Amarah Joan Laporta Meledak, Sebut Kinerja Wasit Liga Champions Sebagai Skandal Memalukan

Sutrisno | WartaLog
16 Apr 2026, 05:24 WIB
Amarah Joan Laporta Meledak, Sebut Kinerja Wasit Liga Champions Sebagai Skandal Memalukan

WartaLog — Langkah raksasa Catalan, Barcelona, di kompetisi kasta tertinggi Eropa harus berakhir dengan rasa pahit. Bukan sekadar karena kekalahan skor, melainkan karena luka mendalam akibat serangkaian keputusan pengadil lapangan yang dinilai sangat merugikan. Presiden klub, Joan Laporta, tidak mampu lagi membendung amarahnya setelah timnya tersingkir secara dramatis dari babak perempat final Liga Champions.

Perjalanan Blaugrana dihentikan oleh rival domestik mereka, Atletico Madrid, dengan agregat tipis 2-3. Meski skuad asuhan Xavi Hernandez sempat memetik kemenangan 2-1 pada leg kedua yang berlangsung Rabu (15/4) dini hari WIB, hasil tersebut gagal menutupi defisit kekalahan 0-2 di leg pertama. Namun, di balik angka-angka tersebut, tersimpan bara protes yang dilayangkan Laporta terhadap kepemimpinan wasit Istvan Kovacs dan Clement Turpin.

Read Also

Mentalitas Juara! Inter Milan Segel Tiket Final Coppa Italia Setelah Comeback Dramatis Atas Como

Mentalitas Juara! Inter Milan Segel Tiket Final Coppa Italia Setelah Comeback Dramatis Atas Como

Dua Kartu Merah yang Mengubah Nasib

Dalam narasi kekecewaannya, Laporta menyoroti bagaimana intervensi wasit merusak integritas pertandingan. Barcelona harus bermain dengan sepuluh orang di kedua leg tersebut. Setelah Pau Cubarsi diusir pada pertemuan pertama, giliran Eric Garcia yang menerima kartu merah di leg kedua usai dianggap melanggar Alexander Sorloth.

“Pertama-tama, saya ucapkan selamat kepada Atlético Madrid atas keberhasilan mereka. Namun, itu tidak menghapus fakta bahwa kinerja wasit dalam laga ini benar-benar memalukan,” tegas Laporta dengan nada berapi-api sebagaimana dikutip dari laporan lapangan.

Menurutnya, keputusan wasit sering kali dipaksakan melalui intervensi VAR yang tidak perlu. Ia mencontohkan insiden Cubarsi yang awalnya hanya diganjar kartu kuning, namun berubah menjadi merah. “Keputusan itu merusak peluang kami secara total. Pada leg kedua, polanya pun serupa,” keluh sang presiden.

Read Also

Langkah Garuda Muda Menuju Arab Saudi: Daftar Final Skuad Timnas U-17 dan Haru di Balik Pencoretan Mierza

Langkah Garuda Muda Menuju Arab Saudi: Daftar Final Skuad Timnas U-17 dan Haru di Balik Pencoretan Mierza

Rentetan Kontroversi di Lapangan

Kekesalan Laporta tidak berhenti pada masalah kartu merah semata. Ia merinci sejumlah momen yang dianggapnya sebagai ‘perampokan’ terhadap hak-hak Barcelona di lapangan hijau, di antaranya:

  • Pembatalan Gol Ferran Torres: Laporta meyakini gol tersebut sah dan tidak seharusnya dianulir karena offside.
  • Insiden Penalti Dani Olmo: Adanya kontak di area terlarang terhadap Olmo yang diabaikan oleh Clement Turpin.
  • Pelanggaran Keras terhadap Fermin Lopez: Laporta mengecam permainan kasar pemain lawan yang membuat bibir Fermin robek tanpa ada tindakan tegas dari wasit.
  • Kartu Merah Eric Garcia: Ia berargumen bahwa Jules Kounde masih berada dalam posisi untuk mengejar bola, sehingga Eric bukan pemain terakhir (last man).

Langkah Tegas Menuju UEFA

Barcelona tampaknya tidak akan tinggal diam melihat timnya tersingkir dengan cara yang mereka anggap tidak adil. Laporta mengonfirmasi bahwa pihak klub akan mengajukan protes resmi lanjutan kepada UEFA. Sebelumnya, protes serupa pasca-leg pertama sempat ditolak, namun manajemen Barcelona bersikeras menuntut penjelasan lebih dalam.

Read Also

Drama Enam Gol di Merseyside: Manchester City Terpeleset, Harapan Gelar Juara Mulai Terancam

Drama Enam Gol di Merseyside: Manchester City Terpeleset, Harapan Gelar Juara Mulai Terancam

“Apa yang terjadi pada hari Selasa adalah pengulangan dari ketidakadilan sebelumnya. Kami akan meminta penjelasan lebih lanjut karena ini benar-benar tidak dapat diterima bagi klub sebesar Barcelona,” pungkasnya.

Kegagalan di Liga Champions ini pun meninggalkan luka mendalam bagi publik Camp Nou, yang kini harus fokus sepenuhnya pada kompetisi domestik sembari membawa tuntutan keadilan mereka ke meja hijau federasi sepak bola Eropa.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *