Ambisi Koperasi Merah Putih Terbentur Realita, KSP Ungkap Tiga Masalah Krusial
WartaLog — Program ambisius pemerintah untuk menghadirkan jaringan Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdes) Merah Putih di seluruh penjuru tanah air nampaknya harus berhadapan dengan kenyataan pahit di lapangan. Target besar yang dicanangkan kini terancam meleset jauh dari jadwal yang telah ditetapkan sebelumnya.
Kepala Staf Presiden (KSP), Muhammad Qodari, secara blak-blakan membeberkan sejumlah hambatan serius yang menjadi batu sandungan dalam pengembangan gerai Koperasi Merah Putih. Berdasarkan hasil penelusuran mendalam yang dilakukan tim KSP secara diam-diam atau incognito pada akhir Desember 2025 lalu, ditemukan fakta bahwa ekosistem kebijakan yang ada saat ini belum mampu menopang akselerasi program tersebut.
Tiga Masalah Utama di Balik Kelambatan
Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XIII pada Senin (13/4/2026), Qodari menggarisbawahi tiga isu fundamental yang menjadi ‘biang kerok’ tersendatnya proyek ini: aspek lahan, permodalan, dan model bisnis yang belum matang.
Misteri Kapal Pesiar ‘Nord’: Mengapa Superyacht Teman Dekat Putin Bisa Melenggang Bebas di Selat Hormuz yang Terblokade?
“Dari pengecekan di lima lokasi yang tersebar di tiga provinsi, yakni DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat, kami menemukan bahwa seluruh koperasi tersebut belum memiliki status lahan yang clean and clear,” ungkap Qodari. Ia menambahkan bahwa banyak gerai yang saat ini berdiri di atas aset tanpa dasar hukum yang kuat, sebuah kondisi berisiko tinggi yang dapat memicu masalah audit di masa depan serta menghambat kucuran pembiayaan dari lembaga keuangan.
Data Realisasi yang Jauh dari Ekspektasi
Pemerintah awalnya mematok target yang sangat tinggi, yakni membangun sekitar 80.000 hingga 83.000 gerai Kopdes Merah Putih. Namun, data terbaru menunjukkan jurang yang lebar antara rencana dan realisasi:
Anindya Bakrie ‘Curhat’ ke Luhut: Pengusaha Nasional Butuh Ruang Napas di Tengah Tekanan Ekonomi
- Total Target: 80.000 – 83.000 gerai.
- Lokasi Teridentifikasi: 50.000 titik.
- Dalam Proses Pembangunan: 34.000 gerai.
- Selesai 100%: Hanya 4.000 gerai.
Qodari mengakui bahwa pembebasan lahan, terutama di kawasan perkotaan yang padat, menjadi tantangan paling berat bagi pemerintah pusat. Dengan hanya 4.000 unit yang rampung sepenuhnya, artinya realisasi fisik program ini bahkan belum menyentuh angka 10 persen dari target awal yang diharapkan selesai pada Maret 2026.
Gagal Penuhi Target Maret 2026
Kini, saat kalender telah memasuki bulan April 2026, kekhawatiran yang sempat muncul pada akhir tahun lalu akhirnya terbukti. Pemerintah secara resmi mengakui bahwa target pembangunan gerai permanen yang seharusnya tuntas bulan lalu tidak dapat tercapai secara penuh.
“Sejak Desember sebenarnya kami sudah mengantisipasi bahwa target Maret itu sulit untuk dikejar. Dan sekarang, di awal April ini, apa yang kami khawatirkan memang menjadi kenyataan,” pungkas Qodari dengan nada prihatin. Meski demikian, evaluasi terus dilakukan agar program yang bertujuan untuk menekan angka kemiskinan ekstrem ini tetap bisa berjalan meskipun harus melakukan penyesuaian strategi dan lini masa.
Sinergi Strategis BCA Digital dan Monit: Hadirkan Kartu bluCorporate untuk Solusi Efisiensi Bisnis