Borong 25 Medali di Thailand, Atlet Para Angkat Berat Indonesia Mantapkan Langkah Menuju Nagoya

Sutrisno | WartaLog
14 Apr 2026, 14:22 WIB
Borong 25 Medali di Thailand, Atlet Para Angkat Berat Indonesia Mantapkan Langkah Menuju Nagoya

WartaLog — Panggung olahraga disabilitas internasional kembali bergetar oleh prestasi gemilang para pendekar Merah Putih. Dalam ajang bergengsi World Para Powerlifting Asia-Oceania Open Championship yang digelar di Bangkok, Thailand, Tim Indonesia berhasil menorehkan tinta emas dengan membawa pulang total 25 medali. Capaian impresif ini bukan sekadar koleksi prestasi, melainkan sinyal kuat kesiapan mental dan fisik para atlet menuju Asian Para Games 2026.

Dominasi di Klasemen dan Kebangkitan Atlet Muda

Berlangsung sepanjang 7 hingga 12 April 2026, kontingen Indonesia menunjukkan taringnya dengan mengoleksi enam medali emas, empat perak, dan 15 perunggu. Hasil ini menempatkan Indonesia kokoh di peringkat ke-10 klasemen akhir, sebuah pencapaian yang patut diapresiasi di tengah persaingan ketat negara-negara raksasa Asia-Oceania.

Read Also

Teka-teki Destinasi Baru Mohamed Salah: Antara Ambisi Eropa, Godaan Saudi, atau Eksotisme Amerika

Teka-teki Destinasi Baru Mohamed Salah: Antara Ambisi Eropa, Godaan Saudi, atau Eksotisme Amerika

Sorotan tajam tertuju pada sosok Abdul Hadi. Bertarung di kelas 49 kg putra, ia mempertontonkan kekuatan luar biasa dengan angkatan terbaik mencapai 179 kg. Kekuatan bahu dan ketenangan mentalnya berhasil mengonversi dua medali emas sekaligus, yakni pada kategori best lift elite open dan best lift Asia. Kemenangan ini membuktikan bahwa Indonesia memiliki tulang punggung yang tangguh di sektor putra.

Rekor Dunia dari Sang ‘Rookie’ Fenomenal

Tak hanya atlet senior, kejutan besar lahir dari tangan dingin atlet muda berbakat, Delima Yunia Susanti. Gadis kelahiran 2010 ini berhasil mengguncang dunia dengan mengangkat beban seberat 93 kg. Prestasi tersebut tidak hanya membuahkan empat medali emas, tetapi juga secara resmi memecahkan rekor dunia pada kategori rookie kelas 79 kg putri.

Read Also

Skandal Ruang Ganti Real Madrid: Kronologi Lengkap Baku Hantam Federico Valverde dan Aurelien Tchouameni yang Berujung Rumah Sakit

Skandal Ruang Ganti Real Madrid: Kronologi Lengkap Baku Hantam Federico Valverde dan Aurelien Tchouameni yang Berujung Rumah Sakit

Dominasi Delima terlihat nyata saat ia menyapu bersih kemenangan di kategori best lift rookie open, best lift rookie Asia, total lift rookie open, hingga total lift rookie Asia. Kehadirannya seolah menjadi bukti bahwa regenerasi atlet para angkat berat Indonesia berjalan di jalur yang sangat tepat.

Strategi Menuju Puncak Asia dan Dunia

Pelatih kepala para angkat berat Indonesia, Coni Ruswanta, memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas perjuangan anak asuhnya. Menurutnya, hasil di Thailand merupakan barometer krusial untuk memetakan kekuatan lawan, terutama menghadapi dominasi Uzbekistan dan China yang masih menjadi pesaing terberat.

“Berdasarkan perhitungan kami, insya Allah seluruh atlet yang berlaga di sini memiliki peluang besar untuk lolos ke Nagoya sesuai target. Kami melihat perkembangan signifikan, terutama dari Abdul Hadi yang kini menempati peringkat elite dunia, serta Delima yang di usia 16 tahun sudah mampu mencetak rekor dunia,” ujar Coni.

Read Also

Dingin di Puncak: Strategi Tanpa Euforia Manchester City Usai Kudeta Arsenal di Liga Inggris

Dingin di Puncak: Strategi Tanpa Euforia Manchester City Usai Kudeta Arsenal di Liga Inggris

Menatap Masa Depan: Nagoya hingga Los Angeles

Dengan waktu tersisa sekitar lima bulan sebelum pembukaan Asian Para Games 2026 di Nagoya, tim kepelatihan akan segera mengalihkan fokus program latihan. Jika sebelumnya fokus utama adalah mencapai kualifikasi, kini intensitas latihan akan diarahkan sepenuhnya pada strategi perburuan medali emas.

Selain target di Asia, Indonesia juga sudah mulai menyusun visi jangka panjang. Target ambisius pun ditetapkan: meloloskan setidaknya empat atlet ke ajang Paralympic Los Angeles 2028 dengan mengincar posisi di ranking sembilan besar dunia. Meski beberapa atlet baru sempat merasakan ketegangan panggung internasional, Coni optimis kematangan teknik mereka akan terus meningkat seiring bertambahnya jam terbang di level yang lebih tinggi.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *