Analisis Komite Wasit PSSI: Mengapa Dua Gol Kontroversial Dewa United ke Gawang Persib Bandung Dinyatakan Sah?

Sutrisno | WartaLog
23 Apr 2026, 23:21 WIB
Analisis Komite Wasit PSSI: Mengapa Dua Gol Kontroversial Dewa United ke Gawang Persib Bandung Dinyatakan Sah?

WartaLog — Gelombang diskusi panas yang menyelimuti laga sengit antara Dewa United melawan Persib Bandung akhirnya menemui titik terang. Komite Wasit PSSI secara resmi memberikan pernyataan terkait dua gol kontroversial yang dicetak oleh tim berjuluk Tangsel Warriors tersebut. Berdasarkan tinjauan mendalam melalui kacamata Laws of the Game (LOTG), otoritas tertinggi perwasitan nasional tersebut menegaskan bahwa keputusan wasit di lapangan sudah tepat dan kedua gol tersebut dinyatakan sah secara regulasi.

Pertandingan pekan ke-28 Super League 2025/26 yang dihelat di Banten International Stadium (BIS) pada Senin (20/4/2026) lalu memang menyajikan drama yang luar biasa. Skor imbang 2-2 menjadi hasil akhir setelah Dewa United sempat memimpin melalui aksi Alex Martins dan Ricky Kambuaya, sebelum akhirnya disamakan oleh duo legiun asing Persib Bandung, Thom Haye dan Andrew Jung. Namun, pasca-laga, sorotan justru tertuju pada proses terjadinya gol Dewa United yang dianggap oleh sebagian pihak diawali oleh pelanggaran dan bola yang telah meninggalkan lapangan.

Read Also

Hasil FP3 Moto3 Prancis 2026: Dominasi Alvaro Carpe di Le Mans dan Perjuangan Gigih Veda Ega Pratama

Hasil FP3 Moto3 Prancis 2026: Dominasi Alvaro Carpe di Le Mans dan Perjuangan Gigih Veda Ega Pratama

Drama di Garis Lapangan: Misteri Bola Keluar

Gol pertama Dewa United menjadi pemicu protes pertama dari kubu Maung Bandung. Dalam tayangan ulang, bola terlihat sangat tipis berada di garis lapangan sebelum proses gol terjadi. Banyak pihak menilai si kulit bundar telah sepenuhnya melewati garis batas. Namun, Ketua Komite Wasit PSSI, Yoshimi Ogawa, dalam agenda Referee Workshop for Media di Sekretariat PSSI Pers, Jakarta, memberikan penjelasan teknis yang sangat mendalam terkait situasi ini.

Ogawa menekankan bahwa dalam sepak bola modern yang belum didukung penuh oleh teknologi garis gawang (goal-line technology) di kompetisi domestik, keputusan mutlak berada di tangan wasit dan asisten wasit berdasarkan apa yang mereka lihat secara langsung. “Dalam situasi tersebut, asisten wasit tidak mengangkat bendera sebagai sinyal bola keluar. Dari sudut pandang wasit utama, sangat sulit—bahkan mustahil—untuk memastikan apakah seluruh bagian bola sudah melewati garis atau belum,” ujar Ogawa menjelaskan dinamika di lapangan hijau.

Read Also

Lampu Hijau dari Senayan: PSSI Pastikan El Clasico Persija Jakarta vs Persib Bandung Digelar di SUGBK

Lampu Hijau dari Senayan: PSSI Pastikan El Clasico Persija Jakarta vs Persib Bandung Digelar di SUGBK

Lebih lanjut, pria asal Jepang ini memaparkan kendala fisik yang dihadapi perangkat pertandingan. Saat kejadian, posisi asisten wasit berada cukup jauh, yakni sekitar 50 hingga 55 meter dari posisi bola. Pandangannya pun terhalang oleh tiang gawang dan pergerakan pemain. Prinsip utama yang ditekankan kepada para pengadil adalah: jika tidak yakin 100 persen, maka permainan harus terus dilanjutkan (play on). Mengambil keputusan drastis tanpa keyakinan penuh justru dianggap sebagai kesalahan fatal dalam prosedur perwasitan.

Membedah Pasal 12: Mengapa Handball Alex Martins Tidak Pelanggaran?

Tak berhenti di situ, gol kedua Dewa United yang melibatkan Alex Martins juga menjadi bahan perdebatan panjang. Bola terlihat mengenai tangan pemain asal Brasil tersebut sebelum ia menceploskan bola ke gawang. Publik pun mempertanyakan mengapa wasit dan VAR (jika tersedia/digunakan) tidak menganulir gol tersebut karena indikasi handball.

Read Also

Efektivitas Maut Juventus: Tundukkan Gempuran Atalanta Lewat Gol Tunggal Jeremie Boga

Efektivitas Maut Juventus: Tundukkan Gempuran Atalanta Lewat Gol Tunggal Jeremie Boga

Kepala Departemen Wasit PSSI, Pratap Singh, memberikan pembelaan berbasis regulasi FIFA. Ia menjelaskan konsep ‘defleksi’ yang menjadi kunci dalam kasus ini. Berdasarkan Pasal 12 Laws of the Game mengenai pelanggaran dan kelakuan buruk, tidak semua sentuhan tangan dianggap sebagai pelanggaran, terutama jika bola datang dari arah yang tidak terduga setelah mengenai bagian tubuh lain dari si pemain itu sendiri atau pemain lain yang sangat dekat.

“Ini adalah situasi defleksi murni. Bola berubah arah secara mendadak setelah mengenai kaki pemain sebelum akhirnya menyentuh tangan. Dalam aturan terbaru, pemain diproteksi jika bola mengenai tangan secara tidak sengaja dalam posisi yang natural atau akibat pantulan yang tak terduga (unexpected ball),” tutur Pratap. Menurutnya, wasit telah jeli melihat bahwa tidak ada unsur kesengajaan atau upaya Alex Martins untuk membesarkan volume tubuhnya dengan tangan untuk mengontrol bola.

Tantangan Teknologi dalam Super League

Kasus ini kembali membuka diskusi mengenai urgensi implementasi teknologi yang lebih mumpuni di Super League Indonesia. Meskipun VAR sudah mulai diintegrasikan, namun keterbatasan jumlah kamera dan sudut pandang (angle) di stadion tertentu seringkali membuat bukti visual menjadi ambigu. Komite Wasit mengakui bahwa tanpa teknologi garis gawang yang otomatis, penilaian terhadap bola keluar atau masuk akan selalu bergantung pada mata manusia yang memiliki keterbatasan.

Yoshimi Ogawa pun mengajak media dan publik untuk lebih memahami kompleksitas tugas wasit. Ia menegaskan bahwa setiap keputusan yang diambil di bawah tekanan ribuan suporter dan tensi tinggi pertandingan bukanlah hal yang mudah. Workshop yang diadakan di GBK Arena tersebut bertujuan untuk menyelaraskan persepsi antara pengadil, media, dan suporter agar tidak terjadi misinformasi yang dapat mencederai integritas liga.

Menjaga Integritas Sepak Bola Nasional

Keputusan Komite Wasit PSSI untuk berdiri tegak di belakang keputusan wasit laga Dewa United vs Persib Bandung ini menunjukkan komitmen untuk melindungi perangkat pertandingan dari intimidasi opini publik, selama keputusan tersebut berdasar pada regulasi yang sah. Meskipun menyakitkan bagi pendukung Persib, penjelasan teknis ini diharapkan dapat meredam spekulasi mengenai adanya ‘permainan’ di balik layar.

Di sisi lain, Dewa United membuktikan bahwa mereka mampu bersaing di papan atas dengan permainan yang agresif, sementara Persib Bandung menunjukkan mentalitas juara dengan mampu mengejar ketertinggalan di tengah tekanan. Hasil imbang ini mungkin terasa adil bagi kedua tim jika melihat intensitas serangan yang dilancarkan sepanjang 90 menit.

Ke depannya, PSSI berjanji akan terus meningkatkan kualitas SDM wasit melalui pelatihan rutin dan evaluasi ketat setiap pekannya. Bagi klub dan suporter, pemahaman mendalam mengenai Laws of the Game menjadi sangat krusial agar kritik yang dilontarkan bersifat membangun dan bukan sekadar luapan emosi sesaat tanpa dasar aturan yang jelas.

Dengan berakhirnya klarifikasi ini, fokus kini kembali beralih ke persaingan menuju tangga juara Super League 2025/26. Setiap poin menjadi sangat berharga, dan setiap keputusan wasit akan selalu menjadi bumbu penyedap dalam drama sepak bola Indonesia yang tak pernah habis untuk dibahas.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *