospek bisnis jangka panjang daripada sekadar sentimen pasar harian yang bersifat sementara.

Kekuatan Dividen sebagai Bantalan Investasi

Selain mengandalkan pertumbuhan nilai perusahaan atau capital gain, Hery menyoroti pentingnya dividen sebagai sumber pendapatan pasif yang konsisten. Di tengah koreksi harga saham yang mungkin terlihat mengkhawatirkan, saham-saham blue chip biasanya memiliki kebijakan dividen yang sangat bersahabat dengan pemegang saham.

Hery mencontohkan kinerja BBRI yang tetap solid meski harga sahamnya sempat mengalami tekanan hingga lebih dari 17% di sepanjang tahun 2026. Menurutnya, rasio dividen yang dibagikan tetap mampu memberikan imbal hasil yang jauh lebih menarik dibandingkan dengan instrumen investasi konvensional lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas sebuah saham tidak hanya diukur dari harga pasarnya saat ini, melainkan dari kemampuannya mendistribusikan keuntungan kepada investor.

  • Dividen Yield Tinggi: Saham blue chip seperti BBRI mampu memberikan imbal hasil dividen (return) di kisaran 10% hingga 11% per tahun.
  • Perbandingan dengan Deposito: Saat ini, bunga deposito perbankan umumnya hanya berkisar di angka 7%, jauh di bawah potensi dividen saham perbankan besar.
  • Reksadana Pasar Uang: Instrumen ini biasanya hanya menawarkan imbal hasil sekitar 5,5% hingga 6%, yang meski stabil, namun secara jangka panjang kalah kompetitif dibanding saham dividen.

Dengan data tersebut, Hery bertanya secara retoris tentang di mana lagi investor bisa menemukan instrumen dengan imbal hasil sebesar itu jika bukan di pasar modal dengan pemilihan aset yang tepat. Dividen inilah yang bertindak sebagai jaring pengaman bagi investor saat harga saham sedang mengalami tren penurunan.

Menatap Masa Depan dan Pemulihan Ekonomi Makro

Optimisme Hery Gunardi bukan tanpa alasan. Ia meyakini bahwa saham dengan fundamental yang kuat akan selalu menemukan jalan untuk kembali bangkit (rebound) seiring dengan membaiknya kondisi ekonomi makro. Ketika minat investor global kembali masuk ke pasar negara berkembang (emerging markets), saham-saham kategori blue chip akan menjadi incaran utama karena dianggap paling aman dan memiliki likuiditas tinggi.

Faktor-faktor seperti kebijakan suku bunga global, stabilitas politik dalam negeri, dan pertumbuhan konsumsi masyarakat menjadi katalis penting yang akan mendongkrak kinerja emiten perbankan. Sebagai bank yang memiliki spesialisasi di sektor UMKM, BRI memiliki pijakan yang kuat untuk terus tumbuh seiring dengan geliat ekonomi di tingkat akar rumput. Hal inilah yang mendasari keyakinan bahwa tekanan harga saat ini hanyalah fenomena sesaat.

Tips Bagi Investor dalam Menghadapi Ketidakpastian

Menutup wejangannya, Hery kembali memberikan penekanan bahwa pemilihan instrumen investasi harus dilakukan dengan sangat hati-hati dan berdasarkan analisis yang matang. Berikut adalah rangkuman tips dari beliau untuk para investor yang ingin bertahan dan menang di pasar saham:

  1. Kenali Profil Risiko: Jangan memaksakan diri masuk ke saham gorengan yang volatilitasnya liar jika tidak siap kehilangan modal.
  2. Pilih Saham Berfundamental Kuat: Pastikan perusahaan memiliki rekam jejak laba yang konsisten dan tata kelola (good corporate governance) yang baik.
  3. Fokus pada Dividen: Carilah perusahaan yang rutin membagikan dividen sebagai bentuk apresiasi kepada pemegang saham.
  4. Disiplin Investasi: Gunakan strategi dollar cost averaging atau mencicil pembelian saat harga sedang terkoreksi untuk mendapatkan harga rata-rata yang lebih murah.

Dunia bisnis dan keuangan memang penuh dengan ketidakpastian, namun dengan memegang teguh prinsip investasi pada aset berkualitas, risiko tersebut dapat diminimalisir secara signifikan. “Kalau mau berinvestasi jangan lupa, pilih yang blue chip, jangan pilih saham yang spekulatif dan tidak jelas fundamentalnya,” pungkas Hery dengan penuh keyakinan.

Kini bola ada di tangan para investor. Apakah akan terbawa arus kepanikan atau justru memanfaatkan momen koreksi ini sebagai peluang emas untuk memperkuat portofolio mereka dengan aset-aset kelas dunia yang sedang ‘didiskon’ oleh pasar.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *