Ketegangan Memuncak: China Kecam Keras Blokade AS di Selat Hormuz sebagai Tindakan Berbahaya

Citra Lestari | WartaLog
15 Apr 2026, 09:21 WIB
Ketegangan Memuncak: China Kecam Keras Blokade AS di Selat Hormuz sebagai Tindakan Berbahaya

WartaLog — Eskalasi geopolitik di jalur pelayaran paling krusial dunia, Selat Hormuz, kini memasuki babak baru yang mengkhawatirkan. Pemerintah China secara terbuka melayangkan kritik pedas terhadap langkah Amerika Serikat (AS) yang menerapkan blokade ketat di kawasan tersebut. Beijing melabeli aksi Washington sebagai tindakan yang tidak hanya berbahaya, tetapi juga sangat tidak bertanggung jawab karena berpotensi memicu konflik yang lebih luas.

Manuver militer Amerika Serikat yang mencegat kapal-kapal dari dan menuju pelabuhan Iran sejak awal pekan ini dipandang China sebagai ancaman serius bagi stabilitas kawasan. Kementerian Luar Negeri China menegaskan bahwa blokade terhadap jalur vital tersebut berisiko menghancurkan kesepakatan gencatan senjata yang saat ini kondisinya sudah sangat rapuh.

Read Also

Strategi Belanja Cerdas: Cara Hemat Penuhi Kebutuhan Harian Tanpa Menguras Kantong

Strategi Belanja Cerdas: Cara Hemat Penuhi Kebutuhan Harian Tanpa Menguras Kantong

Visi Beijing: Gencatan Senjata sebagai Solusi Tunggal

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menyatakan bahwa pendekatan konfrontatif tidak akan menyelesaikan masalah. Menurut laporan yang dihimpun tim redaksi, ia menekankan bahwa hanya dengan gencatan senjata secara menyeluruh, ketegangan di Timur Tengah dapat diredakan secara efektif.

“China sangat meyakini bahwa penghentian perang secara komprehensif adalah satu-satunya jalan untuk menciptakan kondisi yang kondusif di selat tersebut,” ujar Jiakun dalam sebuah pernyataan resmi. Ia juga menepis tuduhan miring mengenai keterlibatan China dalam menyuplai senjata ke Republik Islam Iran, dan menyebut laporan tersebut sebagai spekulasi yang sepenuhnya dikarang atau tanpa dasar.

Dampak Ekonomi dan Ketergantungan Energi

Kemarahan China bukannya tanpa alasan. Sebagai pembeli minyak mentah terbesar dari Iran, blokade yang dilakukan AS menghantam langsung kepentingan ekonomi Negeri Tirai Bambu tersebut. Pemutusan pasokan energi secara sepihak ini diprediksi akan memberikan efek domino terhadap stabilitas ekonomi domestik China yang sangat bergantung pada kelancaran arus logistik di Selat Hormuz.

Read Also

BCA Unjuk Gigi di Awal 2026: Laba Rp 14,7 Triliun dan Komitmen Kredit Hijau yang Melaju Pesat

BCA Unjuk Gigi di Awal 2026: Laba Rp 14,7 Triliun dan Komitmen Kredit Hijau yang Melaju Pesat

Langkah agresif militer AS ini sejatinya bertujuan untuk menekan Iran agar bersedia membuka kembali jalur selat secara penuh. Namun, waktu pelaksanaannya dianggap sangat provokatif, mengingat baru saja ada jeda permusuhan yang disepakati pada awal April lalu. Kegagalan pembicaraan damai di Islamabad pada akhir pekan sebelumnya tampaknya menjadi katalisator bagi Washington untuk mengambil tindakan lebih keras melalui blokade militer.

Reaksi Pasar Minyak Global

Di tengah carut-marutnya situasi diplomatik ini, pasar energi dunia menunjukkan pergerakan yang fluktuatif. Meskipun terjadi ketegangan militer, harga minyak mentah justru terpantau mengalami koreksi tipis di bawah angka US$ 100 per barel. Munculnya laporan mengenai kemungkinan adanya resolusi diplomatik menjadi faktor penahan lonjakan harga.

Read Also

IHSG Terperosok ke Level 6.900: Badai Royalti Minerba dan Gejolak Global Jadi Pemicu Utama

IHSG Terperosok ke Level 6.900: Badai Royalti Minerba dan Gejolak Global Jadi Pemicu Utama

Minyak mentah Brent, sebagai patokan internasional, mencatatkan penurunan sekitar 1% menjadi US$ 98,44. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei juga merosot 2,6% ke level US$ 96,48 per barel. Para pelaku pasar kini terus memantau perkembangan di Timur Tengah, mengingat setiap perubahan kecil di Selat Hormuz dapat berdampak besar pada indeks harga minyak global.

Hingga saat ini, komunitas internasional masih menunggu apakah ada ruang bagi diplomasi sebelum situasi di salah satu jalur perdagangan tersibuk di dunia ini benar-benar meledak menjadi konflik terbuka.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *