Aksi Nekat Konvoi Pejabat Berhenti di Sitinjau Lauik: Antara Eksistensi dan Bahaya Maut yang Mengintai
WartaLog — Jalur legendaris Sitinjau Lauik kembali menjadi perbincangan hangat di jagat maya. Namun, kali ini bukan karena kepiawaian para sopir truk menaklukkan tanjakan ekstrem, melainkan ulah rombongan konvoi kendaraan mewah yang nekat berhenti tepat di titik paling berbahaya demi sebuah foto dokumentasi.
Baru-baru ini, sebuah video viral memperlihatkan deretan mobil SUV kelas atas seperti Toyota Fortuner dan Kijang Innova yang diduga membawa rombongan pejabat, berhenti tepat di tengah tikungan tajam dan tanjakan curam Sitinjau Lauik. Ironisnya, rombongan ini mendapatkan pengawalan resmi dari mobil patwal polisi yang terus membunyikan sirene, seolah memberikan legitimasi atas tindakan yang memicu perdebatan publik tersebut.
Eksistensi di Atas Keselamatan Umum
Dalam rekaman yang beredar luas, tampak beberapa orang turun dari kendaraan untuk berpose di tengah jalan. Padahal, di saat yang sama, kendaraan berat seperti truk ekspedisi harus tertahan di kedua arah, menunggu rombongan tersebut selesai mengabadikan momen. Suasana yang biasanya tegang karena medan jalan yang sulit, berubah menjadi ironis ketika kepentingan pribadi mengabaikan keselamatan berkendara pengguna jalan lainnya.
Misi Mulia di Balik Aspal: Pasutri Penjelajah Tempuh 65.000 Km Demi Angkat Derajat UMKM Kuliner Nusantara
Kritik pedas datang dari berbagai pihak, termasuk praktisi keselamatan jalan raya. Sony Susmana, Director Training Safety Defensive Consultant Indonesia (SDC), menegaskan bahwa apa yang dilakukan rombongan tersebut adalah contoh nyata dari unsafe act atau tindakan tidak aman.
“Sitinjau Lauik itu bukan sekadar jalan biasa. Tikungannya tajam, tanjakannya curam, dan permukaannya seringkali licin. Area tersebut harus benar-benar steril dari kendaraan yang berhenti secara sengaja, apalagi di lokasi yang bukan peruntukannya,” tegas Sony kepada tim WartaLog.
Risiko Rem Blong dan Gagal Tanjak
Menurut Sony, berhenti di area Sitinjau Lauik sama saja dengan menjemput bahaya. Wilayah ini dikenal sebagai zona merah kecelakaan, di mana insiden rem blong atau kendaraan gagal menanjak sering terjadi. Jika ada kendaraan besar yang mengalami kendala teknis dari arah atas atau bawah, mobil-mobil yang berhenti sembarangan tersebut akan menjadi target utama kecelakaan.
Update Harga BBM Diesel 2 Mei 2026: BP dan VIVO Tembus Rekor Rp 30 Ribu Per Liter
“Banyak kendaraan yang celaka di sana karena faktor teknis. Jika mereka berhenti di situ hanya untuk foto-foto, mereka memposisikan diri sebagai target kecelakaan yang sangat rentan,” tambahnya.
Teguran Keras untuk Petugas Pengawal
Belakangan terungkap bahwa rombongan yang melakukan aksi tersebut diduga melibatkan eks anggota DPR, Arteria Dahlan. Direktur Lalu Lintas Polda Sumbar, Kombes M Reza Chairul, membenarkan adanya insiden tersebut yang terjadi saat rombongan sedang menuju wilayah Solok Kota.
Meskipun ada dalih bahwa berhenti sejenak adalah hal yang biasa dilakukan pengemudi untuk memberikan apresiasi kepada warga sekitar yang membantu mengatur lalu lintas, namun tindakan berhenti di titik kritis tetap tidak dapat dibenarkan dari sisi protokoler keselamatan.
Sentuhan Baru Suzuki Avenis 125: Transformasi Estetika dan Performa Skutik Urban yang Makin Sporty
Sebagai bentuk pertanggungjawaban, Kombes Reza menyatakan telah melayangkan teguran keras kepada jajaran Satlantas Polres Solok Kota yang melakukan pengawalan. Kapolres dan Kasatlantas setempat kini menjadi pihak yang dimintai keterangan terkait izin penghentian rombongan di jalur rawan tersebut.
Kejadian ini menjadi pengingat bagi siapa saja, termasuk pejabat negara, bahwa aturan keselamatan di jalan raya tidak mengenal pengecualian. Konvoi mobil yang dikawal polisi seharusnya menjadi contoh tertib berlalu lintas, bukan justru menciptakan risiko baru di jalur yang sudah berbahaya.