Pasar Energi Global Bernapas Lega, Harga Minyak Dunia Terjun Bebas Pasca Pembukaan Selat Hormuz
WartaLog — Tensi tinggi di pasar energi global akhirnya mulai mereda. Kabar mengejutkan datang dari Timur Tengah setelah Iran secara resmi memutuskan untuk membuka kembali akses navigasi di Selat Hormuz. Keputusan strategis ini langsung memicu koreksi tajam pada instrumen komoditas energi, di mana harga minyak mentah dilaporkan merosot hingga 9 persen dari posisi sebelumnya.
Sentimen positif ini diperkuat oleh pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang mengklaim bahwa pihak Teheran telah mencapai kesepakatan untuk tidak lagi melakukan penutupan pada jalur nadi utama perdagangan minyak dunia tersebut. Langkah ini seolah menjadi oase di tengah kekhawatiran krisis energi yang sempat menghantui banyak negara importir dalam beberapa pekan terakhir.
Antisipasi Dampak May Day 2026: Strategi KAI Daop 1 Alihkan Penumpang ke Stasiun Jatinegara
Rincian Penurunan Harga Minyak Mentah
Berdasarkan data perdagangan pasar internasional, harga minyak mentah jenis Brent mengalami penurunan signifikan sebesar US$ 9,01 atau setara 9,07 persen, sehingga kini bertengger di level US$ 90,38 per barel. Pelemahan yang lebih dalam terjadi pada minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS, yang anjlok US$ 10,48 atau sekitar 11,45 persen ke posisi US$ 83,85 per barel.
Para analis melihat fenomena ini sebagai bentuk normalisasi pasar. Setelah sempat dibayangi ketakutan akan terhentinya pasokan, para pelaku pasar kini mulai melakukan penyesuaian terhadap realitas ketersediaan stok di lapangan. Analis dari Gelber & Associates, sebagaimana dikutip dari Reuters pada Sabtu (18/4/2026), menjelaskan bahwa pasar saat ini tengah memangkas premi risiko ekstrem yang sempat terbentuk akibat konflik geopolitik.
Waspada Penipuan Lowongan Kerja IKN, Otorita Ingatkan Masyarakat Tidak Terjebak Hoaks
Normalisasi Aliran Energi dan Dampak Geopolitik
“Pasar kini dengan cepat mengurangi premi risiko ekstrem yang sempat terbangun selama dua minggu terakhir. Fokus harga minyak mentah kini bergeser kembali ke arah penetapan harga berdasarkan normalisasi aliran aktual, bukan lagi sekadar spekulasi atas risiko gangguan,” ungkap lembaga analisis tersebut dalam laporannya.
Penurunan harian yang terjadi kali ini tercatat sebagai yang terbesar sejak awal April lalu. Sebelumnya, grafik harga minyak meroket tajam akibat aksi blokade Selat Hormuz oleh militer Iran. Penutupan jalur krusial tersebut merupakan buntut dari eskalasi serangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel di kawasan tersebut.
Konflik berkepanjangan di Timur Tengah memang telah memberikan tekanan luar biasa bagi ekonomi global. Banyak negara yang menggantungkan kebutuhan energinya pada impor sempat berada di ambang krisis energi yang serius. Namun, dengan dibukanya kembali akses pengiriman melalui Iran ini, dunia berharap stabilitas ekonomi makro dapat segera pulih dan rantai pasokan logistik kembali berjalan normal tanpa hambatan militer.
Strategi Berani Teheran: Selat Hormuz Kini Terapkan ‘Tol Bitcoin’ bagi Kapal Pengangkut Minyak