Mimpi Buruk Alexander Isak di Anfield: Hanya Lima Sentuhan Sebelum Liverpool Tersingkir
WartaLog — Harapan publik Anfield untuk menyaksikan keajaiban di kompetisi Eropa harus pupus dengan cara yang menyesakkan. Dalam laga krusial leg kedua perempatfinal Liga Champions melawan Paris Saint-Germain (PSG), Rabu (15/4) dini hari WIB, Liverpool tidak hanya harus menelan pil pahit tersingkir dari kompetisi, tetapi juga menyaksikan investasi besar mereka, Alexander Isak, tampil jauh di bawah ekspektasi.
Alih-alih menjadi pembeda, Isak justru tampil seperti ‘bayangan’ di lapangan. Penyerang asal Swedia itu seolah kehilangan orientasi dan gagal memberikan kontribusi berarti sebelum akhirnya ditarik keluar oleh manajer Arne Slot di awal babak kedua untuk digantikan oleh Cody Gakpo. Statistik mencatat sebuah kenyataan pahit: Isak hanya menyentuh bola sebanyak lima kali sepanjang babak pertama. Catatan yang sangat minim bagi seorang pemain yang memikul beban sebagai ujung tombak utama The Reds.
Buntut Tendangan Kungfu di EPA U-20, PSSI Desak Komdis Berikan Sanksi Maksimal
Kritik Pedas dari Sang Legenda
Penampilan buruk Alexander Isak ini tak luput dari pengamatan tajam Alan Shearer. Top skor sepanjang masa Liga Inggris tersebut melayangkan kritik pedas atas performa Isak yang dinilai tidak menunjukkan determinasi layaknya pemain di level tertinggi.
“Isak hampir tidak terlibat sama sekali dalam permainan. Hanya lima sentuhan di babak pertama adalah bukti bahwa dia tidak berbuat cukup di lapangan. Dia terlihat sangat tidak bugar,” ungkap Shearer sebagaimana dikutip dari laporan BBC. Shearer juga menyoroti keputusan Arne Slot yang terkesan memaksakan Isak bermain meskipun sang pemain baru saja pulih dari cedera.
Masalah Ketajaman yang Kronis
Kekalahan agregat 4-0 dari PSG—yang dipastikan lewat aksi brilian Ousmane Dembele yang mengemas brace—menyingkap lubang besar di lini serang Liverpool musim ini. Meski mendominasi dengan lima tembakan tepat sasaran, tak satu pun yang mampu dikonversi menjadi gol. Shearer menilai masalah utama Liverpool bukan hanya pada Isak, melainkan hilangnya kualitas di area kotak penalti lawan secara keseluruhan.
Krisis Tren Negatif Lyon: Paulo Fonseca Beri Teguran Keras untuk Endrick
“Inilah masalah klasik Liverpool sepanjang musim ini. Kualitas di kotak penalti lawan sangat rendah, mereka tidak tajam. Bandingkan dengan Dembele yang mampu memanfaatkan peluang sekecil apa pun menjadi gol,” tambah Shearer.
Investasi Besar yang Berujung Nihil Gelar
Kegagalan di Liga Champions ini sekaligus memastikan bahwa Liverpool akan mengakhiri musim 2025/26 tanpa raihan trofi. Ironisnya, manajemen klub telah menggelontorkan dana fantastis untuk memboyong nama-nama besar seperti Alexander Isak dan Hugo Ekitike demi memperkuat lini serang.
Isak, yang menyandang status sebagai pemain termahal di Liga Inggris saat ini, kini berada di bawah tekanan besar. Dengan rapor hanya mengemas tiga gol dari 19 laga di seluruh kompetisi, serta kegagalan mencetak satu gol pun di pentas Eropa, Isak perlahan mulai menjadi sasaran kritik sebagai penyebab merosotnya performa kolektif tim asal Merseyside tersebut.
Kisah Sedih Molineux: Wolverhampton Wanderers Resmi Terlempar dari Premier League